Pages

Ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong

1 komentar
 

Sabdo Palon Noyo Genggong
(lima abad sudah Buddha Dharma kembali ditanah Jawa)



 (relief Sabdo Palon dan Noyo Genggong pada candi sukuh)

1. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.


2. Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”
(Sabdo Palon versi Jawa yaitu Semar)

3. Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.

4. Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi, saya sebar seluruh tanah Jawa.
(Sabdo Palon Versi Bali Yaitu Tualen/Malen)

5. Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.

6. Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah 
pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.

7. Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

8. Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.

9. Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.

10. Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.

11. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

12. Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.

13. Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

14. Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.

15. Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.

16. Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi diriya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.

Readmore...

Agama Majapahit

0 komentar
 
Agama Majapahit


Majapahit banyak meninggalkan tempat-tempat suci, sisa-sisa sarana ritual keagamaan masa itu. Bangunanbangunan suci im dikenal dengan nama candi, pemandian suci (patirthan) dan gua-gua pertapaan. Selain itu terdapat pula sisa-sisa bangunan lain, misalnya pintu gerbang yang kadangkala disebut candi pula.
Bangunan-bangunan suci masa Majapahit ini kebanyakan bersifat agama Siwa, dan sedikit yang bersifat agama Buddha, antara lain Candi Jago. Candi Bhayalangu, Candi Sanggrahan dan Candi Jabung, Sifat keagamaan itu kita ketahui antara lain dan ciri-ciri arsitektural, arca-arca yang ditinggalkan, relief candi, dan dukungan bukti data tekstual, misalnya Kakawin Nagarakrtagama, Kakawin Arjunawijaya, Kakawin Sutasoma dan sedikit berita prasasti.
Di samping perbedaan latar belakang keagamaan, terdapat pula perbedaan status dan fungsi bangunan suci. Berdasarkan status bangunan-bangunan suci, kita dapat kelompokkan menjadi dua, yaitu bangunan yang dikelola oleh pemerintah pusat dan yang berada di luar kekuasaan pemerintah pusat. Bangunan suci yang dikelola oleh pemerintah pusat ada 2 macam yaitu:
1. Dharma -Dalm (Arj. XXIII:2a), yaitu bangunan suci yang diperuntukkan bagi raja beserta keluarganya. Menurut Nagarakretagama, setiap bangunan suci dikelola oleh seorang sthapaka dan seorang wiku raja (wiku haji) dan secara keseluruhan diawasi oleh seorang dharmadhyaksa di istana. Jumlah Dharma-Haji ini ada 27 buah diantaranya Kegenengan, Kidal, Jajadhu, Pikatan, Weleri, Sukalila, Kumitir (Pigeaud I, 1960:57).
2. Dharma-Ipas adalah bangunan suci yang dibangun di atas tanah wakaf (bhudana) pemberian raja untuk para rsi-saiwa-sogata, untuk memuja dewa-dewa dan untuk mata pencaharian mereka (pakajiwita) (Soepomo I, 1997:123). Dharma-Ipas kasaiwan dikelola oleh seorang dharmadhyaksa ring kasaiwan, Dharma-Ipas kasogatan dikelola oleh seorang dharmadhyaksa ring kasogatan dan Dharma-Ipas karesyan dikelola oleh mantri-her-haji (Pigeaud 1, 1960-58).
Bangunan/tempat suci yang berada di luar pengelolaan pemerintah pusat kebanyakan adalah milik para rsi (pertapa wanaprastha) antara lain mandala, katyagan, janggan. Secara umum bangunan/tempat suci ini disebut patapan atau wanasrama karena letaknya yang terpencil. Mandala yang dikenal sebagai kadewaguruan adalah tempat pendidikan agama yang dipimpin oleh seorang siddharsi yang disebut pula dewaguru (Santiko 1986, 1990).
Berdasarkan fungsinya, candi-candi masa Majapahit dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu:
1. Candi-candi yang mempunyai 2 fungsi (fungsi ganda) yaitu sebagai pendharmaan raja dan keluarganya, serta sekaligus sebagai; Kuil pemujaan dewa. Yang termasuk candi ganda antara lain Candi Jagi, Candi Pari, Candi Rimbi, dan Candi Simping (Sumberjati). Ciri candi kelompok ini adalah adanya tubuh candi dan ruang utama (garbhagrha) untuk menempatkan sebuah area pendharmaan perwujudan (dewawimbha).

2. Candi-candi yang hanya berfungsi sebagai kuil pemujaan, pada umumnya tidak mempunyai garbhagrha dan arca perwujudan, tubuh candi diganti dengan altar dan/atau miniatur candi.Candi-candi kuil ini kebanyakan dipakai oleh para rsi dan terletak dilereng-lereng gunung, misalnya di lereng gunung Pananggungan, Lawu, Wilis dan sebagainya (Santika 1998).
Pejabat Keagamaan dan Agamawan di Majapahit
Berdasarkan sumber tertulis, raja-raja Majapahit pada umumnya beragama Siwa dan aliran Siwasiddhanta, kecuali ratu Tribhuwanotunggadewi (ibunda Hayamwuruk) beragama Buddha Mahayana. Walaupun begitu agama Siwa dan agama Buddha tetap menjadi agama resmi kerajaan hingga sekitar tahun 1447, karena pejabat kedua agama itu terutama pejabat Buddha disebut terakhir kali dalam prasasti Waringin Piti (Hasan Djafar 1986 : 239-258). Saat pemerintahan Raden Wijaya (Kertarajasa), ada 2 pejabat tinggi Siwa dan Buddha, yaitu Dharmadyaksa ring Kasaiwan dan Dharmadyaksa ring Kasogatan, kemudian 5 pejabat Siwa di bawahnya yang secara keseluruhan disebut Dharmapapati atau Dharmadhikarana. Lima pejabat Siwa ini pada pemerintahan Tribhuwana di tambah 2 orang dari agama Buddha, sehingga jumlahnya menjadi 7 orang dan secara berkelompok disebut Sang Saptopapati (Van Naersen 1933:239-258).
Disamping pejabat resmi keagamaan, terdapat pula para agamawan, walaupun tidak resmi mempunyai kedudukan dalam struktur birokrasi pemerintahan Majapahit, tetapi mempunyai peranan penting di lingkungan istana. Dalam sumber tertulis mereka disebut berkelompok, ada yang berkelompok 3 disebut tripaksa yaitu rsi-saiwa-sagata dan kelompok 4 disebut catur dwija yaitu mahabrahmana (wipra) saiwa-sogata-rsi. Kehadiran mereka secara resmi telah disebut dalam prasasti-prasasti Airlangga. Kelompok rsi dalam prasasti Airlangga disebut walkali atau walkaladhara (berpakaian kulit kayu). Rsi di sini bukan rsi tokoh mitos seperti Narada, Vivamitra, Kasyapa dan sebagainya, tetapi para pertapa yang sedang menjalani tahap hidup wanaprastha dan sanyasin atau bhiksuka (Santiko 1986, 1990).
Mahabrahmana yang disebut juga wira, adalah pendeta ahli Weda, agama dan filsafat Hindu; mungkin sebagian didatangkan dan India dan mungkin bertindak sebagai purohita di istana Majapahit. Dalam Nagarakrtagama pupuh XII:I disebutkan seorang pendeta (dwija) Siwa bernama Sri Brahmaraja, dan dalam pupuh LXXXIII:3, mengatakan bahwa 3 orang dwija diketuai oleh Sri Brahmanaja, seorang ahli dalam ajaran agama, filsafat Nyaya, Samikhyatarka Wyakarana dan ajaran Weda, mereka tinggal di istana dan sangat dihormati. Menurut Pigeaud kemungkinan mereka datang dari India (Pigeaud I, 1960:64, IV 1962:269-270). Nama Sri Brahmaraja terdapat pula pada prasasti Nglawang kira-kira dari tahun 1350, dan prasasti Ptak dan Jiu yang dikeluarkan pada tahun 1486. Dan beberapa sumber ini dianggap bahwa Sri Brahmaraja Ganggadhara dalam kedua prasasti terakhir berbeda dengan Sri Brahmaraja yang datang ke istana Majapahit masa Hayam Wuruk.
Agama Siwa Buddha
Pembaharuan / pertemuan agama Siwa dan agama Buddha pertama kali terjadi pada masa pemerintahan raja Krtanagara, raja Singasari terakhir. Apa maksudnya mempertemukan kedua agama tersebut belum jelas, mungkin disamping sifat toleransinya yang sangat besar, juga terdapat alasan lain yang lebih bersifat politik, yaitu untuk memperkuat din dalam menghadapi musuh dan Cina, Kubilai Khan. Untuk mempertemukan kedua agama itu, Krtanagara yang bernama Buddha Mahayana Tantrayana, membuat candi Siwa-Buddha yaitu Candi Jawi di Prigen dan Candi Singasari, dekat kota Malang. Dalam Nagarakrtagama pupuh LV:Id dikatakan.. entun yang dwaya saiwa budha sang amuja nguni satata artinya “itu sebabnya kedua (pemeluk) Siwa dan Buddha dahulu melakukan puja secara teratur”. Puja teratur dilakukan oleh para penganut Siwa maupun Buddha di Candi Jawi tersebut. Candi Siwa-Buddha seperti yang dibuat oleh Krtanagara memang tidak dijumpai pada jaman Majapahit, tetapi, uniknya, candi yang bersifat Buddha masa Majapahit tidak segan-segan menghias dindingnya dengan relief cerita yang bersifat Siwa dan begitu sebaliknya. Misalnya Candi Jago yang bersifat Buddha menghias dinding candinya dengan relief cerita Arjunawiwaha, Parthayajna dan Kalayanawanantaka yang semua cerita Siwa. Sebaliknya Candi Panataran yang bersifat agama memahat cerita Bubuksah Gagangaking yang bersifat Buddha di dinding salah satu bangunan candi tersebut.
Pembauran Agama Siwa-Buddha ini sebenarnya hanyalah sebatas mempersamakan kenyataan tertinggi (the Supreme Being) kedua agama beserta segala emanasinya, disertai pembauran beberapa konsep kedua agama tersebut, namun bukan pembauran seluruh sistem. Kedua agama tersebut masih tetap eksis dengan penganut masing-masing yang menjalankan tata upacara sesuai ajaran dan aturan agama mereka, demikian pula mereka masih tetap memiliki bangunan-bangunan suci sendiri.
Pembauran agama Siwa-Buddha pada jaman Majapahit antara lain terlihat pada cara mendharmakan raja dan keluarganya yang wafat pada 2 candi yang berbeda sifat keagamaannya. Misalnya Kertarajasa, raja pertama Majapahit, di-dharmakan di Candi Sumberjati (Simping) sebagai wujud Siwa (Siwawimbha) dan Antahpura sebagai Buddha. Raja Jayabaya, raja ke dua Mahapahit, di-dharmakan di Shila Ptak sebagai Wisnu dan di Sukhalila sebagai Buddha. Mewujudkan raja yang wafat sebaligus sebagai Siwa dan Buddha membuktikan adanya kepercayaan dimana Kenyataan Tertinggi dalam agama Siwa maupun Budha tidaklah berbeda, seperti yang disebut dalam Kakawin Sutasoma pupuh CXXXIX “hyang budha tan pahi lawan siwa rajadewa “.
Agama Siwasiddhanta
Agama Siwa yang berkembang dan dipeluk oleh raja-raja Majapahit adalah agama Siwadiddhanta (Siddhantatapaksa) yang mulai berkembang di Jawa Timur pada masa raja Sindok (abad X). Sumber ajaran agama Siwasiddhanta adalah kitab Tutur (Smrti), dan yang tertua adalah Tutur Bhwanakosa yang disusun pada jaman Mpu Sindok dan yang termuda dan terpanjang adalah Tutur Jnanasiddanta yang disusun pada jaman Majapahit. Ajaran Agama ini sangat dipengaruhi oleh Saiwa Upanisad, Vedanta dan Samkhya. Kenyataan Tertinggi agama ini disebut Paramasiwa yang disamakan dengan suku kata suci OM. Sebagai dewa tertinggi Siwa mempunyai 3 hakekat (tattwa) yaitu:
• Paramasiwa-tattwa yang bersifat tak terwujud (niskala);
• Sadasiwa-tattwa yang bersifat berwujud-tak terwujud (sanakalaniskala);
• Siwa-tattwa bersifat berwujud (sakala);
Disamping membicarakan tattwa Siwa, Tutur membicarakan pula tentang pencapaian kalepasan, yaitu kesempurnaan yang dicapai waktu masih hidup; kamoksan, yaitu kesempurnaan setelah meninggal; peleburan diri dalam kehampaan (Sunya), yang dalam sumber tertulis disebut dengan istilah mulih atau mantuk, misalnya mantuk ing Siwapada, mantuk ring swargga loka. Salah satu usaha pencapaian kelepasan dan kamoksan adalah dengan cara pemujaan lingga yang dapat melenyapkan dosa (kiesa). Apa yang ditulis dalam Tutur diajarkan oleh para siddharsi (dewaguru) di mandala-mandala (kadewaguruan). Disamping diberi pengertian tentang Paramasiwa yang juga disebut pula sebagai Bhatara Guru atau Hyang Jagatparamana, diajarkan pula pada para murid (sisya, kaki, endang) tata upacara yang harus dilakukan sebelum berkomtemplasi tentang pembebasan jiwa, yoga dan pengetahuan-pengetahuan spiritual yang tinggi.
Di samping agama Siwa, terdapat pula agama Waisnawa yang memuja dewa Wisnu, tetapi tidak sepenting agama Siwa. Dalam agama Siwa, Wisnu hanya dipuja sebagai dewa pelindung (istadewata) bagi para raja serta pahlawan, bukan sebagai dewa tertinggi, karena fungsi Wisnu sebagai dewa pelindung dunia.

• Oleh : Hariani Santiko
   WHD. No. 488 Agustus 2007.
Readmore...

HUKUM KARMA (menurut ajaran Buddha Gotama)

0 komentar
 

I. PENGERTIAN UMUM
Dalam Anggutara Nikaya III : 145, Buddha bersabda, “Oh, para Bhikkhu kehendak untuk berbuat itulah yang kami namakan karma, setelah dengan kehendak orang melakukan perbuatan lewat pikiran, ucapan dan tubuh jasmani.
Perbuatan yang dilakukan tersebut menjadi benih bagi pembuat dan tersimpan dengan baik. Setiap saat memiliki kemungkinan untuk tumbuh. Meskipun untuk tumbuh dibutuhkan kondisi yang sesuai, antara lain benih perbuatannya telah matang, keadaan mendukung atau telah waktunya, maka sangat sulit bagi siapapun untuk terhindar dari hasil perbuatannya tersebut. Seperti halnya benih tanaman, apabila benihnya unggul, lahan subur, unsur hara yang cukup, cuaca sesuai dan kadar air cukup, maka benih tersebut dapat tumbuh mencari tanaman dengan sendirinya.

Umumnya kita sering mengeluh mengenai apa yang telah kita lakukan dan banyaknya liku-liku perjalanan hidup yang dialami selama ini. Mengapa perbuatan baik yang telah dilakukan tidak berbuah ?” Sementara orang yang hidupnya tidak sesuai dengan Dharma kelihatannya begitu berbahagia atas perbuatan jahatnya dan tidak ada tanda-tanda mengalami halangan apapun. Kalau mau dikatakan lancar-lancar saja hidupnya. Meskipun ada gangguan atau halangan tetapi tidak begitu berarti. Pernyataan ini tidak bermaksud untuk mendoakan agar mereka celaka, tetapi hanya sebagai pembanding atas keadaan yang kita terima. Apalagi dengan mereka yang hidupnya sesuai dengan Dharma, mereka menjalani kehidupan secara jujur, benar dan beretika. Tetapi mengapa kenyataan hidup yang diterimanya jauh berbeda, malah lebih sering terlihat dimanfaatkan oleh orang lain. Apalagi kalau dilihat dari sisi pengumpulan materi jelas kekayaan mereka jauh tertinggal.

Keluhan terbesar yang lainnya, yaitu Mengapa dalam kehidupan ini selalu saja ada masalah yang terjadi ?” Apakah ada akhir dari permasalahan tersebut !” Memang itulah dilema yang sering kita jumpai. Jarang sekali kita temukan orang yang dapat merasa puas terhadap keadaan yang telah mereka terima. Lebih banyak mereka melihat keluar dan ke atas, tidak pernah mau melihat ke bawah.

Terlepas dari persepsi apapun, setiap orang bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya sendiri. Mereka tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan oleh orang lain. Termasuk orang-orang yang memiliki hubungan keluarga terdekat. Mereka tidak akan memetik perbuatan yang tidak dilakukannya sendiri. Karena karma yang telah dilakukan tidak akan tertukar dengan karma orang yang lain. Seperti orang yang rajin belajar dan pandai dengan orang yang bodoh dan pemalas.  Hasil akhir orang yang rajin dan pandai dia akan menjadi juara di kelasnya sementara yang malas dan bodoh mereka akan tertinggal. Jadi, kepintaranya tidak akan tertukar dengan orang yang bodoh.

Dengan pengertian tersebut, sebetulnya kita tidak perlu merasa takut terhadap akibat yang akan terjadi. Mengapa ? Karena apa pun yang kita alami adalah hasil dari perbuatan kita sendiri, bukan berasal dari orang lain. Kita tidak menerima keburukan atau kejahatan yang orang lakukan. Apa yang kita terima selama ini adalah hasil dari perbuatan kita sendiri,  kita memetik atas jerih payah sendiri. Makanya dalam karma disebutkan kita adalah pemetik, penerima, ahli waris dari perbuatan yang kita lakukan. Baik atau buruk perbuatan itulah yang akan kita alami. Hal ini dapat kita lihat pada Culakammavibhanga Sutta, Majjhima Nikaya, berbunyi sebagai berikut : ‘…, setiap makhluk adalah Pemilik Karmanya Sendiri, Pewaris Karmanya Sendiri, Lahir dari Karmanya Sendiri, Berhubungan dengan Karmanya Sendiri dan Terlindung oleh Karmanya Sendiri. Karma yang menentukan makhluk-makhluk, menjadikan mereka Hina dan Mulia’  

Kalau kita bertanggung jawab atas perbuatan sendiri, hal ini adalah tepat, adil dan sangatlah logis. Berbeda kalau kita menerima hasil dari perbuatan orang lain. Tidak ada kemungkinan kita berbuat apapun karena kita tidak memiliki kehendak bebas. Kalau hal tersebut terjadi kita hanya bisa pasrah saja terhadap apa yang akan terjadi nantinya. Tetapi kerjanya karma tidaklah seperti itu.

Dalam Samyutta Nikaya I : 293, disebutkan, “Sesuai dengan biji benih yang ditabur, demikian pula hasilnya. Pembuat kebajikan akan menerima kebaikan. Pembuat kejahatan akan menerima penderitaan. Tertaburlah biji oleh benih dan engkau pula yang akan merasakan akibatnya.
Dalam syair tersebut terurai sangat jelas sekali bahwa kalau kita melakukan kebaikan kita akan menerima kebaikan, sebaliknya kalau kita melakukan kejahatan kita akan mengalami penderitaan. Sebagai ilustrasinya, perbuatan baik akan memberikan kebaikan, seperti orang yang ingin mempersembahkan bunga yang begitu indah kepada orang yang sangat dicintainya. Sebelum bunga tersebut sampai ke tangan penerima. Dia sudah mengetahui bagaimana warna, bentuk dan harumnya bunga itu. Apakah warnanya Indah dan menarik, bentuknya cantik dan bau yang harum atau tidak. Mungkin kalau bunganya tidak harum kita akan menyeprotkan pengharum supaya wangi. Pada saat tersebut kita sudah merasa bahagia. Seperti kebaikan yang telah kita lakukan. Saat yang bersamaan tanpa kita perhatikan dan sadari, sebetulnya kita mulai merasa bahagia, senang dan gembira. Apalagi kalau berbuah maka kebahagiaan akan semakin meningkat.

Untuk ilustrasi kejahatan, seperti orang yang akan melemparkan kotoran kepada musuh yang begitu dia benci. Pada saat dia memunggut kotoran tersebut. Sebetulnya tangannya sendiri sudah menjadi kotor dan bau. Apakah lemparan kotoran tersebut mengenai orang lain atau tidak. Kenyataannya tangannya sendiri sudah menjadi kotor. Belum lagi kalau lemparannya mengenai orang lain malah akan memperkeruh dan memperpanjang persoalan yang ada. Begitu pun dengan perbuatan jahat yang dilakukan Saat yang bersamaan kita sendiri sudah merasakan akibatnya, yaitu kita mengalami kegelisahan, sedih, marah dan suasana hati yang tidak menentu. Ini baru efek sederhana. Bagaimana kalau hasil perbuatan berbuah tentunya akan jauh lebih sakit lagi.

Kita perlu memperhatikan, menyadari dan mengatur apa yang akan kita lakukan atau bagaimana cara kita mengisi kehidupan. Ini lebih berguna daripada kita hanya berkeluh kesah. Karena tindakan yang dilakukan dapat mempengaruhi perjalanan kehidupan kita lebih jauh. Selama kita masih dalam proses kelahiran kembali selama itu kita akan terus menjalani apa yang telah kita lakukan. Dalam Dhammapada Bab VIII : 110 disebutkan, “Daripada hidup selama seratus tahun yang penuh dengan pikiran jahat dan pikiran yang tidak terkendali, lebih baik hidup satu hari yang penuh dengan perbuatan baik dan pikiran yang terkendali.”  Di sini menunjukkan nilai/ bobot perbuatan lebih penting daripada lamanya waktu kehidupan itu sendiri. Kalau nilai perbuatan positif dapat dipertahankan terus menerus, maka kehidupan akan menjadi semakin berharga dan bermakna.

Kita merasa menderita apabila buah hasil perbuatan adalah negatif. Namun kalau kita menyadari prosesnya, buah perbuatan adalah hasil dari perbuatan yang pernah kita lakukan. Kita akan mengerti dan tidak akan mau mengeluh atas kejadian apapun yang akan terjadi. Bahkan mungkin kita akan menyukuri bahwa pada saat seperti ini. Kita masih memiliki kesempatan melihat apa yang telah kita tanam dan kita masih dapat bertahan terhadap apa yang terjadi. Tidak semua orang dapat melakukan hal serupa, apalagi pada saat-saat dia mengalami peristiwa yang pahit. Banyak orang larut dalam kesedihan tanpa berupaya secepat mungkin bangkit dan berusaha semaksimalnya. Kalau kita hanya membiarkan agar perbuatan berlalu atau semakin larut pada keadaan demikian, kita hanya akan semakin merasa menderita. Seperti kisah yang dituturkan oleh seorang Bhikkhuni bernama Ko Fei Chen. Sebelum beliau menjadi seorang Bhikkhuni, dia adalah seorang dokter. Dia mengisahkan tentang kehidupan seorang pasien yang pernah menderita karena kanker Mulut. Pasien ini merasa sangat tidak bahagia. Setiap kali dia menelan ludah, cairan atau sesuatu menyentuh ke mulutnya, pasien ini akan merintih merasa begitu perih dan sakit sekali. Penderitaannya ini memang sangat berat untuk diungkapkan. Siapapun orang yang menderita seperti itu kemungkinan besar akan mengalami hal yang sama.

Meskipun demikian, ternyata pasien ini masih merasa beruntung karena dia dapat mengenal Buddha Dharma yang disampaikan langsung oleh Ko Fei Chen. Semula dia selalu menolak keadaan yang dihadapinya. Akhirnya dia dapat menerima apa yang terjadi. Mengapa ?” Karena pada saat dia mengingat kembali pola perilaku masa mudanya. Dia termasuk orang yang sangat suka memancing. Tidak semua orang memancing ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi ada orang yang melakukan karena hobby. Tetapi mereka tidak pernah menyadari bagaimana dengan ikan-ikan yang dipancingnya. Saat dipancing ikan pun akan mengalami sakit yang luar biasa. Dengan kondisi yang terluka dilepaskan kembali. Memang ini sangat memprihatinkan.

Dengan merenungkan bagaimana keadaan yang dialami oleh ikan yang pernah dia pancing. Dia pun dapat menerima keadaan sakit yang dirasakan sendiri saat itu karena penyakit kanker mulut. Pasien ini pun bertekad untuk tidak menggulangi maupun melakukannya lagi bahkan perbuatan-perbuatan negatif lainnya akan dia hindari sama sekali.

Ini adalah bentuk refleksi atas perbuatan apa yang pernah dilakukan. Karma memberikan pengertian kepada kita apa efek perbuatan dan tindakan bijaksana apa yang perlu untuk kita kembangkan. Tidak hanya mengikuti perasaan emosi belaka tetapi memiliki pengertian dan kesadaran dalam berbuat baik. Apapun yang terjadi pada kita, kita sendiri yang harus bertanggung jawab atas perbuatan itu sendiri.


II. HASIL PERBUATAN
Buddha bersabda kepada para Bhikkhu sebagai berikut : “O, Para Bhikkhu, tindakan-tindakan yang diniati, dilakukan dan dikumpulkan itu tidak akan padam selama hasilnya belum dialami. Apakah di kehidupan ini juga, kehidupan mendatang atau beberapa kehidupan berikutnya dan selama tindakan diniati, dilakukan dan dikumpulkan belum dialami, tidak akan ada akhir penderitaan.”

Jadi, karma yang telah kita lakukan tersebut, memiliki hasil yang pasti. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk berbuah. Meskipun demikian tidak berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa. Kita dapat mengubah kondisi dan potensinya, yaitu dengan melakukan kebajikan yang lebih besar lagi. Seperti halnya angin yang bergerak ke arah barat, kita tidak dapat mengubah arah angin.  Kalau kita akan belayar ke arah timur. Tetapi tujuan kita dapat tercapai yaitu dengan cara mengubah layarnya dan hal ini sangat sederhana untuk dilakukan.

Hasil Perbuatan dari sepuluh perbuatan baik dan sepuluh perbuatan jahat ada 3 (tiga) macam, yaitu : alam kelahiran berikutnya, pengaruh serupa dan lingkungan tempat tinggal

II.1. Alam kehidupan
Dalam konsep Buddhis alam kehidupan tersebut ada 31 (tiga puluh satu) alam. Secara garis besar terdiri dari lima alam, yaitu alam manusia, alam dewa, alam asura, alam setan, alam neraka dan alam hewan. Apabila orang melakukan kebaikan maka akan terlahir di alam bahagia. Dalam hal ini alam dewa merupakan alam bahagia. Sebaliknya apabila orang berbuat jahat akan terlahir di alam penderitaan yang meliputi : alam asura, setan, neraka dan hewan.

Perbuatan tidak baik pada tingkat yang terburuk apabila dikembangkan dan dijalankan seringkali akan menjadi penyebab untuk terlahir di alam neraka, pada tingkat menengah terlahir di alam hewan. Pada tingkat teringan terlahir sebagai setan.

Apabila orang tidak terlahir di dua macam alam tersebut, maka mereka akan terlahir di alam manusia. Sementara alam manusia memiliki dua kondisi tersebut dan apa yang diterima sesuai dengan benih perbuatannya sendiri. Berbeda dengan alam dewa mereka hidup menikmati kebahagiaan dan kesenangan saja. Sementara alam neraka mereka mengalami penderitaan yang luar biasa. Kita tidak boleh menganggap hal kecil apabila kita melakukan kejahatan atau menganggap alam penderitaan biasa saja. Sekali orang masuk ke dalam alam tersebut maka akan sulit baginya untuk terlepas dari alam tersebut apalagi untuk terlahir di alam yang lebih tinggi. Begitu pula kita tidak boleh memiliki keinginan untuk terlahir di alam hewan. Saat kita melihat hewan tertentu, yang kelihatnya hidupnya jauh lebih enak dibandingkan dengan manusia. misalnya seekor kucing atau anjing yang terlihat begitu sangat disayang dan mendapat makanan yang layak. Timbul inspirasi kita untuk terlahir sebagai anjing atau kucing. Hal ini tidak baik dan tidak bijaksana. Karena dapat membentuk pikiran bawah sadar. Sehingga benar-benar dapat membuat kita terlahir di alam tersebut.

Apabila kita kaji lebih mendalam sebetulnya alam hewan mereka diliputi oleh ketakuatan. Setiap saat mereka harus siap untuk diserang atau diterkam hewan lainnya. Bahkan bahaya terbesar adalah manusia. Selain itu kesempatan bagi mereka untuk terlahir di alam yang lebih baik akan jauh lebih sukar apalagi hewan yang hidupnya mengkonsumsi hewan lainnya. Setiap hari mereka harus melakukan pembunuhan agar dapat bertahan hidup. Sementara yang lain selalu dalam keadaan tertekan. Ini betul-betul menderita. Di banding dengan alam manusia tentunya sangatlah berbeda.

Seringkali timbul pertanyaan, kalau demikian mengapa ada hewan yangn hidupnya kelihatannya begitu baik di banding manusia. Hal ini tidak dapat kita pisahkan dari karma. Betul ia terlahir di alam hewan tetapi sebelum kehidupan ini sebagai makhluk apapun mereka pun melakukan perbuatan. Apabila perbuatannya baik, terlahir dalam bentuk hewan, ia akan meresa lebih bahagia dari hewan lainnya. Sebaliknya kalau perbuatan negatif jauh lebih besar dalam bentuk hewan ia semakin menderita. Karena ada hewan yang sangat disayangi dan ada pula hewan yang sangat dibenci.

Dalam sutra disebutkan makhluk-makhluk yang terlahir di alam asura mereka dipenuhi rasa tidak puas dan iri akan kebesaran alam dewa. Mereka sangat menderita sekali. Pada alam setan mereka mengalami kelaparan dan rasa haus luar biasa. Makhluk-makhluk yang terlahir di alam neraka mereka menerima buah penderitaan yang begitu berat. Sementara mereka yang terlahir di alam dewa, mereka mengalami terus-menerus kebahagiaan. Namun kebahagiaan tersebut tidaklah kekal adanya. Setelah buah karma habis mereka pun terlahir kembali.

 Kehidupan ini terus berputar kalau kita tidak hati-hati akan tergelincir dan mengalami penderitaan. Sekali kita lalai akan membawa penderitaan yang panjang. Disebutkan pula dalam Bodhisattva Vow, meskipun seseorang memiliki kemampuan melihat 5 (lima) kehidupan yang akan datang. Kelima kehidupan tersebut selalu dilahirkan di alam bahagia, semua kebutuhan terlengkapi. Ini tetap belum cukup karena dia tidak mengetahui kehidupan keenamnya. Apakah dia dapat mempertahankan atau mengalami hal serupa ? Tidak ada yagn tahu secara pasti. Kalau dirinya sendiri tidak berusaha secara giat menyempurnakan kebajikan dalam hidup ini.

II.2. Pengaruh yang serupa
Pengaruh serupa adalah hasil karma yang diterima sesuai dengan perbuatan atau memiliki kemiripan dengan perbuatan yang dilakukan. Orang yang telah menghindari perbuatan dari pembunuhan mereka akan menikmati hidup yang panjang dan kesehatan yang baik. Tetapi kalau mereka melakukan perbuatan pembunuhan mereka akan mengalami usia pendek, penuh penyakit dan sakit-sakitan.

Orang yang tidak mengambil barang milik orang lain, mereka akan mudah mengumpulkan harta dan kekayaan. Sebaliknya orang yang mencuri, mereka mudah sekali mengalami kehilangan harta dan kekayaan. Saat telah dikumpulkan harta dicuri orang lain atau pinjaman tidak dikembalikan.

Orang yang tidak melakukan perbuatan asusila, mereka memiliki teman-teman yang akrab dan keluarga bahagia. Tetapi mereka yang melakukan perbuatan asusila mereka akan mengalami cepat berpisah dari teman-teman dan keluarga, pasangan hidupnya selingkuh/ tidak setia, karyawannya mengundurkan diri silih berganti atau tidak dapat menetap dan dia mengalami hidup sendirian tidak ada yang menemani.

Akibat ucapan berbohong, orang tidak ada yang percaya apa yang dia utarakan dan orang tidak mendengarkan pengarahannya. Selain itu dia sering kali mendapat tuduhan palsu.

Akibat ucapan menjelek-jelekkan orang lain (gosip), dia akan sukar menjalin hubungan harmonis dengan orang lain dan sering ditinggalkan oleh teman-temannya.

Akibat Kata-kata kasar, orang-orang mengatakan sesuatu yang tidak baik mengenai dia dan sering kali dia menerima kata-kata yang tidak menyenangkan.

Akibat ucapan yang tidak bermanfaat, orang tidak memperhatikan dengan serius apa yang dia utarakan, mereka menganggap dia orang bodoh sehingga tidak memperhatikan pendapat dan pandangannya. Selain itu dia berbicara tidak jelas.

Akibat sifat tamak, keinginan tidak terpenuhi dan mengalami kegagalan memperoleh apa yang diharapkan.

Akibat niat jahat dia akan tertekan perasaan ketakutan dan mudah panik pada situasi bahaya.

Akibat pandangan salah, dia mudah sekali mengalami kebinggungan dan sukar mengembangkan kebijaksanaan.

II.3. Lingkungan
Orang yang tidak melakukan pembunuhan, mereka akan berdiam di tempat bersih dan tidak tersebar bibit penyakit. Makanan berlimpah ruah dan bergizi untuk jangka waktu lama, tersedia obat-obatan yang manjur dan kesehatan yang baik. Sehingga memungkinkan mereka untuk hidup lebih panjang dan tidak mengalami sakit-sakitan. Hal ini sangat jelas ada 2 (dua) orang penyakit serupa tetapi satu karena kondisi ekonomi baik dia dapat membeli obat-obatan yagn tepat dan mendapat perwatan yang layak sehingga dia dapat sembuh. Tetapi yang lain karena ekonominya rendah dia tidak dapat memperoleh obat yang layak atau sama sekali tidak mendapat perawatan sehingga membuat dia semakin parah dan menderita. Bahkan akiabt keadaan tersebut dia meninggal dunia. Padahal untuk ukuran umum, jenis penyakitnya tersebut biasa saja. Mengapa hal ini dapat terjadi. Kita tidak dapat melepaskan dari pengaruh karma masing-masing.

Orang yang mengambil barang milik orang lain/ mencuri, mereka akan bermungkin di tempat dimana terdapat semak belukar, jarang ada tanaman dan kalau pun ada sayuran yang tumbuh tidak subur.

Orang yang melakukan perbuatan asusila, mereka berdiam di daerah tempat penipu dan menipu kita, di sana tidak ada orang yang dapat dipercayai.

Orang yang mengucapkan kata-kata memecah belah, mereka berdiam di tempat berbatu keras dan pegunungan, sedikit alat transportasi sehingga orang harus memikul beban berat.

Orang yang mengucapkan kata-kata kasar mereka berdiam di daerah lembah dengan tanaman berduri dan merasa tidak nyaman saat bergerak. Karena setiap saat kulit mudah sekali tersayat oleh tanaman tersebut. Seperti kata-kata kasar yang diucapkan begitu menyayat bagi siapaun yang mendengarkan. Demikian pun dia tinggal di tempat dimana dia akan selalu tersayat oleh duri yang ada disekitarnya.

Orang yang suka menggosip mereka berdiam di daerah tempat tanaman dan buahan tidak tumbuh wajar atau waktu yang tepat dan tidak sesuai dengan musimnya.

Orang yang tamak mereka berdiam di daerah tempat sumber materi mudah berkurang dan hilang, kekuatan fisik dan wajah mudah berubah.

Orang yang memiliki niat jahat mereka berdiam di daerah perang, penyakitan atau tempat dimana konfliknya berkelanjutan.

Orang yang memiliki pandangan salah mereka berdiam di daerah yang kekurangan air dan sumber mineral mudah habis, tidak ada seni dan kehidupan spiritual.

Ketiga macam hasil perbuatan tersebut menunjukkan bahwa orang tidak dapat lepas dari perbuatan yagn dilakukannya. Setiap saat dia selalu memanen perbuatannya sesuai dengan bobot masing-masing. Hal ini pun menjadi bahan perenungan bagi kita masing-masing untuk selalu waspada dan secepat mungkin memperbaiki perilaku dan sikap dalam menapak kehidupan ini lebih baik dan bijaksana. Karena apa yang kita alami tersebut begitu jelas dan pasti hanya menunggu waktu saja. Kita tidak perlu untuk menyesali apa yang telah terjadi. Karena penyesalan tidak bisa mengubah keadaan. Lebih baik kita bertobat dalam pengertian bertekad untuk tidak melakukan kembali jenis perbuatan negatif tersebut. Selain itu kita perlu mengembangkan sikap mental yang baik, yaitu bagaimana kita mengubah keadaan yang buruk menjadi baik. Pengalaman yang tidak baik menjadi menyenangkan. Sehingga keadaan apapun yang terjadi dapat kita hadapi dengan jalan Dharma tidak membawa penderitaan bagi siapapun.


III. PEMBAGIAN KARMA
Karma secara garis besar dibagi menjadi 4 (empat) macam, yaitu karma menurut kedudukannya, karma menurut waktu, karma menurut kekuatan dan karma menurut fungsi. Apabila kita mampu memahami keempat macam tersebut, maka kita akan mudah mengenali setiap bentuk perubahan yang kita hadapi lebih jauh lagi.

Pembagian karma ini mampu menjawab pertanyaan, mengapa ada orang yang terlahir usia pendek, sedang atau panjang ?” Mengapa ada orang yang jahat tetapi hidupnya kelihatannya kebal dari hukum ? mengapa orang yang baik hidupnya susah ?”  Mengapa ada orang yang hidupnya tidak kekurangan sementara yang lain selalu kekurangan ?” Seperti pada suatu kesempatan, Buddha ditanya, “Mengapa di dunia ini ada orang yang menjalankan usaha, tetapi selalu mengalami kerugian. Ada yang hanya pas-pasan, ada yang lebih dan ada yang berlimpah rua.

Buddha bersabda, “Pada kehidupan sebelumnya ada orang yang berkehendak dan berjanji untuk memberikan barang kepada pertapa suci. Namun dia tidak tepati. Akibatnya apa yang dilakukan selalu gagal. Ada orang yang berkehendak dan berjanji untuk memberi, dia memberi sesuai apa yang dijanjikan. Maka hasilnya sesuai apa yang diharapkan. Sementara bagi mereka yang berjanji tetapi dia memberikan lebih dari pada apa yang dijanjikan. Maka setelah kelahiran berikutnya. Hartanya berlimpah rua.

Ini hal yang sering kita jumpai dalam kehidupan. Di samping itu, kita harus tetap berusaha untuk berbuat yang terbaik. Karena kita tidak tahu perbuatan apa yang telah kita lakukan sebelum kehidupan ini dan kalau pun kita tahu hal ini tidak akan mempengaruhi kehidupan kita. Kalau kita tidak berusaha berbuat yang terbaik.

III.1.  Karma menurut Kedudukan
III.1.1. Karma buruk (yang menghasilkan akibatnya di alam-alam menyedihkan  (Duggati–loka)
Terdapat 10 macam perbuatan tak baik, yaitu membunuh, mencuri, berzina (ketiganya ini disebabkan oleh perbuatan Badan Jasmani {Kaya-Kamma}; berbohong, memfitnah, berKata Kasar, bergunjing (keempatnya ini disebabkan oleh Ucapan {Vaci-Kamma}); ketamakan, Itikad Jahat. dan Pandangan Salah (ketiganya ini disebabkan oleh Pikiran {Mano-Kamma}).

III.1.2. Karma baik yang menghasilkan akibatnya di alam-alam penuh nafsu  (Kama–loka)
Terdapat 10 perbuatan baik atau bermoral. yaitu; kemurahan-Hati  (Dana), kemoralan  (Sila), Meditasi  (Bhavana), Rasa Hormat (Apacayana), Rasa Bakti/Berbalas Budi  (Veyyavacca). Pelimpahan Jasa  (Pattidana), Bergembira Dalam Kebajikan Orang Lain  (Pattanumodana), Mendengarkan Dhamma  (Dhammasavana), Membabarkan Dhamma  (Dhammadesana), dan Meluruskan Pandangan Salah  (Ditthujukamma).

III.1.3. Karma baik yang menghasilkan akibatnya di alam Brahma yang berbentuk  (Rupa–loka)
Terdapat 5 jenis tingkatan yang merupakan tingkat ketenangan batin yang terjadi di dalam proses meditasi. yaitu: Tingkat dari Jhana atau Penyerapan Pertama hingga Tingkat Jhana atau Penyerapan kelima.

III.1.4. Karma baik yang menghasilkan akibatnya di alam Brahma  yang tanpa bentuk  (Arupa–loka)
Terdapat 4 jenis, yang juga merupakan tingkatan ketenangan batin dan terjadi di dalam proses meditasi, yaitu: Kesadaran yang berdiam di dalam ruang tanpa batas ; Kesadaran yang berdiam di dalam kesadaran tanpa batas ; Kesadaran yang berdiam pada kekosongan ; dan Kesadaran dimana persepsi/pencerapan amat sangat halus sehingga ia tak dapat dikatakan ada atau tidak ada.

III.2. Karma menurut waktu
Buddha bersabda, “O, Para Bhikkhu, tindakan-tindakan yang diniati, dilakukan dan dikumpulkan itu tidak akan padam selama hasilnya belum dialami. Apakah di kehidupan ini juga, kehidupan mendatang atau beberapa kehidupan berikutnya dan selama tindakan diniati, dilakukan dan dikumpulkan belum dialami, tidak akan ada akhir penderitaan.” (Anguttara Nikaya X : 206). Karma menurut waktu terbagi menjadi 4 (empat) macam, yaitu :
III.2.1. Karma yang berbuah dalam kehidupan saat ini
Karma yang dilakukan akan berbuah langsung dalam kehidupan ini juga tanpa harus menunggu kehidupan mendatang. Kita dapat kita rasakan langsung akibatnya. Pada jaman Buddha, apabila ada orang yang dengan ketulusan hati memberikan persembahan kepada Buddha, maka tidak dari 7 (tujuh) hari mereka dapat merasakan hasil perbuatannya. Seperti kisah seorang penjual bunga bernama Sumana, saat melihat Buddha dia menjadi begitu bahagia, senang dan gembira. Dengan ketulusan hati dia mempersembahkan bunga yang ada ditangannya kepada Buddha. Pada hari itu Raja Bimbisara yang mendengar berita ini sangat bahagia atas ketulusan hati Sumana. Raja pun memberikan penghargaan kepadanya berupa delapan ekor kuda, delapan budak laki-laki, delapan orang budak perempuan, delapan orang anak gadis dan uang delapan ribu .

Kisah seorang Brahmana bernama Ekasataka yang begitu miskin, bahkan jubah/ pakaian yang dimilikinya hanya satu setel saja. Apabila dia berkehendak keluar, maka isterinya di rumah menunggu saja. Begitu pula apabila isterinya yang keluar dia di rumah. Suatu hari saat mendengarkan Dharma Buddha, brahmana tersebut timbul suka cita yang sangat tinggi. Dia berkehendak untuk memberikan pada orang yang begitu dikaguminya tersebut. Namun dia tidak punya harta sama sekali. Setelah dicermati dengan seksama hanya jubah satu-satunya harta dia antara keranguan dan kebimbangan bergejolak dalam batin brahmana tersebut. Pada pertemuan pertama dia memutuskan tidak memberikan persembahan dengan segala pertimbangan. Begitu pula dengan pertemuan kedua kalinya, dia tidak mampu untuk menaklukkan batinnya. Tetapi pada pertemuan ketiga, dia memutuskan untuk memberikan persembahan satu-satunya jubah yang paling berharga dalam hidupnya. Setelah dapat memberikan persembahan tersebut. Brahmana ini merasakan kegembiraan yang luar biasa bahwa dia dapat menaklukkan terhadap keragu-raguan dan kebimbangan yagn menghantuinya. Pada saat menuju pulang dia berpapasan dengan raja. Raja melihat perilaku Brahmana ini merasa begitu penasaran. Mengapa Brahmana ini begitu bahagia dan gembira, ada kabar apa yang membuat brahmana berlaku demikian.

Brahmana ini pun menjelaskan secara mendetail. Raja terkesimah dan simpati yang luar biasa atas pengorbanan Brahmana tersebut. Maka dia pun memerintahkan kepada pengawalnya untuk menyerahkan jubah dua potong. Brahmana tersebut menerima tetapi tidak untuk dipakai sendiri. Dia langsung menyerahkan kepada Buddha. Kejadian ini berulang sampai raja memberikan hadiah sebanyak 32 potong dan akhirnya Brahmana tersebut mengambil dua potong selebihnya dipersembahkan kepada Buddha. Selain itu raja pun mengirimkan tujuh macam hadiah, masing-masing berjumlah empat, yaitu empat ekor gajah, empat ekor kuda, empat orang pelayan wanita, empat orang pelayan laki-laki, empat desa dan empat ribu uang tunai untuk keluarga Brahmana tersebut. Melihat kejadian ini, murid Buddha pun bertanya mengapa Brahmana tersebut dapat menerima hadiah yang begitu luar biasa dari Raja ?” Buddha pun menjelaskan pemberian yang dilakukan oleh Brahmana tersebut dengan ketulusan yang luar biasa dan telah mengalahkan segala kebimbangan dan keraguan. Malahan Buddha menyebutkan, “Apabila pada pertemuan pertama, Brahmana tersebut dapat menaklukkan dirinya, maka dia akan mendapat hadiah dari raja sebanyak 16 kali lipat dari yang diterimanya saat itu. Tetapi kalau dia memberikan pada pertemuan kedua maka hadiahnya delapan kali lipat. Karena dia memberikan pada pertemuan ketiga dia hanya memperoleh empat kali lipat saja.

Mengapa dapat terjadi demikian ?” Karena kebajikan yang dimiliki oleh Buddha begitu luar biasa. Dalam setiap kehidupan sebelumnya Beliau selalu menyempurnakan diri. Jasa kebajikan yang dimilikinya tiada taranya. Jadi, kalau kita hendak berdana kita harus cepat-cepat lakukan. Kalau kita tunda hasilnya akan datang perlahan dan sebagian saja. Kemungkinan pula kita tidak lakukan sama sekali. Dalam Dharma disebutkan barang siapa yang memberikan dana/ persembahan kepada orang suci hasilnya lebih besar dari pada umumnya. Persembahan yang paling tinggi adalah kepada Sangha. Mengapa demikian !” Karena Sangha merupakan ladang jasa kebajikan, tempat berkumpulnya para suciwan. Apabila kita cermati dengan sungguh-sungguh perbuatan yang kita lakukan sepintas lalu sebetulnya kita pun sudah dapat merasakan akibatnya. Meskipun sesaat saja. Seperti saat kita mendoakan semua makhluk hidup berbahagia. Kalau doa tersebut dilakukan benar-benar dengan ketulusan hati dan pikiran terpusat penuh. Kita akan merasakan kebahagiaan. Begitu pula kalau kita suka berdana, saat kita memberikan dana sebenarnya kita sudah merasa senang dan gembira. Sebaliknya kalau kita memiliki keinginan jahat terhadap orang lain. Kita akan mengalami kegelisahan dan perasaan yang tidak nyaman. Seakan-akan setiap tingkah kita salah. Kalau kita marah, mimik wajah kita tidak menarik untuk dipandang oleh siapa pun. Nafas tidak beraturan dan kita merasa tidak nyaman sama sekali. Sebetulnya tidak ada orang merasa senang marah karena marah membuat mereka menderita. Sebaliknya perbuatan positif memberi kebahagiaan maka orang berlomba-lomba untuk berbuat baik. Hanya saja pemahaman kebaikan sendiri yang masih belum jelas terkadang dalam melakukan kebaikan sering ditemukan mereka malah membuat dirinya sendiri dan orang lain menempuh jalan yang salah.
        Jadi, dari hal tersebut di atas kita dapat mengerti adanya buah karma sepenuhnya meskipun itu baru permulaan yang dapat kita rasakan. Apalagi kalau karma tersebut berbuah penuh maka kualitasnya akan semakin besar dan kita memetik atas hasilnya pun semakin besar.

III.2.2. Karma yang berbuah dalam kehidupan mendatang
Sering kita menjumpai orang yang suka mengeluh, mengapa hidup saya tidak berubah ?” Mengapa jalan hidup ini selalu mendapat halangan ?” Mengapa saya tidak kaya-kaya sementara teman saya semua telah menjadi orang yang sukses ?” Mengapa orang jahat hidupnya kaya dan dapat pergi ke mana-mana, sementara saya sendiri tinggal di rumah saja ?” Memang semua itu tidak asing lagi kita dengar. Dalam agama Buddha, orang yang melakukan kebajikan, apabila perbuatannya tersebut belum berbuah dia akan berkeluh kesah, tetapi kalau perbuatannya telah berbuah dia baru mengerti bahwa perbuatan baik itu hasilnya begitu bahagia. Sebaliknya orang yang berbuat jahat selama kejahatannya belum berbuah dia merasa bahagia terkadang malah menyindir orang yang hidupnya lurus. Tetapi pada saat perbuatan jahatnya berbuah. Dia akan merasakan begitu menderita sekali akibat perbuatan jahatnya tersebut. Seperti kasus pengedar narkoba, mereka merasa begitu mudah mengumpulkan harta dengan cara tersebut. Terkadang mereka membujuk orang lain untuk ikut bergabung. Mengapa harus hidup susah ?” Tetapi kalau perbuatan ini terungkap oleh aparat kepolisian, mereka merasakan begitu ketakutan. Mereka baru menyesali bahwa mereka tidak mengerti, terpaksa, tidak memiliki perkerjaan dan berbagai alasan lainnya. Pada saat tersebut mereka baru dapat memuji orang yang hidupnya lurus lebih baik dari pada mereka.

Karma yang berbuah dalam kehidupan mendatang dapat terjadi karena karma yang telah dilakukan tidak berbuah dalam kehidupan ini atau memang potensinya cenderung ke kehidupan yang akan datang. Seperti Kisah yang terhimpun dalam Petavatthu, dimana orang-orang yang terlahir di alam setan. Karena pada kehidupan sebelumnya sewaktu sebagai manusia, mereka tidak waspada dan lalai dalam mengumpulkan jasa kebajikan. Membiarkan kejahatan menyertai maupun menghiasi perjalanan mereka. Begitu pula dengan kisah yang tercantum dalam Vimanavathu, yaitu kisah orang-orang yang terlahir di alam dewa karena jasa kebajikan yang telah mereka himpun dalam kehidupan lampau tanpa ragu-ragu.

III.2.3. Karma yang berbuah dalam beberapa kehidupan
Karma ini potensinya begitu besar sehingga tidak cukup berbuah hanya satu atau dua kehidupan saja tetapi dalam beberapa kehidupan dan terus berbuah mencari majikannya. Seperti kisah seekor lembu yang hendak dipotong oleh seorang pandita pemimpin upacara pengorbanan. Saat sebelum upacara dia gembira sesaat kemudian sedih. Perilaku lembu tersebut didengar dan diperhatikan oleh pembantu pandita. Pembantu pandita ini pun menceritakan kepada atasnya. Pandita yagn mendengar hal ini menjadi begitu penasaran dan dia pun menemui lembu aneh tersebut untuk mendapat jawabannya. Lembu ini pun menceritakan bahwa dia bahagia karena hari ini dia akan mati dan karma kejahatan yang dilakukan sebelumnya akan habis hari ini juga. Dia merasa sedih karena ada orang yang melakukan perbuatan yang pernah dia lakukan sebelumnya yaitu pandita pemimpin upacara ini. Dalam setiap kelahiran sebelumnya, kematiannya selalu tragis, yaitu ia selalu mengalami kepalanya berpisah dari tubuhnya. Pada malam hari itu pun kejadian sama terulang kembali, yaitu sebuah batu karang yang besar jatuh karena hujan yang deras dan batu tersebut jatuh tepat di lembu aneh tersebut dan memisahkan kepala dengan tubuhnya. Kejadian ini merupakan yang keseratus yang harus dialaminya. Karma ini memiliki potensi yang besar dan selalu mengikuti dalam beberapa kelahiran. Umumnya jenis perbuatan yang bobotnya tinggi, dilakukan pada orang-orang yang suci dan/ atau memiliki karma yang berat.

III.2.4. Karma yang tidak berbuah/ tidak efektif
Karma yang tidak berbuah karena potensinya sudah habis. Seperti sebutir benih yang telah tersimpan lama sehingga menjadi daluawarsa. Benih ini tidak memiliki potensi untuk tumbuh menjadi tanaman. Kemungkinan lainnya buah karma tersebut telah memberikan hasil secara penuh sehingga kehilangan kekuatannya.

III.3. Karma menurut kekuatan
Karma menurut kekuatan terbagi menjadi 4 (empat), yaitu :
III.3.1. Karma yang berat
Karma yang memiliki potensi untuk berbuah lebih dahulu dari karma lainnya. Seperti diumpamakan 3 (tiga) benda dilemparkan dari ketinggian dan waktu yang sama, benda pertama berupa logam, kedua kertas dan ketiga kapas. Benda yang memiliki bobot berat yang lebih tinggi akan sampai terlebih dahuludibanding dengan benda yang lainnya. Dalam hal ini logam, kemudian kertas, selanjutnya kapas.    Karma berat ini ada dua macam, yaitu karma baik dan karma buruk. Karma baik, seperti latihan meditasi yang telah mencapai tingkat pengembangan. Setelah kematian akan terlahir di alam Jhana.

Karma yang buruk yang berat adalah lima macam perbuatan jahat, yaitu membunuh ibu, membunuh ayah, melukai seorang Buddha, membunuh seorang arahat dan memecah belah sangha.    Mengapa bisa demikian ?” Untuk orang tua jasa kebajikan mereka itu luar biasa. Bahkan sebagai seorang anak tidak mudah untuk membalas jasa kebajikan mereka. Dalam Anggutara Nikaya disebutkan, seandainya seseorang memikul ibunya kemana-mana disatu bahunya dan memikul ayahnya pada bahu yang lain. Ketika melakukan hal ini dia hidup seratus tahun. Walaupun dia melayani ibunya dan ayahnya dengan meminyaki, memijat, memandikan dan menggosok kaki tangan mereka serta membersihkan kotoran mereka. Perbuatan ini pun belum cukup, dia masih belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya. Bahkan seandainya dia mengangkat orang tuanya sebagai raja dan pengusaha besar di bumi ini, sangat kaya dan memiliki tujuh harta, dia masih belum berbuat cukup untuk mereka. Dia belum dapat membalas budi mereka. Mengapa demikian ?” Karena orang tua telah berbuat banyak untuk mereka. Mereka membesarkan, memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini. Tetapi seseorang yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak percaya, membiasakan dan mengukuhkan mereka dalam keyakinan, mendorong orang tuanya yang tadinya tidak bermoral, menjadi bermoral, mendorong orang tuanya yang tadinya kikir menjadi dermawan, mendorong orang tuanya yang tadinya bodoh batinnya menjadi bijaksana. Orang seperti itu telah berbuat cukup untuk orang tuanya. Dia telah membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi atas apa yang telah mereka lakukan.

Melukai seorang Buddha, Buddha tidak dapat dibunuh oleh siapapun karena jasa kebajikan dan penyempurnaan latihan yang telah dilakukan. Karena dalam kelahiran sebelumnya Beliau telah menghindari dari perbuatan pembunuhan, penganiyayaan terhadap makhluk apapun baik perbuatan, ucapan maupun lewat pikirannya. Selain itu kebajikan seorang Buddha begitu luar biasa, sehingga siapapun yang melakukan perbuatan akan menerima hasil yang besar pula. Membunuh seorang arahat, karena arahat ini merupakan orang suci. Kualitas orang suci kebajikannya lebih tinggi dibanding orang biasa. Kalau ada orang yang membunuh mereka karma buruknya pun lebih tinggi dari makhluk biasa. Malahan dalam beberapa kisah, karma yagn dipetiknya dapat bertahan dalam beberapa kehidupan.     Memecah belah Sangha, karena sangha merupakan tempat berkumpul orang-orang suci. Para suciwan merupakan pelita kehidupan dunia. Siapapun yang dapat dekat dan belajar darinya akan memperoleh manfaat yang sangat luar biasa.

III.3.2. Karma menjelang ajal
Karma menjelang ajal menentukan kelahiran berikutnya kalau tidak ada bekerjanya karma berat. Orang yang dalam kondisi sekarat sepatutnya kita memberikan penghiburan dan membuat batin mereka menjadi tenang dan damai. Karena hal ini merupakan waktu yang sangat tepat dapat membantu ke kelahiran mereka yang lebih baik. Orang yang batinnya gelisah berarti mereka masih memiliki beban maupun kemelekatan yang tinggi. Kalau kemelekatannya tersebut tidak dapat ditinggalkan akan membawa kepada kehidupan yang kurang baik. Begitu pula orang yang stress dan mau bunuh diri. Kalau sampai dia melakukan perbuatan bunuh diri, perbuatannya akan merugikan dirinya sendiri, baik dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan berikutnya, yaitu terlahir di alam penderitaan. Mengapa ?” Karena kondisi batinnya tidak tenang dan penuh prustasi, kemarahan atau beban lainnya.

Ada kisah suatu keluarga dimana terdapat ayah, ibu dan anak. Ibunya begitu sayang sama anaknya. Saat menjelang ajal dia merasa resah dan gelisah memikirkan anaknya tersebut. Akibat keadaan ini ibu tersebut terlahir kembali dekat dengan keluarganya tetapi sebagais eekor anjing yang selalu menemani pemilik rumah tidak lain adalah anaknya terdahulu. Jadi keadaan batin yang tidak terkendali dengan baik dapat membawa kita pada keadaan yang tidak baik. Sehingga dengan pemahaman seperti itu. Kita perlu melatih diri kita setiap saat untuk melatih hati dan pikiran. Kalau pun kita meninggal kita dapat mempertahankan keadaan batin dengan kondisi yang tenang dan bahagia. Sehingga setiap hari kita perlu melatih terus-menerus praktek meditasi atau pelafalan pada nama Buddha.

III.3.3. Karma kebiasaan
Karma yang biasa dilakukan mengakibatkan kebiasaan. Seperti suka memberikan dana. Kalau perbuatan ini dilakukan terus menerus akan menjadi kebiasaan. Begitu pula dengan orang yang sering menyakiti orang lain. Pertama mungkin dia merasa bersalah sekali tetapi kalau perbuatan ini terus dilakukan maka dia menganggap sebagai hal biasa. Ini perbuatan yang tidak baik. Kebiasaan tersebut terjadi karena sering kali kita ulangi. Kebiasaan yang buruk membawa hasil buruk sementara kebiasaan baik membuat kita menjadi maju.

Banyak perbuatan yang dapat kita jadikan sebagain perbuatan positif, seperti memberikan pelayanan kasih kepada orang yang sakit, melatih meditasi, pelafalan nama Buddha atau pemberian bantuan pada orang yang kesusahan. Namun sering pula kita mendengar berbagai alas an mereka tidak dapat melakukan kebaikan karena tidak memiliki waktu. Sebetulnya mereka dapat melakukannya. Karena dalam berbuat kebajikan tempatnya tidak harus berada di tempat ibadah. Di mana kita tinggal atau kita berada kita dapat melatih dan berbuat baik. Misalnya saat kita lagi mengadakan perjalanan jauh daripada tidak ada aktivitas sama sekali lebih baik kita latih pikiran dengan pelafalan nama Buddha, Boddhisattva atau pelimpahan jasa kebajikan kepada semua makhluk. Kebiasaan ini sangatlah sederhana dan bermanfaat sekali bagi siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun dari pada melamun dan membuang waktu begitu saja.

III.3.4. Karma yang tidak begitu berat dirasakan
Jenis karma ini hampir tidak didorong oleh kehendak. Tetapi tetap menimbulkan hasil atas perbuatan yang terjadi. Karma ini dilakukan sewaktu-waktu dan hampir tidak didorong oleh kehendak.

III.4. Karma menurut Fungsi
Karma menurut fungsinya terbagi menjadi 4 (empat) macam, yaitu :
III.4.1. Karma Penghasil
Karma ini yang menentukan makhluk-makhluk terlahir di alam yang mana sesuai dengan karma yang dilakukan atau bekerjanya karma menurut kekuatan. Karma ini mencari tempat yang cocok sesuai dengan karma yang kita punyai. Untuk terlahir di alam mana, tempatnya dimana, keluarga apa, status sosial bagaimana. Seperti orang yang memiliki tabungan yang cukup. Pada saat berpergian dia dapat memilih hotel sesuai dengan keuangannya sendiri. Begitu pun karma penghasil menentukan sesuai dengan karma yang telah dihimpun olehnya. Apabila pada kehidupan sebelumnya dia melatih kemurahan hati, perbuatan baik (Sila) dan kebijaksanaan maka dia akan terlahir di alam sorga, kalau pun tidak di sana di alam manusia. Begitu pun orang yang mengembangkan keserakahan begitu tinggi mereka akan terlahir di alam setan, kalau kebenciannya yang tinggi di alam neraka. Sebaliknya kalau kebodohan dibiarkan terlahir di alam hewan.

Kita sering dengar pertanyaan mengapa orang baik hidupnya pendek sementara orang jahat hidupnya panjang ?” Mereka melihat hal ini karena teman-teman mereka yang baik meninggal dengan cepat sementara orang-orang yang mereka tidak sukai hidupnya panjang. Sebetulnya tidaklah demikian. Seperti perkataan Einstein mengenai hukum relativitas, orang yang berada dalam kondisi bahagia, seakan-akan waktu berjalan begitu cepat. Sementara orang yang mengalami masalah meskipun hanya beberapa detik mereka akan merasakan begitu lama dan menjenuhkan. Begitu pula dengan orang yang kita temui. Kalau orang tersebut dalam persepsi kita orang baik, menyenangkan, menarik dan simpati. Kita tidak pernah merasa bosan meskipun kita berulang kali bertemu dengannya. Seperti orang yang lagi pacaran. Waktu yang dilaluinya begitu cepat.  Padahal dia telah bersama kekasihnya selama 4 (empat) jam. Bagaimana kalau dia berhadapan dengan orang yang dibencinya selama 4 (empat) jam tersebut !” Sementara kita berhadapan dengan orang yang kita benci meskipun kita bertemu hanya beberapa kali terasa terus menerus dan membuat kita merasa tidak nyaman. Seakan-akan dia selalu hadir dalam kehidupan kita padahal hanya beberapa menit saja.

Orang yang pendek umur atau panjang umur tidak ada kaitannya dengan pengertian kebaikan sama sekali. Usia kehidupan ditentukan oleh nilai latihan atas penghindaran dari pembunuhan atau penganiyayaan atas makhluk hidup dan pola hidup yang dijalani saat ini. Selain itu pula kematian dan kehidupan memiliki makna tersendiri, yaitu batas usia kehidupan sebagai manusia dalam keluarga tertentu, keadaan tertentu telah habis. Dengan habisnya masa waktu tidak berarti mereka menghilang begitu saja. Pengertian Buddhis mereka dilahirkan kembali sesuai dengan karmanya kembali. Mereka dapat terlahir di alam penderitaan dan dapat pula terlahir di alam bahagia. Jadi, kematian bukan berakhir segala-galanya. Seperti kata Bhante Viriyanadi Maha Thera, “Kalau umat Buddha mendengar ada orang yang dekat dengannya. Sebaiknya ucapan yang disampaikan bukan turut berduka cita, karena dengan meninggalnya di alam ini mereka kemungkinan dapat terlahir di alam bahagia. Bagaimana disebut berduka sementara mereka bahagia. Karena kematian adalah awal dari kehidupan berikutnya. Beliau menyarankan kepada kita semua sebaiknya untuk mengucapkan kata-kata sebagai berikut : “Turut mendoakan semoga yang meninggal dapat terlahir di alam bahagia.” Ucapan lain “Sabbe Sangkhara Anicca” artinya segala keadaan yang berkondisi adalah tidak kekal. Semua akan mengalami perubahan, tidak ada yang kekal atau bertahan terus menerus.

III.4.2. Karma penguat
Karma ini menguatkan hasil dari karma penghasil. Seperti kisah dewa penghuni istana Lakhuma, saat Monggalana melihat penghuni istana tersebut memiliki keelokan melebihi lainnya, membuat segala penjuru bersinar bagaikan bintang.  Monggalana pun bertanya perbuatan apa yang dilakukan olehnya sehingga memiliki keanggungan demikian. Dewa penghuni istana itu pun menjawab, “Ketika saya terlahir sebagai manusia, saya memberikan persembahan makanan kepada pertapa suci/ bhikkhu, pada hari uposatha menjalankan Atthangasila (delapan macam Sila), selalu terkendali oleh kebiasaan-kebiasaan moral, melatih untuk tidak membunuh makhluk-makhluk hidup, tidak mencuri, tidak melakukan perbuatan asusila, tidak berbohong dan minuman yang memabukkan. Karena perbuatan inilah maka keelokkanku sedemikian rupa, karena inilah saya sejahtera di sini dan di sana, muncul apapun sesuai dengan kesenanganku.

Kisah lainnya berkaitan dengan Peta pemburu rusa. Dikatakan bahwa di Rajagaha hiduplah seorang pemburu mencari nafkah dengan menembak dan membantai rusa siang dan malam. Dia memiliki seorang teman, seorang pengikut awam. Pengikut awam ini, walaupun tidak berhasil membujuk agar dia tidak senantiasa melakukan tindakan-tindakan jahat. Tetapi dapat menggugah hatinya untuk berperilaku baik pada malam harinya. Dia berkata, “Ayolah, sahabatku, janganlah menghancurkan kehidupan makhluk hidup pada malam hari.” Pemburu itu pun tidak melakukan pembunuhan pada malam harinya, dia menghancurkan kehidupan makhluk pada siang hari saja. Setelah mati, dia terlahir di alam Vimanapeta di dekat Rajagaha. Dia menjalani penderitaan pada siang harinya, tetapi pada malam harinya dia menikmati kesenangan-kesenangan. Begitu pula dengan mereka yang pada kehidupan lampaunya dia melatih kemurahan hati/ berdana, karena tidak terlahir di alam dewa, dia terlahir di alam manusia dengan diberkahi kekayaan berlimpah ruah. Terkadang kita mungkin melihat dan menyaksikan ada orang yang luar biasa kayanya, usaha yang dijalankan selalu besar dan mendatangkan keuntungan yang tinggi.

Mereka yang menjalankan sila dengan sempurna, pada saat kematian dia dilahirkan kembali di alam manusia di keluarga agung dan memiliki moral yang baik pula. Karena terlahir di keluarga demikian, anak ini pun memiliki potensi kebaikan. Sementara orang yang sangat jahat pada kehidupan sebelumnya dia terlahir di alam manusia dalam keadaan ekonomi yang begitu berat dan dia selalu mengalami rintangan-rintangan hidup.

III.4.3. Karma pelemah
Karma ini melemahkan efek dari karma penghasil. Misalnya orang yang terlahir di keluarga yang tidak mampu. Tetapi anak tersebut berusaha dengan giat dan penuh semangat. Meskipun dia harus menghadapi rintangan berulang kali dalam memperbaiki diri. Baik dari komunitas tempat dia huni maupun masyarakat di sekitarnya. Umumnya orang yang hidup di sana terlibat pada minuman keras, suka berjudi atau terlibat pada perbuatan tercela. Tetapi karena dia memiliki dasar kebajikan yang tersembunyi dia pun dapat membebaskan dari kondisi tersebut. Dia mampu menghadapi semua rintangan dan bahkan dapat tumbuh baik tidak menjadi anak nakal. seperti bunga teratai yang muncul dari permukaan kolam yang keruh. Sehingga dia dapat membebaskan dirinya dari kondisi lingkungan tempat dia huni dan menjadi orang yang berarti. Begitu pun dengan orang yang terlahir di keluarga yang cukup atau kaya. Seharusnya dia dapat menikmati pendidikan dengan baik tetapi karena karma pendukung untuk kepandaian tidak ada. Dia tidak dapat memanfaatkan fasilitas yang dia peroleh.

III.4.4. Karma Penghancur
Karma ini menghancurkan sebab dari akibat yang akan muncul. Seperti suatu keluarga yang miskin, tetapi anak-anaknya pintar dan cantik. Kepandaiannya tersebut menarik hati majikannya. Dia pun dinikahkan dengan anak majikannya dan dipercaya untuk mengelola perusahaan. Dengan masuknya dia di keluarga tersebut, tentunya kehidupan ekonominya pun ikut berubah. Dia tidak lagi miskin tetapi telah menjadi kaya. Kita pun dapat melihat kehidupan orang-orang yang berkecukupan baik dari jabatan maupun kekuasaan yang dimiliki. Tetapi karena dia menyalahgunakan kekuasaan yang dimilikinya. Seharusnya dia dapat bertahan terus-menerus dan dihormati orang. Tetapi karena keserakahan dia melakukan tindakan tidak baik. Akibatnya namanya tercemar dan kekayaannya merosot atau musnah karena disita negara atau instansi tempat dia mengabdi.


IV. PENUTUP
Kemauan/Kehendak Bebas menentukan perjalanan kehidupan kita. Walaupun hidup kita sudah terkondisi pada masa lampau, tetapi sepenuhnya ada di dalam diri kita untuk mengubah kondisi itu dan menciptakan kesejahteraan saat ini dan masa mendatang. KARMA, bukanlah 'NASIB', bukanlah 'TAKDIR' yang tidak dapat diubah. Tidak pula seseorang terikat untuk memetik semua yang telah ditanam dalam proporsi yang sebegitu. Perbuatan (Karma) seseorang pada umumnya tidaklah mutlak tidak dapat diubah; dan hanya sedikit saja yang demikian (tak dapat diubah). Sebagai contoh. jika seseorang menembakkan sebutir peluru dari senapannya. seseorang tak dapat memanggilnya kembali atau membelokkan nya dari sasarannya. Tetapi sebaliknya. jika itu bukan sebuah peluru (bola) timah atau besi yang melesat di udara, melainkan sebuah bola gading di atas papan-bilyar. Seseorang dapat menyusul kan bola lain di belakangnya dengan cara yang sama dan mengubah jalannya.

Meskipun demikian, ada batasan-batasan dalam kehendak bebas itu. Ada empat faktor yang mempengaruhi kehendak bebas, yakni: Karma Individu dari kehidupan Masa Lampau dan Sekarang, Potensialitas dan Kebebasan yang Inheren dalam sifat-dasar diri kita, Pengkondisian dari Luar, dan Karma Kolektif yang telah matang. Potensialitas dan Kebebasan yang Inheren dalam sifat dasar diri kita, maksudnya adalah tiap-tiap individu telah memiliki kebebasan untuk memilih atau menentukan sesuatu. Sedangkan yang dimaksud dengan Pengkondisian dari Luar adalah kondisi lingkungan sekitar yang kita alami, misalnya dengan siapa bergaul, saat hujan, panas, siang, ataupun malam.

Ada 4 (empat) penyebab kehilangan Karma Baik, yaitu : tidak melakukan dedikasi/ pelimpahan jasa kebajikan atas perbuatan-perbuatan baik yang telah dilakukan ; kemarahan ; penyesalan atas perbuatan baik dan menyombongkan diri. Sementara itu ada 5 (lima) komponen kekuatan untuk memurnikan karma negatif : Penyesalan / Pertobatan ; tekad/Aditana untuk tidak mengulangi tindakan merugikan itu lagi ; perbanyak perbuatan baik dan murnikan pikiran ; mengambil perlindungan pada Triratna, dan membangkitkan sifat Welas Asih kepada semua makhluk dan latihan-latihan (Latihan apapun termasuk Namaskara, Meditasi dan Membaca Sutra/ Mantra).  Last Updated on Saturday, 29 November 2008 17:01 (Siddhi Surabaya)
Readmore...

Hari Siwaratri

 

Siwaratri (Mahasivaratri) adalah Hari suci umat Hindu baik di India dan Indonesia khusus untuk memuja Dewa Siwa.Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat manusia, karena pada hari tersebut Dewa Siwa beryoga. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri, pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa, dalam usaha menimbulkan kesadaran diri (atutur ikang atma ri jatinya). Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa upawasa, monabrata dan jagra. Siwarâtri juga disebut hari suci pajagran.

Sejarah Siwaratri di Indonesia khususnya dilaksanakan di Bali saat ini berdasarkan penanggalan tahun Saka Jawa yang jatuh pada Bulan mati Ketujuh (Tilem kepitu) yaitu Januari-Februari dalam bulan Masehi. Pelaksanaan Siwaratri di Indonesia berdasarkan text Lontar Siwaratri Kalpa, kisah Si Lubdhaka karya Mpu Tanakung. dimana Lubdaka yang selama 36 jam tidak turun-turun dari pohon Bila, karena takut disergap harimau, tetapi tanpa sengaja disaat itu dia sudah mengiringi tapa-brata Bhatara Siwa secara penuh.

Sedangkan di India Sivaratri dilaksanakan pada  malam ke14th 13 dari bulan Maagha pada penanggalan Salibahana atau bulan  Phalguna bulan pada kalender Vikrama yang jatuh pada bulan Februari- Maret Masehi. Mahasivaratri  di India berdasarkan pada Garuda Purana yaitu cerita tentang Raja Chitrabhanu dari dinasti Ikshvaku , yang memerintah atas seluruh Jambudvipa (India), sedang menjalankan puasa dengan istrinya, karena hari itu adalah harii Maha Shivaratri. Seorang Brahmana bernama Ashtavakra datang berkunjung ke kerajaan. Brahmana itu bertanya raja tujuan nya menjalani puasa. Raja Chitrabhanu menjelaskan bahwa ia memiliki karunia mengingat insiden kelahiran masa lalunya, dan dalam kehidupan sebelumnya ia telah pemburu di Varanasi dan namanya Suswara. Cerita Suwara berikutnya sangat mirip dengan cerita Lubdaka di Indonesia yang akhirnya mendapat Karunia dari Dewa Siwa.

Pelaksanaan Siwarartri di Bali biasanya dilakukan terdiri dari:
  1. Utama, melaksanakan:
    1. Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).
    2. Upawasa (tidak makan dan tidak minum).
    3. Jagra (berjaga, tidak tidur).
  2. Madhya, melaksanakan:
    1. Upawasa.
    2. Jagra.
  3. Nista, hanya melaksanakan:
    Jagra.
PENEBUSAN DOSA

Saat ini masih terjadi perdebatan tentang cerita Lubdaka apakah sebuah dosa bisa ditebus dan dihapus?  Berdasarkan Bhagavad Gita III-9 bahwa kita tidak boleh terikat akan perbuatan kita dan segala perbuatan ditujukan pada Tuhan. Bhagavad Gita V-2 Sri Bhagavan bersabda: Penyangkalan dari kegiatan kerja dan pelaksanaannya yang tanpa pamrih keduanya mengantarkan pada pembebasan roh. Tetapi dari keduanya itu, yang lebih baik adalah pelaksanaan kegiatan kerja tanpa pamrih. Bhagavad Gita V-6 Tetapi, penyangkalan kerja sulit dicapai tanpa yoga, wahai Mahabahu (Arjuna), orang bijak yang bersemangat dalam melakukan yoga, dengan segera mencapai Yang Mutlak (Tuhan).

Cerita Lubdaka maupun Suswara adalah cerita yang menurut saya adalah sebuah symbol tercapainya pembebasan : Lubdaka adalah Sang Roh, Pohon Bila yang penuh duri adalah Jalan pertapaan yang sangat menyakitkan untuk didaki, Harimau adalah Dosa dan Sifat kehewanan kita, Lingga Siva adalah Tuhan dan daun Pohon Bila setiap perenungan akan kesadaran yang dilakukan.

Disini Sang Roh yang terus dikejar oleh Sifat kehewanan dan dosanya pada akhirnya harus naik pada pohon pertapaan yang penuh duri dan menyakitkan, agar terus terjaga sang roh harus mengingat Tuhan dengan bantuan daun bila, yaitu perenungan akan dosa" kita sehingga tercapai hubungan dengan Tuhan. dan waktu jaga itupula menunjukkan waktu kehidupan sang Roh.

Selamat Hari Raya Siwaratri semoga semua mahluk berbahagia, Pembebasan diperoleh jika berhentinya samsara Samsara ada karena proses karma, terhentinya Samsara terhentinya karma. bagaimana menghentikan Karma adalah tersadarkan sepenuhnya untuk berbuat tanpa terikat hasil.

Om Hari hara ya Namaha
Readmore...

Terjemahan Lontar Calon Arang

 

Calon Arang (terjemahan Indonesia)

 1. 1b //o// Semoga tidak ada halangan //o//

Ada perkataan orang-orang tua yang mengisahkan hakikat Sri Mpu Baradah ketika beliau tinggal di pertapaannya di Lemah Tulis. Tidak ada tandingan mengenai kesaktiannya, terutama dalam menghayati Dharma. Beliau sempurna dalam hal penghayatan, mengetahui ilmu kesempurnaan dunia. Demikianlah pelaksanaan kesempurnaan tapanya. Beliau mempunyai seorang putrid, bernama Sang Wedawati, gadis belum bersanggul, sangat cantik(nya), bagaikan bidadari turun ke bumi. Setelah itu sakitlah istri Sri Mpu Baradah, ibu Sang Wedawati itu. Akhirnya beliau meninggal. Wedawati sedih dan menangis. Dia memeluk mayat ibunya, keluh kesahnya mengharukan, “Aduhai, ibuku, siapakah yang akan mengasihi hamba lagi?”
2a. Maka disuruhlah membawa mayat itu ke kuburan, agar dibakar di kuburan. Setelah sempurna, beliau pun mencapai kelepasan. Tidak diceritakan beliau itu. Lalu Mpu Baradah mencari istri lagi. Kemudian, beliau berputra seorang laki-laki. Semakin dewasa umur(nya) anak itu, sudah cukup usia untuk berlari-larian, sampai sudah dapat memakai kain. Mpu Baradah pergi ke pertapaannya, di tempat tinggal beliau, tempat dia melakukan yoga, bernama Wisyamuka. Di sanalah beliau melakukan korban, dihadap oleh para muridnya. Di tempat itulah beliau mengajarkan ajaran kebenaran dan kebaikan. Hentikanlah sejenak, diceritakanlah Sang Wedawati. Gadis ditu dicaci maki oleh ibu tirinya, maka Sang Wedawati sangat sedih. Menangislah dia, tidak sempat memakai perhiasan dan makan. Kemudian, dia pergi ke tempat pembakaran ibunya, di kuburan itu.
2b. Lepaslah perjalanannya, telah datang di bawah lindungan pohon beringin besar. Ia bertemu dengan mayat, mayat orang yang mati yang diduga karena těluh. Empat mayat banyaknya. Adapun anaknya hendak menyusu pada mayat ibunya, (yang) dikerumuni oleh semut gatal. Sang Wedawati sangat terharu melihatnya. Dia berjalan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu, lalu menuju ke tempat pembakaran ibunya. Duduklah dia di bawah naungan pohon kepuh. Dia menangis berlindung di akar pohon kepuh itu, mengelukan kepada ibunya, “Ibu, jemput aku segera.” Begitulah seruan Sang Wedawati memilukan hati. Tidak akan disebutkan Dyah Wedawati. Diceritakan Sri Mpu Baradah pulang dari bersembahyang di Wisyamuka. Beliau duduk di tempat pertemuan. Datanglah istrinya, memberitahukan ucapan penolakan Wedawati memetik bunga dengan adiknya.
3ab. Bunga itu direbutnya, keduanya pun menangis, lalu dia pergi. Dicari oleh sanak keluarga tidak dijumpai. Sang Pendeta berkata, “Sayalah yang akan mencarinya sekarang.” Sang Pendeta segera lenyap, ikut akan mencari anaknya, sampailah beliau di ladang-ladang. Ada anak gembala ditemuinya. Sang pendeta bertanya dengan ucapnya halus, “Hai Anak Gembala, tahukan kau wanita bernama Wedawati. Adakah dia engkau temui di sana dan bagaimanakah?” Anak gembala menjawab, memberitahukan kepada Sang Pendeta, “Ada putri sangat cantik rupanya. Dia menangis, mengeluhkan ibunya. Dia berkerudung pergi ke selatan ke barat”. Sang Pendeta mempercepat jalannya, menanti putrinya. Beliau segera datang ke tampat pembakaran istrinya ditemui jeajaknya. Dia bersedih sambil menangis, memandang kea rah utara, selatan, barat dan timur. Kelihatan Sang Putri menangis duduk di atas batu, berlindung di akar pohon kepuh. Berkatalah Sang Pendeta, “Aduhai Anakku, engkau sangat berani datang ke kuburan ini, ke pembakaran mayat ibumu. Sudahlah Anakku, janganlah begitu, sebab perilaku dalam kehidupan, kematianlah akhirnya. Marilah Anakku pulang, jangan keras (hati) sayangku.” Sang putri menjawab, “Saya akan turut mati saja bersama ibu. Hati saya sangat sedih dan pasti akan mengikuti kepergian ibu.” Sang Pendeta berkata, “Anakku tersayang ikuti saya sekarang.” Kemudian, beliau minta Sang Putri agar pulang. Terbenamlah matahari, tiba di Lemah Tulis. Dinasihatilah semalam Sang Wedawati oleh Sang Pendeta, (mengenai) jalan menuju kebaikan. Sang Wedawati mengikuti nasihat Sang Pendeta. Setelah demikian
4a. Sang Pendeta pergi melakukan persembahan rutin bersama di Wisyamuka. Di sana Sang Pendeta dihadap oleh muridnya semua, diberi persembahanlah beliau di sana. Sang Pendeta mengajarkan ajaran kebaikan kepada muridnya semua diberitahukanlah mereka di sana. Sang Pendeta menyampaikan (mengajarkan) tentang tuntunan kebenaran, kepada semua muridnya mengenai dharma dan kesempurnaan menuntut ilmu. Tidak diceritakan Sang Pendeta. Diceritakanlah Sang Wedawati dimarahi oleh ibu tirinya lagi. Sang Putri menangis, bingung dalam bertingkah laku. Dia sangat sedih. Dia pergi lagi ke tempat pembakaran mayat ibunya. Tidak diceritakan perjalanannya di jalan. Ia segera tiba di tempat pembakaran. (Ia) bersedih dan menangis, keluh kesahnya, “Ibuku, lihatlah olehmu kesengsaraanku, (tetapi) permintaanku kepadamu, renggutlah aku cepat-cepat. Aku akan selalu bersamamu ibu.” Demikian(lah) keluh kesahnya, keluar air mata. Sang Wedawati sedih. Jangan bersamanya. DIceritakanlah Sang Pendeta. Beliau dating dari melakukan persembahan utama.
4b. Beliau duduk di balai penghadapan. Dipanggillah anaknya, “Omputri engkau Anakku, datanglah kemari (kau) Wedawati sayangku, berdua bersama adikmu di penghadapan? (Mengapa) tidak ada yang menjawab?” Kemudian, ibu tirinya mendekat (lalu) berkata. Ucapnya, “Tuanku Sang Pendeta, anak Sang Pendeta menolak lagi, datang berebutan dengan adiknya itu.Hamba tidak dapat menahan, cepat-cepat pergi, dicari keluarganya, tidak ditemuinya.” Sang Maharsi berkata, “Aduh, dia datang lagi ke pembakaran ibunya di sana.” Sang Pendeta (lalu) turun dari tempat duduk hendak mencari anaknya. Dia akan datang ke tempat yang kotor. Sang Pendeta berjalan cepat, setibanya Sang Pendeta di kuburan it, dijumpai putrinya. Sang Pendeta berkata, “Aduhai Anakku, Wedawati sayangku, pulanglah anakku ke asrama. Saya akan mengiringkanmu. (Kamu) tidak lain menjadi
5a. jiwa pikiran dalam lubuk hati. Engkau bunga jangga. “Sang Wedawati tidak menjawab. Ucapan Sang Pendeta minta belas kasih. Bingunglah hati Sang Pendeta, melihat perilaku anaknya itu. Sang Pendeta duduk di bawah naungan pohon kepuh. Beliau kemudian mengajarkan tuntunan kebaikan kepada putrinya. Lama (beliau) Sang Pendeta memberi ajaran kepada anaknya. Akhirnya Sang Wedawati berkata, “Sembah sujud di telapak kaki Paduka. Anak Sang Pendeta enggan pulang ke Lemah Tulis, ingin mati saja di sini, mengikuti pesan ibu hamba. Saya ingin berlindung di bawah naungan pohon kepuh, hingga pada saatnya menemui ajal. Hamba mati saja di sini. “Mpu Baradah memerintahkan kepada murid-muridnya. Segera menyuruh mengusung balai dan rumah untuk tempat peristirahatannya di kuburan itu. Demikianlah keinginan Sang Pendeta.
5b. Di kuburan tempat pembakaran itu akan dibuat asrama. Mereka meratakan dan menyucikan tanah kuburan, mendirikan balai, ruang tamu, ruang tidur, utamanya rumah kecil, pintu bertingkat di pinggir. Pagar tanaman suru-suru dijajar padma, dan pete-petean. Ada angsoka (Tonesia asoka Roxb), andul (Eleo carpus specious), surabi (Michelia campaka), tanjung, kamuning (Murrava), campaka gondok, warsiki, angsana (Terminalia tomentosa), jering (Pithecolibium). Ada lagi nagasari berdaun muda. Tidak akan disebutkan segala jenis bunga, cabol atuwa, gambir, bunga melati (Jasminum grandiflorum), caparnuja, kuranta (Barbaria), pohon teri naka (Bauhinia tumentosa), cina (Artocarpus integrifolia), teleng (Clitorea ternatea), bunga wari dadu (Pink), putih, jingga, merah, bunga tali, teratai merah, dan lungid sabrang. Termasuk bayem raja (Amarantus oleraccus), bayem suluh, tumbuhan berakar (Ikut Lutung) (Acalupha deusiflora), tumbuhan berserabut, disertai bunga rara emas (Rara Melayu). Bunga seruni putih, seruni kuning, mayana loreng, mayana nila (Coleus cutellanoides). Ada yang kuning, lungid sabrang, andong (Calodracon jaquinia) ditata, juga pohon kancana (kayu mas), puring, tunjung, pohon ara di pojok. Lengkap segala macam bunga dan berjenis-jenis kembang. Pandan janma telah berdiri kokoh, menuruti cara kehidupan di asrama,
6a. sangat indahnya, mengesankan bagaikan alam Dewa Wisnu turun ke dunia. Senang hati Sang Wedawati, setelah asrama itu selasai dibuat, kuburan tempat ibunya dibakar. Kokoh tempat tinggal Sang Pendeta, ada di pertapaannya dihadap oleh murid tua dan muda pada waktu siang dan malam. Tidak dikatakan Sang Pendeta. Diceritakanlah Sang Raja di Daha. Beliau memerintah dengan damainya, menguasai dunia, aman dan sejahtera kerajaan dalam kekuasaannya. Maharaja Erlangga gelar beliau, berbudi sangat mulia, cenderung meniru Pendeta. Berbagai pulau di Nusantara tunduk kepada beliau. Disebutkan ada seorang janda, tinggal di Girah, Calon Arang namanya. Dia berputra seorang wanita, bernama Ratna Manggali, parasnya sangat cantik, bagaikan permata istana. Lama tidak ada orang yang hendak melamarnya, baik orang dari Girah maupun orang dari Kerajaan Daha,
6b. atau pun daerah pinggiran, sama tidak ada yang hendak melamarnya, berani datang ke tampat anak janda itu, yang bernama Manggali di Girah, karena terdengar oleh dunia bahwa beliau (Randa) di Girah berbuat jahat. Menjauhlan orang yang ingin melamar Sang Manggali.. Sang Randa pun berkata, “Aduh apakah ini yang membuat anakku tidak ada yang melamarnya, (padahal) cantiklah rupanya, kendatipun demikian tidak ada yang menanyakannya. Sakit juga hatiku oleh keadaan itu. Berdasarkan hal itulah aku akan mengambil pustakaku. Apabila aku telah memegang pustaka itu, aku akan datang menghadap Paduka Sri Bagawati. Aku akan minta anugerah, semoga binasalah orang-orang di seluruh kerajaan. “Setelah beliau mengambil pustaka, pergilah ia ke kuburan. Ia mohon anugerah Tuhan ke hadapan Paduka Batari Bagawati, diikuti oleh muridnya semua. Adapun nama masing-masing
7a. muridnya itu : Si Weksirsa, Mahisawadana, Si Lendya, Si Lende, Si Lendi, Si Guyang, Si Larung, dan Si Gandi. Itulah yang mengiringkan Sang Randa di Girah. Mereka (bersama) menari di kuburan itu. Segera muncul beliau Paduka Batari Durga bersama pengikutnya banyak, semua turut menari (bersama). Calon Arang memuja kepada beliau Paduka Batari Bagawati. Batari berkata, “Aduhai engkau anakku, Calon Arang. Apa maksudmu datang menghadap kepadaku, (maka) engkau diikuti oleh para muridmu semua, datang memujaku bersama-sama?” Sang Randa berkata menyembah, “Tuanku, putra Tuankan hendak mohon, mudah-mudahan binasalah orang-orang di seluruh kerajaan. Begitulah tujuan utama putra Tuanku.” Batari berkata, “Aduh putraku. Ya, aku bolehkan, tetapi janganlah membunuh sampai di tengah. Jangan membunuh sangat dendam anakku.” Sang Randa menyetujui, mohon dirilah ia kepada Batari Bagawati. Sang Calon Arang
7b. segera pergi, lepas jalannya, diiringi oleh muridnya semua. Mereka menari di pekuburan di tengah malam, membunyikankamanak, kangsi bersama-sama menari. Setelah selesai menari, kembalilah mereka ke Girah. Mereka bersenang hati pulang ke rumahnya. Tidak lama sakitlah orang-orang di desa-desa. Banyak yang mati bertumpuk-tumpuk. Tidak diceritakan Calon Arang itu. Diceritakanlah Sang Raja di kerajaan. Sri Maharaja Erlanggya duduk dihadap di balai penghadapan. Lalu berkatalah Rakryan Apatih. Ucapnya, “Patik hamba Batara memberitahukan di hadapan Tuan Hamba, karena rakyat Tuan Hamba banyak mati, sakit panas dingin sehari dua hari lalu meninggal. Adapun yang kelihatan menjalankan (těluh) janda Girah, bernama Calon Arang. Dia menari di sana di pekuburan, datang bersama muridnya. Banyak yang melihat mereka itu bersama-sama di sana.” Begitulah laporan Ken Apatih.
8a. Semua orang di tempat persidangan sama-sama membenarkannya, memang benar demikian, seperti laporan Ken Apatih. Sang Raja berkata dengan sedih, kemudian beliau marah, “Manakah rakyat dan prajuritku.” Tidak lama bersamaan datang prajurit “tentara rahasia”. Pergilah kamu, serbu dan bunuh Calon Arang. Jangan engkau seorang diri, hendaklah engkau membawa prajurit banyak, jangan lengah.” Semua prajurit minta diri menghormat di hadapan Sang Raja, “Hamba Raja mohon pamit serta mohon perlindungan Dewa. (Hamba) akan membunuh janda di Girah.” Prajurit itu berangkat. Tidak diceritakan perjalanan di jalan, segera sampai di Girah. Tibalah para prajurit di tempat tinggal Calon Arang. Mereka hendak membunuh selagi waktu orang-orang sudah tidur, pada waktu tidak ada tanda-tanda orang bangun. Para prajurit segera mengikat erat-erat rambut Sang Randa, menghunus kerisnya. Ketika mereka hendak menusuk Randa, tangan prajurit itu terasa berat dan gemetar. Tiba-tiba Calon Arang terkejut bangun. Keluarlah
8b. api dari mata, hidung, mulut dan telinga. (Api) menyala berkobar-kobar membakar prajurit itu. Matilah dua orang prajurit itu. Yang lain menjauh, cepat-cepat lari. Tidak diceritakan perjalanan di jalan. Mereka segera sampai di istana. Sisa prajurit yang mati itu berkata, “Tuanku yang mulia, tidak berhasil prajurit Paduka Tuanku. Dua orang meninggal akibat sihir janda di Girah. Memancarlah api dari badan berkobar-kobar, membakar prajurit Paduka Tuanku.” Sang Raja berdiam tertegun mendengar laporan prajuritnya. Lalu Sang Raja berkata, “Hai, Mahapatih, bingunglah hatiku mendengar laporan “tentara rahasia” itu. Bagaimanakah engkau menjaga mantriku semua?” Tiba-tiba Sang Raja segera pergi dari tempat pertemuan, bertambah sedihlah Raja karena “tentara rahasia” mati dua orang. Tidak diceritakan Sang Raja, akan diceritakanlah jandi di Girah. Makin bertambahlah
9a. marahnya karena kedatangan para prajurit, apalagi tentara Sang Raja. Calon Arang berkata memberitahukan kepada muridnya, mengajak pergi ke kuburan. Dia mengambil lagi buku suci itu. Setelah mengambil buku suci itu, dia segera pergi diikuti oleh muridnya semua. Dia datang di pinggiran kuburan, tempat di bawah naungan pohon kepuh, dikelilingi keindahan. Daunnya lebat menjulur menutup sampai ke bumi. Di bawahnya jalan yang datar (bersih), seperti disapu pada siang dan malam. Di sanalah janda Girah duduk, dikerumuni oleh semua muridnya. Si Lendya bertanya kepada Sang Randa, “Mengapa Tuanku berbuat seperti sekarang, terhadap kemarahan Sang Raja? Lebih baik mencari keselamatan, menyembah di hadapan Sang Pendeta yang hendak menunjukkan surga kematian.” Lalu Si Larung berkata, “Apakah yang dikhawatirkan terhadap kemarahan Sang Raja? Sebaliknya, diperkuatlah
9b. penyerangan sampai ke wilayah tengah.” Mereka (semua) mendukung ucapan Si Larung (mengikuti) Ni Calon Arang menurut. Kemudian dia berkata, “Ya, diperkuatlah tujuanku Larung. Bunyikanlah kamanak kangsimu itu. Marilah kita menari, satu per satu, akan kulihat gerakanmu masing-masing. Nanti jika tiba saatnya, kau bersama menari.’ Si Guyang segera menari, gerak tarinya merentang-rentangkan tangan menepuk-nepuk. Dia bergerak terengah-engah sukar terbalik bersama kainnya. Matanya melirik-lirik, menoleh ke kanan dan kiri. Si Larung pun menari, geraknya bagaikan harimau hendak menerkam mangsa, matanya berwarna merah. Ia telanjang. Rambutnya terurai ke depan. Si Gandi menari. Dia menari melompat-lompat, rambutnya terurai di samping. Matanya kelihatan mirip ganitri. Si Lendi menari, tariannya dengan melangkah cepat (berhenti sejenak lari lagi) dengan kainnya. Matanya
10a. menyala, bagaikan api hampir membakar, mendekat ke rambutnya yang terurai. Si Weksirsa menari, gerak tarinya membungkuk-bungkuk, lirikan matanya memandang tanpa berkedip, rambutnya terurai ke samping. Ia telanjang. Si Mahisawadana menari dengan satu kaki. Setelah (menari) dengan satu kaki, dia berjungkir balik dengan lidahnya menjulur ke luar, tangannya bagaikan hendak menerkam. Senanglah hati Calon Arang. Setelah mereka menari bersama, dia membagi tugas masing-masing, menjadi lima arah. Si Lendi di Selatan, Si Larung di Utara, Si Guyang di Timur, Si Gandi di Barat, Calon Arang, Si Weksirsa, dan Mahisawadana di tengah. Setelah mereka membagi menjadi lima penjuru itu, pergilah Sang Calon Arang ke tengah kuburan. Ia menemukan mayat orang mati mendadak, pada hari Sabtu Kaliwon. Mayat itu didirikan,
10b. diikatkan pada pohon kepuh. Mayat itu dihidupkan, diberi nafas. Si Weksirsa dan Mahisawadana membukakan matanya. Hidup kembalilah mayat itu. Mayat itu dapat berbicara. Ucapnya, “Siapakah Tuan yang menghidupkan hamba, sangat besar hutang hamba. Hamba tidak tahu membalasnya itu. Hamba hendak mengabdi kepadanya. Lepaskanlah ikatan hamba dari pohon kepuh. Hamba hendak berbakti dan bersujud, hendak menjilat debu pada kaki Tuan Hamba.” Lalu Si Weksirsa berkata, “Engkau kira engkau akan hidup lama? Sekarang engkau akan kupenggal lehermu dengan golok.” Segera lehernya dipenggal dengan golok. Melesatlah kepala mayat yang dihidupkan itu, darahnya menyembur menggenang. Darah itu dipakai mencuci rambut oleh Sang Calon Arang. Kusutlah rambutnya oleh darah, ususnya menjadi kalung dan
11a. dikalungkannya, dengan secepatnya diolah dipanggang semua, digunakan untuk korban para “makhluk buta”, (dan) segala yang tinggal di kuburan itu, terutama Paduka Batari Bagawati. Korban utama itu dihaturkan. Segera muncullah Paduka Batari dari kahyangannya. Lalu berkatalah ia kepada Calon Arang, “Aduh, Anakku Calon Arang, apakah maksudmu mempersembahkan makanan kepadaku, bakti menyembah? Saya terima persembahanmu itu.” Janda Girah menjawab, “Tuanku, penguasa dunia (raja) marah kepada putra paduka Tuanku Batari. Maksud Patik Batari, mohon perkenan Batari, untuk membinasakan orang di seluruh kerajaan sampai di tengah sekali.” Batari berkata, “Ya, aku senang Calon Arang, tetapi engkau jangan tidak waspada dalam bertindak, jangan lengah.”Lalu janda di Girah minta pamit, menghormat
11b. kepada Batari. Segera lepaslah perjalanannya. Mereka bersama-sama menari di perempatan jalan. Seluruh kerajaan terserang penyakit, sakit semalam dua malam, tidak lain panas dingin sakitnya. Orang-orang itu meninggal, bergantian menguburkan (orang mati). Esok pagi menguburkan temannya, sore hari ia dikuburkan. Mayat bertumpuk-tumpuk tindih-menindih di kuburan. Tidak ada selanya di kuburan dengan batas lubang pembuangan air, karena banyaknya mayat itu. Yang lain di ladang atau pun di jalan, ada pula membusuk di rumahnya. Anjing melolong makan mayat. Burung gagak terbang berkeliaran, ikut bersama-sama mematuk-matuk bangkai. Lalat berdengung bergemuruh di dalam rumah. Banyak rumah dan tempat tinggal yang kosong. Ada juga orangnya yang pergi jauh, mencari tempat tinggal yang bebas penyakit. Tujuannya mengungsi agar tetap hidup. Yang sedang sakit dipikulnya. Adayang mengemban anak dan yang dituntunnya, (ada) yang dibawa seseorang. Buta itu menyaksikan berteriak, teriaknya keras. Katanya,
12a. “Janganlah engkau pergi, desamu telah aman, penyakit telah hilang, kembalilah engkau ke sana, engkau pasti hidup.” Setelah Buta berkata begitu, banyak orang mati di jalan. Orang-orang itu pergi cepat membawa yang lain. Buta yang ada di rumah kosong, (mereka) bersenang-senang, ada yang berjungkir balik, riang gembira. Yang lain di lebuh dan di jalan besar. Si Mahisawadana masuk ke dalam rumah. Dia berjalan di antara batas. Sakitlah orang-orang serumah. Si Weksirsa masuk di tempat tidur orang, berjalan di samping tembok, membuka-buka potongan (leher), minta korban darah mentah dan daging mentah. “Itulah yang saya inginkan, janganlah lama-lama,” ucapnya. Tidak diceritakan orang-orang yang mati dan sakit dan tingkah laku Buta membunuh. Diceritakan Sang Raja di kerajaan. Beliau dihadap di balai penghadapan, kelihatannya kurang bahagia di balai penghadapan itu, akibat kesedihan Sang Raja, tingkahnya membingungkan.
12b. karena orang-orang di kerajaan banyak yang mati. Selain itu banyak orang yang sakit. Bagaikan tanpa cahaya kerajaan itu. Sang Raja segera bersabda kepada Apatih dan para Mentri Utama, mengutus agar mengundang Sang Pendeta, Sang Resi, Sang Bujangga, dan para Guru. Diperintahkan mencari upaya masing-masing, serta memuja Dewa, karena orang-orang di seluruh kerajaan merana. Para Guru mengadakan pemujaan dan Sang Pendeta memohon kepada Sang Hyang Agni. Kira-kira tengah malam muncullah Sang Hyang Caturbuja dari Sang Hyang Agni. Kemudian beliau berkata, “Om-om, adalah beliau bernama Sri Munindra Baradah, tinggal di pertapaan (berada) di Semasana di Lemah Tulis. Pendeta yang sempurna. Dialah yang dapat meruwat kerajaanmu, yang akan menghilangkan noda di dunia, membuat sejahtera dunia.” Setelah beliau bersabda demikian, moksa lenyap terbang (di angkasa). Para Maharsi yang mengadakan pemujaan itu senang mendengarkan semua
13a. sabda Sang Caturbuja. Kemudian pada esok hari, mereka bersama-sama melaporkan hal itu kepada Sang Raja, tentang semua ucapan Sang Caturbuja, ketika Sang Raja sedang dihadap di luar balai penghadapan. Sang Pendeta berkata, “Tuanku Sang Raja, adalah Sang Caturbuja, muncul dari Sang Hyang Agni (Api Pemujaan), lalu bersabda, bahwa Sang Sri Munindra Baradahlah yang akan meruwat kerajaan Tuanku. Beliau yang pertapaannya di Semasana Lemah Tulis yang akan menghilangkan noda di dunia. Begitulah sabda Sang Caturbuja.” Yakinlah Sang Raja, terhadap ucapan Sri Guruloka. Sang Raja memerintahkan supaya mengirimkan utusan menghadap Sang Muniswara, yang ada di Semasana, “Hai, Kanuruhan! Pergilah engkau ke pertapaan, di Semasana Wihcitra. Undanglah Sang Pendeta Sri Yogiswara Mpu Baradah. Kumohon agar meruwat kerajaan kami yang terserang wabah penyakit.
13b. Janganlah engkau tidak cepat.” Sang Kanuruhan segera minta pamit, menghormat di hadapan Sri Raja. Berangkatlah ia naik kereta ditarik kuda. Cepatlah perjalanan Kanuruhan itu. Ia kemalaman di jalan, tetapi berjalan juga diterangi sinar bulan, berkabut emas terhalang di jalan. Keesokan harinya Sang Kanuruhan berjalan. (Ia) segera datang di asrama. Ken Kanuruhan turun dari kereta. Ia masuk pintu asrama bertemu Sang Pendeta di pertapaannya. (Sang Pendeta) menyapa kepada tamu, beliau sungguh budiman, “He, bahagialah engkau laki-laki, saya tidak mengetahui engkau datang. Tentang tujuanmu ke asrama. Mengapa engkau langsung mencari saya pada pagi hari? Namun saya telah tahu tentang keinginanmu itu.” Berkatalah Kanuruhan memberitahukan kepada Sang Pendeta, “Hamba
14a. berasal dari Kerajaan Kadiri. Hamba Kanuruhan, diperintahkan untuk mendatangi Tuanku Yang Mulia, Sang Pendeta, untuk mengundang Sang Pendeta. (Hamba) diutus oleh Sang Penguasa dunia. Adapun maksud raja agar Sang Pendeta datang ke kerajaan. Sang Penguasa dunia meminta belas kasihan Sang Pendeta, mohon agar orang-orang di seluruh kerajaan dihidupkan oleh Sang Pendeta. Sang Pendetalah yang hendak menyucikan kerajaan dari malapetaka, karena wabah penyakit, banyak (orang) yang mati. Adapun kerajaan dilanda wabah penyakit. Ada janda dari Girah, bernama Calon Arang. Dialah penyebab sakit itu. (Ia) mempunyai seorang anak putri bernama Manggali. Adapun penyebab sedih orang yang bernama Calon Arang, karena tidak ada orang yang mau melamar anaknya bernama Manggali. Sang Calon Arang sangat sedih.” Lalu Sang Jatiwara berkata, “Benar seperti yang dikatakan itu. Saya tidak menolak datang bersama ke sana. Ada murid saya seorang. Dia akan mengikutimu Kanuruhan
14b. ke kerajaan. Namanya Mpu Kebo Bahula. Dia akan kusuruh melamar Sang Manggali. Engkau Kanuruhan memberitahukanlah kepada Sang Penguasa dunia, apabila Mpu Bahula akan melamar Manggali. Berapa saja mahar yang diminta hendaklah dipenuhi oleh raja. Demikian pesan saya kepadamu. Saya juga nanti menasihati Mpu Bahula, apabila dia telah sehati dan kawin memadu kasih dengan Ratna Manggali.” Sang Kanuruhan mengiyakan. Sang Pendeta berkata lagi kepada pembantunya, menyuruh memasakkan makanan dan buah-buahan, karena di tempat(nya) Sang Kanuruhan tidak ada. Tidak lama datanglah jamuan dengan segala perlengkapan upacara sangat indah kelihatannya, tuak, nasi, ikan, tampo, berem , kilang juga sěrěbad budur. Kanuruhan segera makan bersama-sama. Mereka (bersama) minum cakilang, pikirannya sama-sama senang. Ada yang bernyanyi, bercerita,
15a. sambil menari. Apakah yang menyebabkan demikian? Karena sedang diperintah oleh raja, lalu mendapatkan makanan dan buah-buahan. Tidak semata-mata sejahtera seluruh kerajaan itu, pikirnya. Mereka bermalam di pertapaan semalam. Esok pagi Sang Kanuruhan minta pamit kepada Sang Pendeta. Mereka pun menghormat dan Mpu Bahula diserahkan. Tidak diceritakan dalam perjalanan Ken Kanuruhan, demikian pula Mpu Bahula, mereka segera sampai di istana. Dijumpailah Sang Raja yang sedang dihadap di Manguntur, dihadap para Adipati dan patih. Ken Kanuruhan dan Mpu Bahula kemudian datang ke tempat pertemuan. Ken Kanuruhan menghormat di depan Sang Raja, lalu ia berkata kepada Sang Raja, “Tuanku, tidak dapat didatangkan Sri Munindra oleh hamba. Itu siswanya saja bernama Mpu Bahula datang menghadap Paduka Sang Raja. Dia diperintahkan untuk melamar Ratna Manggali.
15b. Demikianlah pesan yang diberikan oleh Pendeta di Buh Citra. Jika diminta uang maharnya, berapa pun permintaan Sang Calon Arang, hendaklah dipenuhi saja oleh Tuanku Raja. Jika mereka telah sehati Mpu Bahula dengan Ratna Manggali nanti, pada waktu itulah Sang Pendeta hendak mengunjungi Mpu Bahula”. Sang Raja lalu berkata, “Saya menyetujui ucapmu Kanuruhan. Baiklah engkau antarkan Mpu Bahula ke Girah, disertai oleh kawan-kawanmu Kanuruhan!” Tidak diceritakan mereka di perjalanan. Ia segera tiba di Girah. Mereka masuk di perkarangan rumah Calon Arang. Mpu Bahula duduk di kursi tamu di sana. Tiba-tiba keluarlah
16a. Calon Arang. Segera menyambut tamu itu dan menyapanya. Ucapnya, “Om-om, bahagia engkau anak laki-laki, yang menjadi tamuku. Dari manakah asal Anda? Lagi pula hendak ke manakah Anda? Wajah penampilanmu sangat tampan seperti bukanlah keturunan orang hina. Saya bertanya kepada tamu ini (karena) tidak mengenalnya.” Mpu Bahula turun dari tempat duduk dan melepaskan ujung kain bawah. Lalu katanya perlahan, “Sungguh-sungguh Paduka sangat bijaksana dalam sastra dan agama, bagaikan meneteskan gula madu dari mulut Paduka. Semogalah tidak salah penerimaan yang Anda berikan yang membahagiakan diri hamba. Baiklah saya berterima kasih kepada Anda yang membahagiakan diri hamba, kepada Tuanku.” Janda Girah berkata, “Baiklah anak laki-laki marilah kita duduk di rumah dahulu.” Mpu Bahula duduk bersama Sang Calon Arang. Berkatalah
16b. Mpu Bahula, “Saya hendak mohon perkenan Tuan rumah, minta agar memberikan belas kasih kepada hamba. Tujuan hamba hendak melamar putri Tuanku, bernama Ratna Manggali. Barangkali saya tidak mengetahui isi hati Tuanku. Tentang tempat asal hamba, hamba bujangga dari Gangga Citra, anak Maha Pendeta di Lemah Tulis. Saya bernama Mpu Bahula. San Pendeta menyuruh supaya melamar putri Tuanku, Si Ratna Manggali. Tidaklah salah Tuanku berbesan dengan Sang Pendeta.” Randa diam, lalu berpikir di dalam hati. Dia sangat senang bermenantukan Mpu Bahula,, lebih lagi mempunyai besan Sang Pendeta, sangat senang rasa hati Calon Arang. Kemudian dia berkata, “Mengapa saya tidak senang, apabila Mpu Bahula hendak melamar anakku, seperti perintah Sang Pendeta?
17a. Namun, janganlah tidak sungguh-sungguh kamu dengan Ratna Manggali.” Mpu Bahula berkata, “Mengapa saya tidak akan bersungguh-sungguh dengan Manggali? Pun Bahula, hanya dengan surat (lamaran). Menuruti ucapan Tuanku mengenai uang maharnya, sepermintaan Tuanku. Saya akan datang menyediakannya.” Calon Arang berkata, “Hai, laki-laki, bukan tujuan besarnya mahar. Jika kau mau bersungguh-sungguh saja sesuai dengan harapanku, berapa pemberianmu kami terima.” Inilah yang diserahkan oleh Mpu (Bahula) : sirih tanda pertunangan, perak hadiah perkawinan, selendang, permata ratna mutu manikam yang bersinar. Lalu diterima oleh Calon Arang (saja) pemberian Mpu Bahula. Panjang apabila diceritakan. Tidak disebutkan siang dan malam, berhasillah dipertemukan Mpu Bahula dengan Ratna Manggali. Bahagia perkawinannya saling mencintai, mesra bagaikan dewa dan dewi siang dan malam. Tidak disebutkan Mpu Bahula.
17b. Diceritakan Calon Arang jika menjelang malam hari mengambillipyakara. Setelah pustaka itu diambil, ia segera pergi menuju ke kuburan. Kembalinya dari kuburan itu, sekitar tengah malam. Demikianlah beliau terus menerus. Mpu Bahula berkata kepada Sang Manggali, “Dinda, adikku tercinta, mengapakah ibu selalu pergi pada malam hari? Saya khawatir Dinda. Keinginan saya hendak mengikutinya, hidup atau pun mati saya akan bersama dengan ibu. Beritahulah yang sesungguhnya, Adikku! Apakah sebenarnya pekerjaan ibu, Dinda! Jika beliau sedang demikian, saya amat khawatir.” Lalu Ratna Manggali berkata kepada suami, “Kakakku akan saya katakan kepadamu, yang sebenarnya saja. Janganlah kakak mengikutinya berbuat seperti itu, sebab beliau pergi ke kuburan,
18a. akan menjalankan sihir, yang menyebabkan kerajaan hancur. Itulah yang menyebabkan banyak orang mati, mayat memenuhi tegal dan kuburan, banyak rumah yang kosong. Begitulah tujuan ibu.” Mpu Bahula berkata istrinya, “Adikku permata hati yang saya cintai, yang menjadi permata dunia. Kakakmu ingin tahu dan melihat anugerah itu, yang dipegang oleh ibu. Saya ingin mempelajarinya.” Ketika Calon Arang sedang pergi ke kuburan, pustaka itu diberikan oleh Sang Manggali kepada kakaknya. Lalu dibaca oleh Mpu Bahula, (lalu) hendak dimintakan izin kepada adiknya, untuk dimohonkan nasihat kepada Sang Pendeta. Lalu diizinkannya. Mpu Bahula segera pergi menuju Buh Citra. Tidak diceritakan dalam perjalanan. Ia segera datang di asrama
18b. di kuburan itu. Dia langsung menuju tempat Sang Pendeta. Beliau dijumpai sedang duduk di rumah kecil dihadap oleh muridnya. Beliau terkejut melihat Mpu Bahula datang membawa lipyakara. Menyembahlah Mpu Bahula di kaki Sang Pendeta, lalu menjilati debu yang berada di telapak (kaki) Sang Pendeta ditempatkannya di ubun-ubun. Senanglah hati Sang Pendeta, melihat kedatangan muridnya. Berkatalah beliau, “Om-om anakku Mpu Bahula datang. Kamu membawa pustaka untuk saya. Apakah barang itu milik Calon Arang?” Mpu Bahula memberitahukan kepada Sang Pendeta, memang benar pustaka itu milik Calon Arang. Lalu pustaka itu dipegang oleh Sang Pendeta. Sastra itu berisi hal sangat utama untuk jalan kebaikan, menuju kesempurnaan, puncak rahasia pengetahuan isi pustaka itu. Mengapakah (pustaka) diarahkan menuju jalan yang salah oleh Sang
19a. Calon Arang, menuju ke kiri, yaitu menjalankan ilmu sihir, kesengsaraan dunia dipegang. Sang Pendeta berkata kepada Mpu Bahula, “Kembalilah engkau ke Girah segera, bawa pustaka olehmu, suruh agar disimpan oleh adikmu Manggali. Saya besok pagi akan menceritakan kepadamu. Adapun saya melalui desa tempat yang terkena musibah dan di kuburan batas tegalan. Engkau pergilah mendahului.” Mpu Bahula lalu minta diri mengusap kaki kepada Sang Pendeta. Ia berangkat. Tidak diceritakah mengenai Mpu Bahula dan Ratna Manggali, mereka saling mencitai siang dan malam. Calon Arang sangat bahagia hatinya, sangat sayang kepada anak dan menantu, membawanya sampai besok malam, tidak hilang ditanyakannya. Diceritakan Sang Pendeta di Lemah Tulis.
19b. Pagi-pagi beliau berangkat dari asrama, diikuti oleh tiga orang muridnya. Perjalanan Pendeta Baradah sangat cepat. Tidak diceritakan perjalanannya, beliau segera datang di desa yang menderita wabah penyakit, jalan sepi rumputnya lebat. Akhirnya, beliau bertemu dengan orang yang akan menyalakan api, hendak membakar mayat. Mayat itu didapatkan oleh Sang Pendeta dalam keadaaan dipeluk oleh istrinya yang menangis. Mayat itu ditutupi dengan kain berwarna putih. Sang Pendeta berkata, “Hai saya kasihan melihatmu, menangis memeluk mayat suami. Bukalah olehmu mayat suamimu itu. Saya akan melihat mayatnya itu.” Mayat itu dibuka, berdenyutlah detak jantungnya. Dibuka dua kali, bernafaslah. Kira-kira dua kali waktu orang makan sirih, dapat duduklah orang yang telah mati itu
20a. oleh Sang Pendeta. Lalu berkatalah orang yang telah mati kepada Sang Pendeta, “Tuankau alangkah besar utang saya kepada Sang Pendeta. Saya tidak dapat membayar utangku itu kepada Paduka Tuan Hamba.” Berkatalah Sang Yogiswara Baradah, “Hai, tanpa alasan katamu itu, jangan begitu. Nah tinggallah kau atau kau pulang ke rumahmu. Aku meneruskan perjalanan.” Sang Pendeta pergi, bertemulah beliau dengan mayat tiga orang berjajar. Dua mayat masih utuh satu lagi telah rusak. Mayat itu diperciki air gangga yang suci. Yang masih utuh, berhasil hidup seperti semula. Beliau segera pergi dari tempat itu, (beliau) menuju rumah kosong, halamannya sepi, rumputnya tumbuh subur. Beliau masuk ke dalam rumah, beliau menemukan orang sakit. Dua orang sudah meninggal. Adapun tetangganya yang lain semuanya sakit. Yang seorang lagi
20b. merintih kesakitan. Yan gseorang lagi tinggal denyutnya saja. Semua diperciki air suci oleh Sang Pendeta. Keduanya berhasil hidup kembali, bersama menghormat dan menyembah di kaki Sang Pendeta. Lalu menjilat debu di telapak kaki Sang Pendeta. Sang Pendeta Baradah berkata, menyuruh kedua orang muridnya itu kembali ke pertapaan karena di sana sepi, pertapaannya di Semasana. Pulanglah kedua muridnya itu. Dia minta diri kepada Sang Pendeta menghormat. Telah lepaslah perjalanan murid itu, segera sampai di pertapaan Semasana di Buh Citra. Tidak diceritakan hal itu. Disebutlah Sang Pendeta, beliau pergi dari tempat itu, ke arah barat daya, beliau melewati tepi kuburan perbatasan tegalan, rumputnya rimbun, dan pakis, waduri, dan pepohonan. Serigala meraung memakan bangkai
21a. di antara rerumputan pakis. Burung gagak berbunyi keras berkepanjangan di pohon. Sang Pendeta Baradah datang ke tempat itu. Anjing diam tidak menggonggong lagi, juga bunyi burung gagak berhenti, melihat Sang Pendeta dtang, Segala tempat yang dilewati oleh Sang Jiwatma, yang sedang sakit menjadi segar kembali seperti semula, yang mati kembali hidup, setelah dilihat Sang Pendeta di tengah kuburan. Ada seorang wanita dalam keadaan menangis, berlari ke utara dan ke selatan, tidak tahu akan perbuatannya di jumpai ketika Sang Pendeta datang. (Ia) mendekat menghormat di kaki Sang Pendeta, lalu berkata kepada Sang Pendeta, “Tuanku, mohon belas kasihan hamba, dihadapan Tuan Hamba Sang Pendeta. Hamba ingin mengikuti suami hamba. Sedih juga hati hamba, anugerahilah pertolongan Tuanku, agar bertemu
21b. suami hamba, Tuanku.” Sang Pendeta berkata, “Tidak kuasa jika demikian. Apabila belum rusak mayat suamimu, barangkali engkau bertemu lagi dengannya olehku. Mayat itu telah hancur, engkau tidak bertemu lagi, engkau jumpai bila engkau mati.. Saya akan menunjukkan jalan ke surga bagimu, dan juga surga bagi suamimu. Inilah sarana dari saya, terimalah jangan menolak. Juga ada pesan saya kepadamu, hendaknya kamu ingat, engkau menemukan suamimu.” Wanita itu menangis menyembah menerima ucapan Sang Pendeta. Tidak diceritakan wanita itu, ia telah pergi. Diceritakan Sang Pendeta. Lalu beliau pergi ke tengah kuburan. Dijumpailah si Weksirsa, dan Mahisawadana, murid Calon Arang itu. Ketika terliahat Sang Pendeta datang, keduanya mendekat kepada Sang Pendeta, menghormati di kakinya Si Weksirsa dan Mahisawadana itu. Berkatalah
22a. Sang Sri Yogiswara Baradah, “Hai, siapakah engkau, datang menyembah saya di tengah kuburan ini, serta dari mana asalmu dan siapakah namamu? Saya tidak mengetahui engkau, beritahukanlah saya!” Si Weksirsa dan Mahisawadana, memberitahukan. Ucapnya, “Tuanku, sebenarnya Si Weksirsa dan Si Mahisawadana menyembah Tuan Hamba Sang Pendeta. Hamba murid beliau Sang Randeng Girah. Hamba menghormat ke hadapan Pendeta mohon belas kasihan paduka, mohon agar dibebaskan dari perbuatan yang tidak baik.” Lalu Sang Yogiswara berkata, “Tidak dapat engkau kuruwat, jika tidak diruwat Calon Arang lebih dahulu. Berangkatlah engaku menghadap Calon Arang, beritahukan bahwa saya ada di sini. Saya ingin berbicara dengan besan.” Si Weksirsa dan Mahisawadana mohon diri dan menghormat, berlutut lalu pergi
22b. keduanya. Diceritakah Sang Calon Arang, ia sedang memuja di kahyangan kuburan di sana. Baru saja Paduka Batari Bagawati kembali dihadap, dalam percakapan (rahasia) dengan janda dari Girah. Batari memberikan petunjuk kepada Calon Arang, “Hai, janganlah engkau tidak waspada, mau dekat dengan dirimu.” Begitulah pesan Batari. Itulah yang membuat rasa khawatir hati Calon Arang, diam tertegun tidak berkata, karena memikirkan pesan beliau Sang Batari. Si Weksirsa dan Mahisawadana segera datang bersama. Ia berkata terlebih dahulu kepada Calon Arang, memberitahukan kedatangan Sang Yogiswara Baradah. Sang Calon Arang berkata, “Hai, jadi besan Baradah datang kemari. Itulah sebabnya saya sekarang menghentikan kepadanya.” Calon Arang segera pergi. Beliau sampai di hadapan Sang Mpu Baradah. Sang Randa di Girah menyapa Sang Pendeta. Ucapnya,
23a. “Hamba bahagia Tuanku Sang Pendeta, besan saya Sang Yogiswara Baradah, saya gembira Sang Pendeta datang. Saya ingin agar diberikan nasihat utama.” Sang Pendeta berkata, “Hai, Besan sangat baik ucapan dan pikiranmu, kalau demikian, baiklah saya memberitahukan tuntunan kemuliaan, tetapi janganlah engkau sangat marah Besanku. Saya beritahukan sebelumnya, Engkau membunuh orang melaksanakan perbuatan jahat, menyebabkan kekotoran dunia, membuat penderitaan di dunia, dan membunuh seluruh dunia. Betapa besar malapetaka di dunia, begitu kotor menyebabkan orang sakit, terlalu besar malapetaka yang engkau perbuat, membunuh orang di seluruh kerajaan. Engkau tidak dapat dibebaskan dari dosa, apabila tidak melalui jalan mati seperti keinginan itu. Kendatipun demikian jika engkau belum mengetahui seluk beluk pembebasan, masa engkau akan bebas dari dosa.” Sang Calon Arang berkata, “Demikian sangat besar dosa saya di dunia.
23b. Jika demikian ruwatlah saya Sang Pendeta. Belas kasihan berbesan saya.” Sang Pendeta berkata, “Saya tidak dapat meruwatmu sekarang.” Lalu Sang Calon Arang berkata marah, mukanya merah karena geramnya, akibat ditolak Sang Pendeta. “Itulah tujuan saya berbesan dengan kau. Saya ingin bersih dari mala. Kau menolak meruwat saya. Ya sekaligus biarlah saya akan mati dengan malapatekan dan kehancuran. Singkatnya akan saya sihir Resi Baradah.” Kemudian Calon Arang menari, membalikkan rambut di atas kepala, matanya melirik-lirik, bagaikan mata macan yang hendak menerkam orang. Kedua tangan menuding Sang Pendeta. “Matilah engkau sekarang olehku Pendeta Baradah, barangkali engkau tidak mengenal besan. Ini pohon beringin besar, hendak saya sihir. Lihat olehmu Mpu Baradah.” Segera hancur pohon beringin
24a. besar itu sampai akar-akarnya, akibat tatapan mata yang sangat sakti Calon Arang. Lalu Sang Mahamuni Baradah berkata, “Hai, Besan, keluarkan lagi sihirmu yang lebih sakti, masa saya heran.” Lalu olehnya dipercepat menyihir. Keluar api menyala berkobar-kobar, bagaikan bunyi guntur membakar semua tumbuhan, keluar dari mata, hidung, telinga dan mulut. (Api) menyala berkobar membakar badan Sang Pendeta. Tidak terganggulah Sang Pendeta, beliau enak olehnya memegang kehidupan di seluruh dunia. Sang Pendeta berkata, “Saya tidak mati kau sihir, Besan. Aku ambil nyawamu, semoga kamu mati di tempatmy berdiri itu.” Setelah itu Sang Pendeta mengenakanastacapala. Sang Calon Arang mati seketika, di tempat berdirinya itu juga. Mpu Baradah menjadi berpikir dalam hati. “Aduh, saya belum memberitahukan
24b. jalan kebebasan kepada Besan. Semogalah kau besan hidup seperti semula lagi.” Calon Arang hidup kembali. Kemudian Calon Arang marah mencaci maki. Ucapnya, “Saya telah mati, mengapa saya kau hidupkan kembali?” Sang Pendeta menjawab dengan tenang, “Hai Besan, tujuan saya menghidupkan engkau kembali, saya belum memberitahukan kelepasanmu serta menunjukkan jalan sorgamu dan menghapuskan nodamu itu, termasuk engkau belum mengetahui kesempurnaan ilmu.” Berkatalah Calon Arang, “Aduhai, itulah yang dimaksud sekarang. Nah, Syukurlah apabila ada belas kasih sayang Sang Pendeta kepada saya untuk melepaskan hamba dari dosa. Saya (hendak) menyembah di kaki Sang Pendeta sekarang, yang dengan perlahat-lahan hendak meruwat saya.” Lalu Calon Arang menyembah kepada kaki Sang Pendeta. Maka ditunjukkan kelepasannya, dan akan ditunjukkan jalan ke surga, serta seluk beluk kehidupan.
25a. Setelah ia diberitahukan seluk beluk kematian oleh Sang Sri Yogiswara Baradah, senang, enak, lega, bebas, dan lepas hati Sang Calon Arang, tidak cenderung (berbuat) caranya semula, hanya nasihat Sang Pendeta yang dipegangnya. Nasihat utama telah didengarkan semua dan diresapi olehnya. Lalu Sang Calon Arang minta diri, menyembah dengan hormat pada telapak kaki Sang Pendeta. Sang Pendeta berkata, “Nah, pergi lepas kamu kembali semula telah diruwat Besan.” Demikianlah, akhirnya Calon Arang mati, berhasil diruwat, ia menghilang juga. Lalu mayat Calon Arang dibakar oleh Sang Pendeta, telah lebur menjadi abu tidak tersisa. Tidak disebutkan lagi. Kini Si Weksirsa dan Mahisawadana sama mendapatkan didikan (brahmana), minta dijadikan wiku oleh Sang Pendeta. Apakah sebabnya demikian? Sebab tidak mampu turut diruwat
25b. bersama janda di Girah. Mereka berdua dijakan wiku oleh Sang Pendeta. Tidak disebutkan Calon Arang. Sang Pendeta ingin pergi ke Girah mengunjungi Mpu Bahula, hendak memberitahukan bahwa Calon Arang telah meninggal. Sang Pendeta segera datang ke Girah, masuk ke kabuyutan orang Girah. Orang memberitahu Mpu Bahula, bahwa Sang Pendeta datang. Mpu Bahula segera menyongsong (kepada) Sang Pendeta, menghormat dan menyembah di telapak kaki Sang Pendeta, debu yang ada di kaki Sang Pendeta yang bebas dari nafsu, dijilati dijadikan sumber penghidupan dan ditempatkan di ubun-ubun oleh Mpu Bahula. Sang Pendeta berkata, “Hai Mpu Bahula, sya memberitahukan kepadamu, besanku Calon Arang telah meninggal. Sempurna lenyap teruwat dari mala olehku. Sekarang begini kehendak saya, pergilah engkau ke kerajaan, agar memberitahukan kepada Sang Raja bahwa Calon Arang telah mati. Si Weksirsa
26a. dan Mahisawadana telah menerima ajaran yang baik dan pengawasan Pendeta. Keduanya akan mengabdi padaku. Beritahukanlah bahwa saya ada di sini.” Segera minta pamit menghormatlah Mpu Bahula di hadapan Sang Pendeta. Pergilah dia ke kerajaan. Tidak diceritakan perjalanan Mpu Bahula, segera datanglah dia di kerajaan. Dijumpainya Sang Raja sedang di penghadapan, tenang di tempat persidangan, (dihadiri) Para Adipati, Patih Amangkubumi, Resi, Bujangga Siwa, dan Brahmana. Tidak terkira jumlahnya (dari) para satria utama. Seluruh upacara sama indah dilihat, disertai tempayan logam dan keris, dan bermacam-macam pandan. Setelah datang Mpu Bahula bagaikan menerangi (Sang Pendeta) di Manguntur. Orang-orang serentak tercengang di tempat pertemuan. Segera menghadap dekat, Mpu Bahula berkata. Ucapnya, “Tuanku penguasa dunia, Mpu Bahula memberitahukan kepada Tuanku, Calon Arang sudah mati oelh
26b. Sang Pendeta. Si Weksirsa dan Mahisawadana telah menerima pengakuan suci Sang Pendeta, bersama-sama mohon dan menjunjung Tuan Hamba Sang Pendeta. Sang Pendeta sekarang ada di Girah.” Sang Raja bersabda, “Hai, bahagialah jika seperti pemberitahuanmu Mpu Bahula. Aku menjadi senang sesuai dengan ucapmu apabila Sang Pendeta berada di Girah. Hai, Patih Darmamurti, siagakan keretamu dan gajah. Saya akan bersiap-siap mendatangi Sang Pendeta disertai permaisuri ikut ke Girah.” Orang-orang seluruh kerajaan berbondong-bondong, berdengung dan bergemuruh suara bunyi-bunyian, gong nyanyian, curing bersamaan tanpa didengarkan. Ringkik kuda, kibaran bendera, hentakan kaki orang berjalan bagaikan belah dunia. Jalannya
27a. prajurit sesak berdesakan memenuhi jalan tanpa henti-hentinya bagaikan laron keluar dari sarangnya. Tidak diceritakan perjalanan Sang Raja di jalan, dengan semua upacara peninjauan. Samar-samar memakai perisai bersama temannya. Ada yang naik kereta, yang lain tanpa dirasakan berjalan kaki, yang lainnya bersenda gurau, perbuatannya hiruk pikuk. Sang Raja segera tiba di Girah. Tidak diceritakah orang-orang yang menyaksikan. Ada yang menonton, ada tanpa pakaian, dan rambut terurai. Ada yang kehilangan kain tidak diperhatikan karena besar keinginannya hendak melihat. Ada lagi yang berlari jatuh ke tanah. Akhirnya langsung datang di tempat Sang Pendeta Baradah di kabuyutan orang-orang Girah. Setelah datang Maharaja Erlangga ke sana, Sang Pendeta menyambut hormat kepada Sang Raja. Katanya, “Om-om Tuanku Paduka Raja, bahagialah apabila mengunjungi hamba. Segeralah Sang Raja menyucikan orang-orang yang sakit.
27b. Nah, silakan duduk bersama di sini Sang Penguasa Negara! Saya akan menceritakan tentang kematian Sang Calon Arang. Si Weksirsa dan Mahisawadana (mereka) telah menerima ajaran yang baik, ikut membebaskan diri dengan saya”. Sang Raja berkata, “Bahagialah saya, apabila Calon Arang mati. Sangat senang hati saya. Telah hilanglah sekarang noda dunia, yang membuat kekotoran seluruh dunia dan ketakutan dunia. Dapat dikatakan bagaikan tanaman merambat, gulma, dan benalu, pada bulan ketiga, debu berterbangan oleh putaran angin berkisaran, kering daunnya jatuh runtuh ke bumi, minta hujan tidak ada. Begitulah persamaannya dengan negara, telah rusak tidak tahu menumbuhkannya. Negara tidak bersinar oleh perbuatan Calon Arang, minta-minta hidup tidak ada. Sekarang setelah Sang Pendeta terhormat datang di Girah di sini, bagaikan tanaman merambat mengharapkan datangnya bulan Kartika (Oktober-November), oleh karena Tuan hamba seperti meneteskan air suci Gangga, (dan) air penghidupan. Tidak akan disangka hidup kembali
28a. kerajaan oleh Sang Pendeta. Sekarang begini Tuanku, berapakah hutang saya kepada Tuan Hamba Pendeta yang terhormat, besar tidak dapat dipeluk, panjang tidak dapat diukur dengan depa. Tidak dapat saya jawab, tetapi saya akan membalas sedapat-dapatnya nanti kepada Sang Pendeta terhormat, karena tidak terhitung besar hutang saya.” Berkatalah Sang Pendeta, “Hai, tanpa alasan ucapan Sang Raja yang demikian. Saya belum membersihkan muntah Calon Arang. Setelah dia mati saya ingin membuat upacara pembersihan lagi. “Setan Banaspati” kotor Calon Arang, akan dicandikan di Girah dan disucikannya, supaya dipuja orang-orang Girah, disebutlah Rabut Girah. Tidak ada yang hendak merusak lagi, kerajaan itu hingga daerah pinggiran, sebab Rabut Girah sudah aman.” Sang Raja menyetujui hal itu, atas perintah Sang Pendeta.
28b. Sang Pendeta berkata lagi, “Hai, Sang Raja silahkan pulang saja dahulu ke kerajaan. Saya sedang membersihkan mala yang dibuat Calon Arang. Apabila saya telah selesai membersihkan Rabut Girah ini, saya datang ke pusat kerajaan,mengikuti Sang Raja.” Raja Erlanggya berkata, “Hai, sesuai dengan ucapan begitu, sekaranglah Tuan menyelesaikan.” Kata Sang Pendeta, “Apabila ada berat ringan, sekaranglah cucu Tuanku Sang Pendeta ingin pamit, akan pulang dahulu ke kerajaan cucu Tuanku. Pun Kanuruhan biarlah tinggal di sini untuk mengiringkan Sang Pendeta pergi ke istana kerajaan.” Kemudian Sang Raja pulang segera, diikuti oleh pasukannya. Beliau tidak diceritakan dalam perjalanan, segera sampai di keraton. Diceritakan Sang Pendeta Baradah ada di Girah menyucikan mala Calon Arang, (atas) biaya dari Sang Raja. Ken Kanuruhan membantu pekerjaan Sang Pendeta, lengkap dengan saji-sajian.
29a. Setelah selesai membersihkan mala, jadilah dinamai Rabut Girah, menjadi tempa suci orang-orang Girah sampai sekarang. Dipuja dan dihormatinya. Sang Pendeta mengakhiri pekerjaannya. Segera pergilah beliau naik kereta tandu. Ken Kanuruhan naik kuda akan mengikuti perjalanan Sang Pendeta menuju ke kerajaan. Tidak ketinggalah Mpu Bahula menunggang kuda merah. Tidak diceritakan beliau di jalan, segera sampai di kerajaan. Sang Raja ingat bahwa Sang Pendeta datang. Sang Raja Erlangga segera keluar dari istana, menjemput Sang Pendeta Baradah, sampai di luar kota di alun-alun. Ribut oleh suara musik, gong, alat musik pereret bersama-sama. Demikianlah Sang Pendeta diperlakukan oleh Sang Raja. Sang Raja segera turun dari kendaraan, lalu akan menyerta Sang Pendeta menuju keraton. Kemudian dipersilahkan duduk Sang
29b. Resi di balai gading. Adapun Sang Raja duduk di balai samping. Lalu Sang Raja berkata, memberitahukan kepada Sang Pendeta, “Tuanku, segala ucapan Raja Erlangga, hendaklah diterima di hadapan Tuan Sang Pendeta. Sekarang ini kerajaan telah aman oleh Sang Pendeta. Sekarang keinginan cucu Tuanku ingin mengikuti Pendeta yang mulia, minta belas kasih Sang Pendeta. Akan turut mempelajari Sang Hyang Dharma, minta menerima ajaran yang baik seorang pendeta menlepaskan pikiran hina, memahami ajaran hukum. Pikiran jahat, perbuatan zina larangan dunia, rakus, hilang kesadaran, loba, hilang kontrol diri, creyan, cinta yang besar, sedih, berteman, bijaksana pikiran kuat oleh cucu Tuanku. Setelah menjadi raja berkuasa, senang memberi anugerah berlebih-lebihan dalam lahir, kaya segalanya serba banyak. Tidak disebutkan permata kemuliaan kerajaan, ada di dalam keraton. Adapun keinginan saya sekarang hendak mengetahui seluk beluk berguru, agar merasakan
30a. Sang Hyang Dharma. Mengetahui jalan kematian dan yang dituju. Mengetahui isi surga dan neraka, keluar masuknya dunia besar dan dunia kecil. Mengetahui jalan utama, jalan lurus, dan cabang-cabangnya, yang patut diketahui oleh (orang) yang telah sempurna, dan dijumpai oleh orang yang berjalan di sana.” Demikian ucapan Maharaja Erlangga kepada Sang Pendeta. Sang Pendeta Baradah pun berkata, “Aduh ucapan Sang Raja sangat baik, sangat benar sesuai dengan dunia apabila demikian. Anda hendaklah memegang teguh Sang Hyang Dharma dan mengubah budi jahat. Tidak sedikit nyata benar permata kerajaan.” Sang Raja berkata lagi, menanyakan pembayaran upacara. “Tuanku, berapakah besar pembayaran upacara itu, yang harus diserahkan kepada Tuan? Adapun perak, beritahukan juga kepada saya, tentang nista madia dan utama pembayaran upacara itu.” Sang Pendeta berkata, “Wahai, kalau demikian permintaan Sang Raja, masalah besarnya bantuan biaya itu, walaupun tanpa biaya,
30b. apabila sungguh-sungguh memelihara kelangsungan pendidikan, sama pula dengan besarnya biaya. Dalam hal biaya apabila tidak kuat dan sungguh-sungguh terhadap Sang Guru, sama dengan tanpa biaya, tidak ternilai kesungguhan itu seperti akan mengantarkan dari tempat ini. Saya memberitahukan tentang biaya dan bermacam-macam biaya itu sekarang. Yang disebut perak sedunia, itulah pembuka kata namanya. Yang disebutbaturing sasari, yang terkecil 1600. Yang menengah 4000, yang utama 8000, yang paling utama 80.000. Itulah besar kecil upah. Kendati demikian jika tidak bersungguh-sungguh dalam berguru, sama dengan tanpa pembayaran. Sungguh-sungguh dan teguh itu menjadi upah juga. Berat dan tidak berat (ringan), sulit, tidak ada hujan dan panas, apabila diutus oleh guru dilaksanakan juga. Tidak pantas membantah perintah, itu sebagai upah. (Disebut) utama apabila besar upah, juga (orang) bersungguh-sungguh, lagipula tidak membantah perintah. Amat utama jika ada orang seperti
31a. demikian. Demikian pula sang Raja, apabila rencana membuat tapa, menurut keinginan Sang Raja dalam menentukan upah. Saya tidak berhak memastikan itu.” Berkatalah Sang Sri Raja, “Delapan ribu itu Tuanku, dijalankan oleh anak Tuan, akan diserahkan kepada Sang Pendeta.” Sang Pendeta berkata, “Ya, saya akan menerima ucapan Sang Raja. Saya akan memberitahukan sifat bunga-bunga, tidak ada beringin yang tidak sakti pohonnya, sirih 27 dan kapur, ditempatkan pada mangkuk berlalpis emas. Puncaknya batu permata mirah, bunga-bungaan uraiannya emas dan perak bersinar lembut. Itu ditempa dengan tipis dan gunting, biji mirah seadanya. Adapun Tuanku (sangat) tersesat dalam bertapa, di mana pun Anda datang akhirnya mulainya bumi, serta dipuja-puja oleh seluruh dunia. Sejak dahulu orang-orang di pulau lain berbakti, menghormat kepada Anda.” Sang Raja membenarkan, ucapan Sang Pendeta. Beliau segera mengutus (untuk) mempersiapkan bunga, bunga urai, dan biji tabur, sebagai persiapan awal.
31b. Segalanya telah siap sedia, tidak ada yang kurang, berisi permata dari gunung terutama hiasan istana itu telah disiapkan. Sangat indah itu. Sang Raja telah menyucikan diri, berdua dengan permaisurinya. Sajian telah disiapkan lengkap, sangat mempesonakan dilihat. Maharaja Erlangga mendekat kepada Sang Pendeta Baradah, (di sana) di tempat penyambutan. Bukan main pesonanya, asap mengepul berbau harum dan pendupaan menyala, memenuhi seluruh bumi, tersebar hing di angkasa. Golongan resi di langit segera (melihat) pendupaan mengepul tebal, semua menonton dari angkasa, bagaikan memuji perbuatan Sang Raja Erlangga, seperti ikut hadir memberi restu peristiwanya. Bunyi-bunyian ramai, termasuk alat musik instrumen tiup, gong, dan gendang berbynya bersamaan. Pereret, alat musik angin, gendang, gong serentak
32a. berbunyi riuh. Sang Pendeta berkata, “Silahkan datang ke mari Paduka Raja. Sekarang ini saya belum melakukan upacara sěděpterhadapmu, saya minata duduk di sana juga. Saya (membuat) upacara sěděp untuk Anda dengan gelar Jatiningrat.” Sang Raja bersama permaisuri menghormat kepada Sang Pendeta Baradah. Dipindahkan bunga-bunga di dalam mangkuk, didasari emas, bunga itu digetarkan tiga kali. Segera diupacarai sang Raja bersama istrinya oleh Sang Pendeta. Selesai upacara, beliau diajarkan tentang Sang Hyang Dharma, mengenai kelahiran dan rasa ketidakjadian serta akhir segala yang ada, baik kecil maupun besar (di dunia). Semua telah diajarkan olehnya. Itu diberitahukan secara rahasia pengetahuan menuju jalan kebenaran, akan membuat perjalanan selamat, dijalaninya, yang bertapa di kerajaan, menjadi pertapa di hutan dan gunung. Lagi pula tata cara catur asrama diberitahukannya, seperti :Agrahastana, Awanapastra, Abiksukana, dan
32b. Brahmacarina. Artinya : Agrahastana artinya “Pendeta yang beristri beranak dan bercucu.” Wanapastra artinya “bertempat tinggal di tengah hutan lebat,” wana artinya “hutan”, patraartinya “daun-daunan”, dan “rumput.” Berhenti makan apabila tidak dapat memetik rumput dan daun (di sana) di pertapanya. Baik hidup maupun mati tidak berpindah dari tempat itu.Biksuka artinya “pendeta yang sejahtera,” berwenang membunuh, berwenang memiliki hamba sahaya secukupnya, beristri dan berhubungan seksual, tidak akan dihukum oleh Sang Raja, sebab telah pada tempatnya demikian. Brahmacariyanamanya itu Catur Beda, yaitu Suklabramacari, tan trěsnabrahmacari, swalabramacari, dan bramacari těměn.Yang disebut Suklabramacari adalah orang (yang) bertapa, belum mengetahui rasa nasi dan daging, rasa hubungan suami
33a. istri belum tahu. Menjadi pertapa terus dari kecil, itu namanyasukla bramacarya. Yang disebut tan trěsnabrahmacarimemiliki budi pikiran (tidak) bohong merusakkan dharma, yaitu mendapatkan ajaran mulia, dan merasakan makna sepatah atau dua patah kata, lalu merasa banyak olehnya. Akhirnya, meninggalkan asalnya, anak, dan istrinya tanpa alasan, lalu belajar. Itu namanya tan trěsnabrahmacari. Swalabramacari itu namanya, ialah terjadi perselisihan dengan istrinya, menimbulkan rasa malu, lebih-lebih jika disuruh berperang oleh Tuannya. Dia tidak berhasil malu, lalu bertapa. Bramacari těměn itu namanya, setiap pendeta yang nyata tahu rasa semua dan mengetahui seluk beluk alam semesta. Tempatnya, (seperti) jika telah sempurna mantera. Habis dharma semua, yaitubramacari těměn namanya. Itu catur asrama namanya. Kedudukan Sang Pendeta
33b. masing-masing. Ingatlah itu jangan lupa (dengan) kamu, anakku Sang Raja, tapamu di istana. Janganlah tidak mengikuti prilaku masa lalu, jangan ada yang mengurangi dan menambah warna putih dunia. Yang ada pada waktu dahulu hendaklah ada pada waktu sekarang, yang tidak ada pada waktu dahulu hendaklah tidak ada pada waktu sekarang. Yan gmendalam dijumpai juga olehmu memandang, turuti (lah) olehmu. Janganlah engkau tidak perhatikan rakyatmu itu. Ada yang disebut Dewasasana, Rajasasana, Rajaniti, Rajakapa-kapa, Manusasana, Siwasasana, Rěsisasana dan Adigama. Itulah hendaknya agar senang hati olehmu, enaklah dinikmati di dunia menyakrawati, bukan saja di pulau Jawa di sini, tetapi juga termasuk berkuasa di Nusantara. Senang pikiran seluruh dunia olehmu, sebab engkau telah mempunyai watak Sang Hyang Dharma, mengetahui rahasia hidup dan mati, telah mengetahui surga dan neraka.
34a. Waspada dengan keberhasilanmu. Kamu tahu seluk-beluk dunia dan tata tertib dunia. Tidak ada yang patut dikhawatirkan di dunia, ingatlah pemberitahuanku, Sang Raja, jangan lupa.” Berkatalah Sang Raja kepada Sang Pendeta, “Mohon pamit putra Tuan Hamba Sang Pendeta atas nasihat Sang Pendeta.” Habis ajaran yang diberikan oleh Sang Pendeta, sangat sayang Sang Pendeta terhadap putra Sang Pendeta. Terang benderang rasa pikiran putra Sang Pendeta begitu diterangi pleh ucapan Sang Pendeta budiman. Setelah itu bubar upacara Sang Raja. Ia yang dipuja oleh orang-orang di seluruh pertapaan. Mereka diberi makanan. Tidak ada kekurangannya, berbagai isi lautan dan gunung ada di sana. Sang Raja bersama istri menghadap beliau, tidak disebutkan macam perintah yang berupa larangan, dan temannya menjadi pandu. Semua
34b. turut bersama menghadap di sana. Senang tertawa-tawa, mereka bercerita panjang lebar. Setelah malam mereka menginap di balai-balai, di tempat bermalam Sang Pendeta. Keesokan hari beliau minta pamit kepada putranya. Berkatalah beliau Sang Pendeta kepada Sang Raja, “Ayah ingin pamit anakku, Sang Raja. Saya akan pulang ke asrama.” Berkatalah Sang Raja, ”Tuanku yang mulia, orang tua raja pulang ke asrama, sekarang putra Sang Pendeta akan memberi upah kepada Sang Pendeta.” Sang Raja berkata meneruskan, hendak mengutus Apatih dan Ken Kanuruhan, agar mengiringi Sang Pendeta yang akan pulang ke asramanya. Semuanya menyiapkan kereta gajah dan kuda diberikanlah kepada sang Pendeta oleh Sang Raja, dan uang 50.000, 50 perangkat pakaian, emas dan permata serba banyak, juga pengikut pekerja sawah seratus orang, pemahat seratus orang, kerbau dan sapi, pekerja
35a. banyak, akan diserahkan kepada Sang Pendeta. Sang Pendeta berkata, “Saya terima pemberian Anda, Sang Raja. Ada lagi pesan saya kepada Anda, janganlah tidak belas kasihan kepada yang kasihan, terutama kepada segenap Pendeta yang hina, janganlah Anda tidak memuliakan.” Sang Raja menghormat kepada Sang Pendeta, lalu mengusap debu kaki Sang Pendeta Baradah, diletakkan di ubun-ubun Sang Raja, berdua dengan permaisurinya. Sang Pendeta berkata lagi, :Ya, tinggallah putraku semoga Anda selamat, janganlah tidak ingat akan semua nasihat saya. Siang dan malam hendaklah diperhatikan.” Sang Pendeta segera pergi. Dia mengendarai kereta diiringi oleh Rakryan Apatih, Kanuruhan, dan Tumenggung. Tidak diceritakan beliau di jalan, cepatlah perjalanan Sang Pendeta. Tidak diceritakan petani-petani yang dilewatinya, semua heran terhadap Sang Pendeta, karena beliau sangat sakti, tidak ada
35b. bandingannya. Beliau segera datang di asrama Semasana. Ken Apatih segera pamit menghormat kepada beliau, juga Kanuruhan dan Tumenggung. Mereka (bersama) kembali ke kerajaan. Tidak diceritakan Ken Apatih, Ken Kanuruhan dan Tumenggung. Mereka telah pergi dari asrama. Diceritakan Sang Pendeta, beliau disongsong oleh putrinya, bernama Wedawati. Beliau dijemput di pintu gerbang, sama senang perasaan Sang Pendeta dan putrinya. Segera bersama masuk ke dalam asrama. Tidak diceritakan Sang Pendeta, telah ada di asramanya. Diceritakan tingkah laku beliau Sri Raja, ketika ada di kerajaannya. Senang, sejahtera dan bahagia hatinya. Enaklah seluruh dunia ketika masa pemerintahannya, karena kesusahan tidak ada. Adapun jalan dibuka di tempat yang tertutup sulit didatangi, di tempat penyamun, dan di tempat perampokan. (Di situ) ditempatkan orang-orang dan dijadikan desa. Jalan-jalan menuju tegalan, hutannya memanjang kejauhan dari utara ke selatan, barat dan timur, menyebabkan orang-orang
36a. melewati jalan. Di tempat itu disuruhnya menanami beringin dan pohon bodhi, ambulu (Ficus infectoria), dijajar-jajarkannya, sehingga teduhlah tempat-tempat orang lewat. Tidak diceritakan orang-orang Nusantara, semua percaya mengabdi kepada Sang Raja. (Daerah) seberang, Malayu, Palembang, Jambi, Malaka, Singapura, Patani (daerah di Semenanjung Malaka), Pahang (daerah di Semenanjung Malaka), Siyam, Cempa (daerah di Kamboja), Cina, Koci (daerah di Vietnam), Keling (daerah di Selat Malaka), Tatar (bangsa Tatar di Cina), Pego (daerah di Birma), sampah Kedah (daerah di Semenanjung Melayu), Kutawaringin (di Kalimantan), Kate (Kutai), Bangka, Sunda, Madura, dan Kangayan (pulau Kangayan). Makasar (daerah di Sulawesi), Seram (di Maluku), Goran (di Maluku), Pandan, Peleke, Moloko (Maluku), Bolo (Pulau Buru atau kerajaan Telo di Sulawesi), Dompo (Dompu), Bima (di Sumbawa), Timur (Timor), Sasak (Lombok), dam Sambawa (Sumbawa). Sekian jumlah Nusantara itu yang menyerahkan upeti kepada Sang Raja. Beliau yang bernama Jatiningrat dan Maharaja Erlangga nama nobatnya. Adapun para Brahmana, Buhjangga, beliau para Rsi, semua menduduki tempatnya masing-masing, ada di kerajaan dan ada di asramanya. Senanglah semuanya
36b. sampai para petani. Tidak henti-hentinya turun hujan, berhasil panennya, murahlah segala yang dimakan. Rakyatnya semua tertib mengikuti tata cara lama. Adapun putra beliau dua orang, sama muda dan tampan rupanya. Beliaulah yang akan diangkat menjadi raja, tetapai Sang Raja sedang bingung mengenai tempat pengangkatannya. Seorang (ingin) akan diangkat (raja) di Nusantara seorang, yan gsatu lagi diangkat raja di Pulau Jawa. Sang Raja sedang khawatir pikirannya. Apa sebabnya begitu? Sebab putranya itu masih muda tidak tahu memerintah negara. Jika kurang dana, akhirnya tidak memiliki rakyat di kemudian hari. Itulah sebabnya tidak diberikan akan memerintah jauh. Namun, maksud Sang Rja, hendak mengangkat raja di Bali seorang dan di Jawa seorang, sebab di Bali dekat sama seperti masih di Pulau Jawa. Lalu Sang Raja keluar dihadap oleh rakyat banyak diam membungkam. Sang Raja segera berkata, memberitahukan hal (kepada) para mentrinya semua. Di sana Patih,
37a. Kanuruhan dan para menterinya, termasuk pula para Brahmana, Buhjangga, dan Rsi. Sang Raja berkata, “Keinginan saya, Patih, sekalian para Menteri saya (semua), serta Kanuruhan semua. Ada beliau Brahmana, Buhjangga dan Rsi. Saya akan mengangkat raja putra saya, di Bali seorang dan di Jawa seorang. Bagaimanakah menurut perasaan kalian? Saya juga akan menyuruh datang menuju Semasana di Buh Citra, minta pertimbangan Tuan Hamba Sang Pendeta, nasihat suci untuk saya.” Ken Apatih dan para Menteri berkata, terutama Sang Mahawidja, semua setuju dan menurut, jika memberitahukan kepada Sang Pendeta. Sang Raja berkata lagi, akan mengutus Kanuruhan pergi ke asrama. Ken Kanuruhan minta diri dan menyembah di hadapan Sang Raja. Segera berjalan, Ken Kanuruhan naik di kereta.
37b. Lepaslah perjalanan Kanuruhan, diikuti oleh pengiringnya. Dia segera datang di asrama. Turunlah Ken Kanuruhan dari kereta, masuk ke dalam gapura, bertemu dengan Sang Pendeta yang sedang dihadap oleh muridnya semua. Dia menyapa Ken Kanuruhan, “Om-om, Ken Kanuruhan, bahagia kamu. Apakah tujuan menghadapku datang ke asrama?” Ken Kanuruhan berkata, “Ken Kanuruhan diutus oleh putra Tuan Hamba, disuruh agar menanyakan kepada Sang Pendeta, oleh karena putra anak Tuanku, Tuan Hamba yang dua orang itu, akan diangkat raja di Bali seorang, raja di Jawa seorang. Demikian pertanyaan anak Tuan Hamba ke hadapan Sang Pendeta. Nasihat Sang Pendeta akan dituruti oleh anak Sang Pendetea.” Berkatalah Sang Bijaksana, “Jika benar demikian keinginan
38a. Sang Raja, tidak dapatlah jika demikian, sebab di Bali itu, sungguh tidak ada raja memerintah sekarang, tetapi ada beliau Sang Pendeta, tinggal di sana di asrama Desa Silayukti. (Dia) sesungguhnya lebih tua dari saya. Beliau sangat sakti, luar biasa tidak ada bandingannya. Itulah yang barangkali beliau tidak suka, sebab tidak terhingga saktinya. Sang Pendeta Kuturan namanya. Saya akan datang ke Bali terlebih dahulu, akan mendatangi Sang Pendeta di Sukti, meminta anugrah Sang Pendeta. Kamu Ken Kanuruhan pulanglah ke kerajaan, beritahukanlah kepada Sang Raja semua perkataan saya denganmu. Apabila saya datang dari Bali, saya akan menuju ke kerajaan untuk menghadap putraku, akan memberitahukan hasil perjalanan saya datang dari Bali.” Ken Kanuruhan minta pamit menyembah di kaki Sang Pendeta. Pulanglah dia ke kerajaan. Berangkatlah ia dari
38b. asrama. Tidak diceritakan di jalan. Ia segera datang di kerajaan, hendak memberitahukan kepada Sang Raja semua pesan Sang Pendeta. Tidak diceritakan Sang Kanuruhan, telah melaporkan kepada Sang Raja. Berkatalah Sang Pendeta Baradah memberikan perintah kepada putrinya bernama Wedawati, “E, putriku Wedawati, janganlah kamu tergesa-gesa moksa dahulu sampai saya datang dari Bali, lagi pula pekerjaan saya belum selesa, kelak engkau bersama saya.” Putrinya menyetujui (akan) ucapan Sang Pendeta. Lalu Sang Pendeta Baradah berangkat menuju Bali, tujuannya datang di Asrama Sukti. Adapun desa-desa yang dilewati dari asrama di Semasana Lemah Tulis, yaitu di Watulambi, di Sangkan, Banasara, di Japana, Pandawan, Bubur Mirah, melewati Desa Campaluk, Kandikawari, di Kuti dan Koti. DI sana beliau bermalam semalam. Esok hari beliau berjalan lagi
39a. sampai Kapulungan, di Makara Mungkur, Bayalangu, Ujungalang, Dawewihan, Pabayeman, di Tirah, di Wunut, Talepa, We Putih (Pasir Putih), dan di Genggong. Gahan, Pajarakan, Lesan, Sekarawi, dan di Gadi. Berbelok ke arah utara pergi Sang Pendeta melewati Desa Momorong, Ujung Widara, di Waru-Waru, Daleman, Lemah Mirah, Tarapas, Banyulangu, Gunung Patawuran, Sang Hyang Dwaralagudi, Pabukuran, Alang-Alang Dawa, Patukangan, Turayan, Karasikan, Balawan, Hijin, Belaran, dan Andilan. Tidak dikatakan desa-desa yang dilewatinya. Beliau segera datang di Sagara Rupek (Selat Bali). Sang Pendeta Baradah menantikan orang yang menyeberangkan. Orang-orang yang menyeberangkan mendadak sepi, tidak ada yang tampak oleh Sang Pendeta. Ada daun kalancang (Artocarpus incisa) di pantai. Daun itu diapungkannya di samudra, dipakai alat menyeberang oleh Pendeta Baradah.
39b. Akhirnya, dia berdiri di atas daun kalancang, daun kalancang berlajar di samudra. Sang Pendeta pergi ke arah timur menuju ke tempat yang bernama Kapurancak. Di sanalah beliau turun dari daun kalancang. Lalu daun kalancang itu disembunyikan oleh Sana Pendeta. Beliau berjalan ke asrama Silayukti. Tidak diceritakan beliau tiba di jalan, segera berjalan ke asrama Silayukti. Tidak diceritakan beliau tiba di desa Yukti. Di sana beliau duduk di ruangan tamu, lama tidak ada yang menyambutnya. Apa sebabnya demikian? Karena Mpu Yogiswara Kuturan sedang menjalankan yoga. Beliau lama tidak muncul dari dalam asrama, sangat tekun menjalankan yoganya. Sang Pendeta Baradah menunggu tidak sabar, beliau menanti di tempat tamu. Oleh karena itu beliau menciptakan air sampai batas leher Mpu Kuturan air itu. Beliau tetap saja kokoh, tanpa terganggu beliau mennjalankan yoga,
40a. tidak berubah. Diciptakan banjir semut gatal, mengambang ada di atas air, berebutan memenuhi leher. Sang Pendeta Mpu Kuturan masih saja melanjutkan yoganya dengan sikap tangan di hidung, menyatukan pikiran utama. Akhirnya, air itu hilang pelan-pelan lalu kering, juga semua gatal itu lenyap, bagaikan disapu bersama dengan hilangnya air besar. Beliau telah tahu apabila kedatangan dia yang tinggal di Suti Asrama, saudaranya dari Buh Citra, tetapi beliau pura-pura tidak tahu saat itu. Akhirnya, setelah lama lalu keluarlah beliau menuju ke tempat tamu Sang Pendeta Kuturan. Mpu Baradah turun dari tempat duduk. Beliau disambut oleh kakaknya, “Om-om bahagia saudaraku. Apakah yang kau kerjaka aneh datang ke mari? Nah, Saudara duduk di sini bersama. Lama kamu tidak bertemu dengan aku bagaikan rasa rindulah kakakmu ini.” Lalu menyembahlah Mpu Baradah, lalu duduk. Ucapnya kepada Sri Mpu Kuturan.
40b. Mpu Baradah berkata, “Diterima oleh Adik Anda penyambutan oleh Sang Pendeta, juga tujuan adik Pendeta datang ke hadapan Pendeta Kuturan. Adikmu bermaksud mendapatkan keikhlasan Sang Pendeta, juga murid adik Sang Pendeta Tuanku. Raja di Jawa nama penobatannya Maharaja Erlangga, bergelar Jatiningrat. Dia berputra dua orang, itulah Tuanku, diharapkan akan diangkat raja di Bali seorang, yang lainnya (lagi) di Pulau Jawa. Senanglah kemudian Bali dan Jawa bersatu. Begitulah tujuan menghadap Tuan Hamba.” Sri Yogiswara Mpu Kuturan lalu berkata, “Hai, ternyata begitulah tujuan kedatangan Anda. Saya tidak setuju jika demikian. Saya tidak tahu beliau akan mengangkat raja di Bali, sebab di sana menyiapkan rencananya. Masih ada hubungan cucu dengan aku, (dia) itulah yang kami angkat menjadi raja di Bali.” Pendeta Baradah berkata lagi, “Tuanku, saya
41a. berkata lagi ke hadapan Sang Pendeta. Apabila sungguh salah di hadapan Tuan Hamba, seluruh Nusantara itu Tuanku, daerah-daerah itu sama-sama menyerahkan upeti semua.” Beliau Mpu Kuturan menjawab, “Tanpa alasan bahwa Nusantara banyak menyerahkan upeti tunduk kepada Jawa semua, jika untuk Bali saya tidak setuju. Jika begitu, saya senang apabila menyerbu seluruh negara, ya sedapat-dapatnya saya menerima. Apabila saya telah mati saat itu jugalah sekehendak Raja Jawa akan memerintah Bali itu.” Setelah Mpu Baradah mendengarkan semua ucapan beliau Mpu Kuturan itu, bahwa perjalanannya tidak berhasil, tidak disukai kakaknya. Segera turun Mpu Baradah lalu keluar di luar asarama. Beliau lalu membuat gempa. Tidak terhitung besar gempa datang, tumbuh-tumbuhan patah saling bersuara retak,
41b. yang lainnya rebah. Orang-orang yang berada di tepi air jatuh di sungai terbenam air. Rumah-rumah banyak yang roboh. Orang-orang di seluruh Kerajaan Bali terkejut, menyuruh pesuruh istana agar pergi ke Asrama Silayukti menanyakan tentang gempa bumi, berlari diberitahu. Tidak diceritakan di jalan, utusan itu segera tiba di Silayukti. Utusan itu memberitahu Mpu Kuturan, “Tuanku Sang Pendeta, Bagaimanakah cerita yang sebenarnya gempa itu, datang tiba-tiba timbul dan sangat besar gempa itu, dari sejak dahulu tidak ada (gempa) demikian?” Lalu Pendeta Kuturan menjawab, “Hai, janganlahanda khawatir, hendaklah semua tabah di kerajaan. Ada tamu saya dari Pulau Jawa, membencanai aku. Dialah yang menyebabkan gempa.” Setelah utusan itu diberitahu oleh Sang Pendeta, utusan dari Kerajaan Bali segera minta pamit dan pergi.
42a. Tidak diceritakan perjalanan di jalan, segera datang di Kerajaaan Bali memberitahukan kedatangannya kepada para menteri utama. Tidak diceritakanlah perkataannya. Diceritakan Mpu Baradah, lalu beliau pergi dari asrama Desa Silayukti. Beliau segera sampai di Kapurancak. Lalu diambilnyalah daun kalancang, hendak diapungkan di air, daun itu akan ditumpanginya, daun kalewih itu tenggelam. Itulah sebabnya beliau mengulang menumpangi daun kalancang itu lagi, tenggelam lagilah daun kalancang. Beliau khawatir habis akal, Sang Pendeta Baradah. Beliau berkata dalamhati, “Hai, apakah sebanya saya seperti ini, sepertinya tidak datang ke Pulau Jawa lagi rasa pikiran saya.” Beliau menjadi mengingatkan dalam hati. Hal itulah mengingatkannya seperti ada yang memberikan peringatan, “Hai, saya belum pamit
42b. tadi, di hadapan beliau pendeta di Sukti. Nah, oleh karena itu, saya balik minta pamit beliau.” Sang Pendeta Baradah kembali minta pamit, datang ke tempat Pendeta Kuturan. Beliau segera tiba di asrama berjumpa Sang Pendeta Desa Sukti. Pendeta Baradah menyembah minta pamit, “Tuanku yang tinggal di sini, minta pamit adik Tuan Hamba Sang Pendeta.” Sang Pendeta di Sukti menjawab, “Ya berangkatlah, kau adikku.” Bahaya air pasang menghilang. Mpu Baradah segera pergi dari asrama. Lenyap perginya segera tiba di Kapurancak. Beliau naik di atas daun kalewih dengan enaknya bergerak ke barat. Segera tiba di Sagara Rupek, beliau menyeberang di sana, Sang Pendeta Baradah. Tidak diceritakan perjalanan Sang Pendeta di jalan sangat cepat jalannya.
43a. Beliau segera tiba di Kerajaan Daha, bertemu dengan putranya Sang Maharaja Erlangga yang sedang dihadap. Penuh sesak di tempat persidangan. Menteri utama, Patih Amangkubumi dan Rangga Kanuruhan, termasuk pula Sang Maha Pendeta, Brahmana, Buhjangga dan Resi. Beliau hadir ketika itu. Pendeta Baradah tiba-tiba datang dari angkasa. Mengejutkan, karena beliau tiba-tiba berdiri di tengah-tengah pertemuan. Kemudian dipeluklah kaki beliau Sang Pendeta oleh Maharaja Erlangga. Diusaplah telapak kaki Sang Pendeta, diletakkan pada ubun-ubunnya, dan dijilat oleh Sang Raja. Sang Pendeta berkata, “Om, aduh putraku engkau Sang Raja, tidak berhasil kepergianku ke Bali. Beliau yang berasrama di Desa Silayukti tidak setuju, apabila putra Sang Raja hendak memerintah di Bali seorang. Beliau sangat marah tidak menyetujui. Putra yang dalam hubungan cucunya akan
43b. dijadikan raja, sekarang pikirkan di sini jika bersamanya. Saya hampir tidak akan kembali ke Pulau Jawa lagi. Daun Kalancang yang saya tumpangi tenggelam.” Sang Raja berkata lalu menghormat kepada Sang Pendeta, memberitahukan kepada Sang Pendete, “Tuanku yang mulia telah bersungguh-sungguh Tuanku, jika demikian, (karena) tidak terhingga saktinya Pendeta dari Bali. Apabila Tuanku akan melaksanakan itu menyebabkan kehancuran badan. Adapun Pulau Jawa di sini saja dibagi dua.” Sang Pendeta berkata, “Ya, begitulah kata Anda. Saya senang Sang Raja, agar (putra Sang Raja) memerintah di Janggala Kadiri. Janganlah lama, segera persiapkan, kebetulan saya lagi ada di sini. Saya akan pulang ke penginapan dahulu.” Diikutilah Sang Pendeta pulang ke tempat penginapannya oleh Sang Raja, menuju rumah gading. Di sana dipersembahkan makanan oleh Sang Raja kepada Sang Pendeta. Tidak diceritakan Sang Pendeta Baradah.
44a. Diceritakan Sang Raja, beliau keluar lagi, memerintahkan kepada para Menteri, Patih, Rangga, Kanuruhan, akan membuat panggung dua buah dan membuat bangsal, dipakai tempat penghormatan putranya. Kokoh (tempat) akan berdiri raja dua orang. Tempat itu sangat indahnya, setiap tiang ditutup dengan hiasan kain pinggiran. Tidak diceritakan permata emas bersinar terang menakjubkan, warnanya gemerlapan. Tidak disebutkan ular-ular itu, kain bulu (wool) dengan ekornya bersambungan. Ada yang berwarna putih dan ungu sepintas lintas menyilaukan, sutera putih berkibar ditiup angin bagaikan pelangi dan ombak air. Dibangun panggung di timur satu dan di barat satu. Tidak diceritakan para Guru Loka, Sang Brahmana, Buhjangga, Sang Resi, sama-sama siaga di tempat. Beliau yang akan mengucapkan doa-doa di penghormatan. Putra-putra sudah siap berbusana, keluarlah beliau berdua.
44b. Mereka berdua naik ke panggung yang dihiasi, keindahannya bebagai upacara di sana, hingga nyata seisi laut dan gunung. Tidak ada kekurangannya. Beliau bersama-sama direstui oleh para Guru Loka, Brahmana, Buhjangga, Resi, yang menobatkan raja dua orang. Suara tabuh-tabuhan menggema, gong, gamelan, terompet bersama dengan gendang, dan serunai. Tidak henti-hentinya bunyi terompet , lonceng keras bersama berbunyi, riuh rendah memecahkan telinga. Setelah beliau bersama di tempat penghormatan, direstui doa-doa oleh Sang Pendeta. Beliau duduk di singgasana masing-masing, sangat indah kelihatan. Yang duduk di singgasana timur dinamai Sang Raja Janggala. Yang duduk di singgasana barat dinamai Sang Raja Kadiri. Itulah sebabnya dinamai Janggala dan Kadiri sampai sekarang. Setelah demikian, sama-sama membuat
45a. keraton, mengatur daerahnya masing-masing, telah pantaslah dinamai Janggala Kadiri. Akhirnya, begitu damai beliau bersaudara, sepertinya menyatu sederajat sejajar, bersama-sama menjadi raja. Lamalah olehnya (raja) menikmati (kesejahteraan) dengan para petani dan masyarakatnya hingga beberapa malam bersama Maharaja Erlangga. Beliau sama-sama senang memerintah sampai di kemudian hari mendapatkan fitnah dalam pemerintahannya. Sang Raja Kadiri membuat rencana perang, kakaknya Raja Janggala hendak diserang oleh Sang Raja Kadiri. Segeralah Sang Raja akan menghancurkan Janggala. Beliau Sang Raja Janggala mendengar bahwa dia diserang oleh Raja Kadiri. Menghadaplah beliau Sang Raja kepada ayahandanya, mmeberitahukan kepada Sang Raja Tua, lalu ucapnya, “Ayahanda Raja,
45b. putra Tuan memberitahukan kepada Paduka Yang Mulia. Hamba diserbu oleh putra Ayahanda Raja Kadiri.” Raja Erlangga berkata, “Hai, mengapa demikian seperti ucapmu? Janganlah kau tergesa-gesa melawan. Saa akan mengirim utusan ke Kadiri, pulanglah saja kau ke Janggala dulu.” Minta dirilah Sang Raja Janggala pulang, dia telah tiba di Janggala. Utusan Raja Tua segera berangkat ke Kadiri, hendak mencegah Raja Kadiri, supaya menghentikan perangnya. Raja Kadiri tidak memperhatikan. Ia tetap ingin menyerbu dengan kekuatan ke Janggala. Berdengunglah suara tabuh-tabuhan, pěreret, surun, gěnding, gendang, gong bersuara keras, bersama-sama riuh gemuruh, bercampur dengan ringkik kuda, gajah dan kelebat bendera tertiup angin.
46a. Jalan kuda mengikuti penuh sesak, bagaikan gelombang air menggulung. Orang-orang di Janggala telah siap berjaga-jaga, menyongsong pasukan Sang Raja Kadiri. Penuh sesak banyak prajuritnya, gemuruh suara tabuh-tabuhan, disertai senjata, gegap gempita bagaikan guntur baru datang. Ujung pasukan telah bertemu, ramai tembak-menembak. Hentikan sejenak, diceritakan Raja Erlangga, sulit merasakan dalam hati, sebab nasihatnya tidak diperhatikan. Dia segera memberitahukan kepada Sang Pendeta, menyuruh melerai peperangan. Sang Pendeta segera pergi menuju Raja Kadiri. Dia segera datang ke sana, ditemuilah Raja Kadiri sedang duduk di balai-balai, dihadap oleh rakyatnya semua. Dia melihat Sang Pendeta datang,
46b. Raja Kadiri turun dari balai, menghormat di kaki Sang Pendeta, menyapa Sang Pendeta dengan senang. Sang Pendete segera berkata, “Saya minta selamat cucu Sang Raja. Maksud saya datang ke mari melerai perangmu. Saya akan berhati-hati membagi dua wilayah desa di Pulau Jawa ini. Terimalah usul saya cucu, apabila Sang Raja tidak menerima nasihat saya, kau akan mendapatkan kutuk, karena kau berperang dengan saudaramu lagi.” Sang Raja Kadiri berkata, “Mengapakah cucu Tuanku Sang Pendeta, tidak menuruti nasihat Sang Pendeta?” Sang Pendeta berkata, “Kau ini cucuku, syukurlah apabila kau telah menerima nasihatku. Nah, tinggallah kau di sini, cucu. Saya berangkat ke Janggala, hendak melerai perangnya cucu Raja
47a. di Janggala. Saya akan memberikan kutukan kepada Raja Janggala.” Sang Pendeta Baradah segera pergi, tujuannya ke Kerajaan Janggala. Lalu Sang Pendeta berjalan. Beliau segera tiba di Kerajaan Janggala. Lalu Sang Pendeta berjalan. Beliau segera tiba di Kerajaan Janggala, dijumpainya beliau (Raja Janggala) dihadap oleh rakyatnya banyak. Beliau (Raja Janggala) melihat bahwa Sang Pendeta datang, beliau turun dari tempat duduknya, lalu menyembah menghormat di kaki Sang Pendeta. Berkatalah Sang Raja Janggala, “Bahagialah Sang Pendeta. Apakah maksud Tuan Hamba, sehingga datang ke tempat cucu, sama-sama duduk Tuan Sang Pendeta ?” Beliau Sang Pendeta segera duduk, berdua bersama cucunya. Berkatalah Sang Bijaksana, “Tujuan saya mendatangi cucuku Sang Raja, saya hendak melerai perangmu. Pertama saya datang pada adikmu di Kadiri, meleraikan perang itu. Terlebih dulu saya akan membagi upetimu di Pulau Jawa termasuk
47b. para petani semua, selain yang diserahkan kepada ayahmu, anakku. Aku sekarang menyatukan hubunganmu bersaudara, tujuannya agar tidak ada yang akan rebutan. Terimalah nasihatku cucu. Engkau sama-sama akan kukutuk, jika pecah perang lagi kelak. Janganlah engkau cucuku menerima fitnah buat-buatan. Janganlah tidak memegang kewajiban utama, kau Sang Raja.” Berkatalah Sang Raja Janggal kepada Sang Pendeta, “Mengapakah cucu ada pendeta yang mulia, tidak akan menerima nasihat Sang Pendeta, sebab Sang Pendeta hendak berusaha mencapai damai?” Sesudah demikian lalu mereka mengundurkan diri bersama prajuritnya masing-masing. Sang Raja Kadiri dan Sang Raja Janggala. Dibagilah penduduk desa semua dan desanya oleh Sang Pendeta. Mereka ingan bagian masing-masing dan sama-sama diberitahu tentang Manusasana‘ajaran tingkah
48a. laku manusia.’ Terutama Rajapurana, mengenai hubungan rakyat petani, tahu tentang batas-batas wilayah kerajaan. Sama-sama sejahtera semuanya seperti satu orang saja. Raja Janggala dan Raja Kadiri sama bersenang-senang di negaranya. Setelah beliau bersatu keduanya dengan pembagian wilayah dan rakyat oleh Sang Pendeta, kemudian Sang Pendeta pulang ke kerajaan Bagawan Sri Erlangga. Dijumpainyalah Sang Raja sedang dihadap, Sang Raja melihat bahwa Sang Pendeta datang. Beliau turun dari tempat duduknya, lalu mengatur pakaiannya, kemudian mengusap debu kaki Sang Pendeta ditempatkan di ubun-ubun. Sang Pendeta berkat, “Saya telah selesai melerai peperangan Putranda dan membagi wilayah mereka masing-masing. Semoga sama-sama ingin Putranda itu tidak saling berebutan batas wilayah. Saya menjatuhkan kutukan, jika berebutan batas-batas wilayah. Sama-sama menerima Putranda itu.
48b. Seperti Putranda sekarang menurut keinginanku, putra Ken Apatih jadilah Apatih Janggala. Keturunan Ken Kanuruhan jadilah apatih di Kadiri. Itulah hendaknya dikerjakan dengan baik jangan ada yang berebutan, hendaklah merata olehnyaanggagading, sama akan dijatuhi kutuk. (Begitulah) saya berkata demikian, sebabnya Apatih dan Ken Kanuruhan, sama-sama ingin menjalani kehidupan suci. Bersama-sama mengikuti jejak Sang Raja, mempelajari sang Hyang Dharma.” Berkatalah Sang Raja kepada Raja Tua, “Om, sungguh mulia Tuanku Sang Pendeta, sekaranglah Tuanku, Pun Apatih dan Pun Kanuruhan hendak mengikuti jalan Sang Pendeta, menjalani kehidupan suci diberi pelajaran Sang Hyang Dharma, melakukan permohonan belajar atau tapa. Adapun maksud Tuanku mendapatkan yang tengah. Jumlahnya upah 4000, yang diserahkan kepada Sang Pendeta.” Berkatalah Sang Pendeta, “Hai, itu sangat
49a. baik keinginan Ken Apatih dan Ken Kanuruhan, oleh karena hendak mengikuti perjalanan anakku Sang Raja dalam duka dan nestapa. Baiklah, siapkan jangan lama-lama. Saya ingin pulang ke asrama.” Lalu disiapkan bunga-bunga, dengan berbagai bunga dupa lampu menyala. Semuanya lengkap sesaji itu, segala isi laut dan gunung. Lalu beliau mengucapkan mantra dan aksara, menggema suara gendang gending sangka. Ken Apatih dan Ken Kanuruhan diberi sěsědep. Setelah beliau setuju keduanya, diajarlah beliau tentang Sang Hyang Dharma dan tuntunan hidup yang utama. Habis seluk beluk rahasia sedunia dan segala yang tampak. Selesai upacara Ken Apatih dan Ken Kanuruhan membuat kebaikan. Sang Yogiswara berkata kepada Sang Raja, “Hai, anakku Sang Raja, ayahmu ingin pulang ke asrama. Ajarilah olehmu Ken Apatih dan Ken Kanuruhan.” Sang Raja menghormat kepada orang yang dihormatinya,
49b. sambil mengusap debu di kaki Sang Maha Pendeta, ditempatkan di ubun-ubun oleh Sang Raja Erlangga. Segera pergilah Sang Kosali. Adapun Sang Apatih dan Ken Kanuruhan ingin mengikuti Sang Pendeta, tetapi tidak diberikan oleh Sang Pendeta, sama-sama menghaturkan sembah penghormatan, serta mengusap telapak kaki Sang Pendeta. Beliau pergi dari kerajaan, senanglah perjalanan Sang Pendeta menghibur diri. Tidak diceritakan beliau di jalan. Beliau segera datang di asramanya di Buh Citra Semasana. Dijumpai putrinya sedang memperbaiki sanggulnya yang lepas. Terkejut dan berkatalah Sang Wedawati, “Ai, beliau yang Mulia datang.” Lalu turun perlahan dan mengatur kain Sang Wedawati, menghormat dan memeluk kaki Sang Pendeta. Berkatalah Sang Pendeta, “Saya datang anakku, saya telah lama ingin pulang ke asrama, belum selesai juga
50a. pekerjaan saya. Sekarang telah selesai pekerjaan saya, karena itu saya pulang ke asrama.” Sang Wedawati berkata lagi, “Tuanku Sang Pendeta, kapankan Tuan Yang Mulia moksa? Putri Tuanku ingin segera mengikuti ibuku.” Sang Pendeta berkata, “Apabila demikian keinginan Putriku, kau ingin segera moksa. Ya, baiklah sekarang juga saya beritahukan kepada Si Weksirsa.” Segera datang berlutut menyembah bersama Pun Mahisawadana. Lalu ucapnya kepada Sang Pendeta, “Tuanku Yang Mulia, mempunyai satu keinginan moksa. Si Weksirsa dan Mahisawadana ingin moksa ikut Tuanku.” Sang Pendeta berkata, “Tidak dapat dikabulkan engkau Si Weksirsa dan Mahisawadana (moksa) bersama dengan saya. Tiga tahun lagi engkau akan moksa, dapt bertemu dengan saya, tinggallah engkau di sini.”
50b. Setelah beliau selesai berkata, segera moksa Sang Maha Bijaksana berdua bersama putrinya Sang Wedawati, moksa hilang lenyaplah dia. Setelah moksa Sang Pendeta Baradah, beliau bersama-sama lenyap, suka tidak kembali duka, lenyap, tidak akan melihat badannya kembali. Setelah itu tidak ada lagi cerita Sang Pendeta Baradah yang tinggal di asrama Semasana, dinamailah Murare sampai sekarang. (Dia) tidak diceritakan lagi. Ada putranya yang tinggal di Lemah Tulis. Beliau bernama Mpu Yajnaswara. Beliaulan yang mengambil peninggalan di asrama Semasana dan kekayaan yang ada semua, termasuk buku-buku suci, juga emas dan berbagai permata, padi uang serta rakyat semua, dan kerbau sapi. Itulah diambil oleh Mpu Yajnaswara dibawanya ke Lemah Tulis. Yang masih ditinggalkan adalah persediaan makanan Si Weksirsa dan Mahisawadana, yang
51a. menunggu asrama Semasana. Karena itu asrama di Uwih Citra menjadi tempat upacara ritual, sebab keturunan Sang Yogiswara Baradah. Pertapaan suci di Hanget (Kali Anget), turun temurun di Rupit (Selat Bali) murid Sang Pendeta Baradah, karena itu daerah di Rupit menjadi tempat upacara lagi sampai sekarang. Tamatlah cerita Mpu Baradah, ketika tinggal di Semasana Lemah Tulis. Selesai ditulis di Semadri Camara, menghadap ke arah barat di bawahnya Sungai Harung. Ada guanya di sana, pada tahun Saka 1462 (1540 Masehi), tanggal bulanhamacapmika, paroh terang, ke-10. Perhitungan hari, tujuh,Sukra (Jumat), hari lima, Umanis; hari delapan, Sri; hari enam,Wurukung; hari tiga, dwara (Kajeng); hari sembilan, gigis; hari empat, laba; kulawu ring kawi wuku, pratiti, sadayatana (dua belas). Demikianlah selesainya
51b. karya suci ditulis. Agar dipelihara orang-orang yang sudi mempelajari akasara, salah tulis, kurang dan lebih. Agar dimaafkan oleh mereka yang mengetahui tentang aturan sastra, karena masih muda, memaksa mengetahui menyalin (menulis) sastra utama, bermaksud meminjam tidak berhasil. Om, Sri Saraswati semoga berhasil sejahtera. Om, semoga panjang umur bagi Sang Penulis dan yang memiliki sastra utama. Semoga sukses.
Readmore...
/*