Hari Siwaratri

 

Siwaratri (Mahasivaratri) adalah Hari suci umat Hindu baik di India dan Indonesia khusus untuk memuja Dewa Siwa.Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat manusia, karena pada hari tersebut Dewa Siwa beryoga. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri, pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa, dalam usaha menimbulkan kesadaran diri (atutur ikang atma ri jatinya). Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa upawasa, monabrata dan jagra. Siwar√Ętri juga disebut hari suci pajagran.

Sejarah Siwaratri di Indonesia khususnya dilaksanakan di Bali saat ini berdasarkan penanggalan tahun Saka Jawa yang jatuh pada Bulan mati Ketujuh (Tilem kepitu) yaitu Januari-Februari dalam bulan Masehi. Pelaksanaan Siwaratri di Indonesia berdasarkan text Lontar Siwaratri Kalpa, kisah Si Lubdhaka karya Mpu Tanakung. dimana Lubdaka yang selama 36 jam tidak turun-turun dari pohon Bila, karena takut disergap harimau, tetapi tanpa sengaja disaat itu dia sudah mengiringi tapa-brata Bhatara Siwa secara penuh.

Sedangkan di India Sivaratri dilaksanakan pada  malam ke14th 13 dari bulan Maagha pada penanggalan Salibahana atau bulan  Phalguna bulan pada kalender Vikrama yang jatuh pada bulan Februari- Maret Masehi. Mahasivaratri  di India berdasarkan pada Garuda Purana yaitu cerita tentang Raja Chitrabhanu dari dinasti Ikshvaku , yang memerintah atas seluruh Jambudvipa (India), sedang menjalankan puasa dengan istrinya, karena hari itu adalah harii Maha Shivaratri. Seorang Brahmana bernama Ashtavakra datang berkunjung ke kerajaan. Brahmana itu bertanya raja tujuan nya menjalani puasa. Raja Chitrabhanu menjelaskan bahwa ia memiliki karunia mengingat insiden kelahiran masa lalunya, dan dalam kehidupan sebelumnya ia telah pemburu di Varanasi dan namanya Suswara. Cerita Suwara berikutnya sangat mirip dengan cerita Lubdaka di Indonesia yang akhirnya mendapat Karunia dari Dewa Siwa.

Pelaksanaan Siwarartri di Bali biasanya dilakukan terdiri dari:
  1. Utama, melaksanakan:
    1. Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).
    2. Upawasa (tidak makan dan tidak minum).
    3. Jagra (berjaga, tidak tidur).
  2. Madhya, melaksanakan:
    1. Upawasa.
    2. Jagra.
  3. Nista, hanya melaksanakan:
    Jagra.
PENEBUSAN DOSA

Saat ini masih terjadi perdebatan tentang cerita Lubdaka apakah sebuah dosa bisa ditebus dan dihapus?  Berdasarkan Bhagavad Gita III-9 bahwa kita tidak boleh terikat akan perbuatan kita dan segala perbuatan ditujukan pada Tuhan. Bhagavad Gita V-2 Sri Bhagavan bersabda: Penyangkalan dari kegiatan kerja dan pelaksanaannya yang tanpa pamrih keduanya mengantarkan pada pembebasan roh. Tetapi dari keduanya itu, yang lebih baik adalah pelaksanaan kegiatan kerja tanpa pamrih. Bhagavad Gita V-6 Tetapi, penyangkalan kerja sulit dicapai tanpa yoga, wahai Mahabahu (Arjuna), orang bijak yang bersemangat dalam melakukan yoga, dengan segera mencapai Yang Mutlak (Tuhan).

Cerita Lubdaka maupun Suswara adalah cerita yang menurut saya adalah sebuah symbol tercapainya pembebasan : Lubdaka adalah Sang Roh, Pohon Bila yang penuh duri adalah Jalan pertapaan yang sangat menyakitkan untuk didaki, Harimau adalah Dosa dan Sifat kehewanan kita, Lingga Siva adalah Tuhan dan daun Pohon Bila setiap perenungan akan kesadaran yang dilakukan.

Disini Sang Roh yang terus dikejar oleh Sifat kehewanan dan dosanya pada akhirnya harus naik pada pohon pertapaan yang penuh duri dan menyakitkan, agar terus terjaga sang roh harus mengingat Tuhan dengan bantuan daun bila, yaitu perenungan akan dosa" kita sehingga tercapai hubungan dengan Tuhan. dan waktu jaga itupula menunjukkan waktu kehidupan sang Roh.

Selamat Hari Raya Siwaratri semoga semua mahluk berbahagia, Pembebasan diperoleh jika berhentinya samsara Samsara ada karena proses karma, terhentinya Samsara terhentinya karma. bagaimana menghentikan Karma adalah tersadarkan sepenuhnya untuk berbuat tanpa terikat hasil.

Om Hari hara ya Namaha
/*