Pages

Bhagawad Gita

0 komentar
 

Bhagawad Gita

 


  1. Arjuna Wisada Yoga, menguraikan keragu-raguan dalam diri Arjuna
  2. Samkhya Yoga, menguraikan ajaran yoga dan samkhya
  3. Karma Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena karma, usaha, perbuatan
  4. Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena ilmu pengetahuan suci
  5. Karma Samnyasa Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena prihatin
  6. Dhyana Yoga, menguraikan tentang makna dhyana sebaga satu sistem dalam yoga
  7. Jnana Widnyana Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena budi
  8. Aksara Brahma Yoga, menguraikan hakikat akan kekekalan Tuhan
  9. Raja Widya Rajaguhya Yoga, hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala ilmu pengetahuan (widya)
  10. Wibhuti Yoga, menguraikan akan sifat hakikat Tuhan yang absolut, tanpa awal, pertengahan dan akhir
  11. Wiswarupa Darsana Yoga, kelanjutan dari Wibhuti Yoga, dijelaskan dengan manifestasi secara nyata
  12. Bhakti Yoga, menguraikan tentang cara yoga dengan bhakti
  13. Ksetra Ksetradnya Yoga, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti
  14. Guna Traya Wibhaga Yoga, membahas Triguna - Sattwam, Rajas dan Tamas
  15. Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan
  16. Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas akan hakikat tingkah-laku manusia, baik dan buruk
  17. Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan kepercayaan dan berkeyakinan pada Triguna
  18. Moksa Samnyasa Yoga, merupakan kesimpulan dari semua ajaran yang menjadi inti tujuan agama yang tertinggi.

Bhagavad Gita - Gita Dhyanam

  1. Wahai Ibu Bhagavad-Gita, sebagai sabda Tuhan (Narayana) sendiri, dalam menejelaskan kepada Partha (Arjuna); yang tercantum dalam kitab Mahabharata, yang terdiri dari 18 bab, susunan Maharsi Vyasa; pencurah nektar Advaita, sebagai penghancur samsara, hamba bersujud kepada-Mu
  2. Wahai Rsi Vyasa yang cerdas, dengan mata bagaikan daun-daun bunga teratai yang sedang mekar, penyulut lampu kebijaksanaan yang penuh dengan minyak Mahabharata; perkenankanlah hamba bersujud kepada-Mu
  3. Sembah sujudku kepada Krsna, pemerah susu nektar Gita; bagaikan pohon Parijata bagi mereka yang berlindung pada-Nya; dan yang menggenggam seikat pohon tebu pada tangan yang satu, sedang tangan yang lainnya melakukan Jnana Mudra
  4. Dengan semua kitab Upanisad sebagai sapi-sapinya dan Arjuna sebagai anak sapinya, serta putra-putra para penggembala sapi sebagai si pemerah susu telah menyarikan susu nektar Gita tertinggi guna kenikmatan manusia yang telah memiliki pemahaman murni.
  5. Hamba bersujud kepada Krsna putra Vasudeva, kesayangan utama Devaki, penghancur raksasa Kamsa dan Canura; yang sesungguhnya adalah Tuhan (sendiri), sebagai jagad guru (guru semesta)
Readmore...

Bhagavad Gita BAB I

0 komentar
 

Prathamo ‘Dhyayah
Bab I
Arjuna Wisada Yogah

1-1
dhritarashtra uvaca
dharma-kshetre kuru-kshetre
samaveta yuyutsavah
mamakah pandavas caiva
kim akurvata sanjaya


“Dhritarashtra said: O Sanjaya, after my sons and the sons of Pandu assembled in the place of pilgrimage at Kurukshetra, desiring to fight, what did they do?”
Dhrtarastra berkata:

Di medan dharma, di padang Kuruksetra, ketika putra-putraku dan putra-putra Pandu telah berkumpul bersama siap untuk bertempur, apakah yang mereka lakukan, wahai Sanjaya?


1-2
sanjaya uvaca
drishtva tu pandavanikam
vyudham duryodhanas tada
acaryam upasangamya
raja vacanam abravit


“Sanjaya said: O King, after looking over the army arranged in military formation by the sons of Pandu, King Duryodhana went to his teacher and spoke the following words.”
Sanjaya berkata:
Kemudian, setelah menyaksikan pasukan para Pandava yang siap siaga dalam formasi tempur, pangeran Duryodhana menghampiri gurunya, acarya agung Drona, seraya berkata:


1-3
pasyaitam pandu-putranam
acarya mahatim camum
vyudham drupada-putrena
tava sisyena dhimata


“O my teacher, behold the great army of the sons of Pandu, so expertly arranged by your intelligent disciple the son of Drupada.”
Saksikanlah, wahai guruku; pasukan putra-putra Pandu yang gagah perkasa itu, yang dipimpin oleh murid paduka yang bijaksana, putra Drupada

1-4
atra sura mahesv-asa
bhimarjuna-sama yudhi
yuyudhano viratas ca
drupadas ca maha-rathah


“Here in this army are many heroic bowmen equal in fighting to Bhima and Arjuna: great fighters like Yuyudhana, Virata and Drupada.”
Disana ada pula para pahlawan pemanah tangguh yang sebanding dengan Bhima dan Arjuna dalam peperangan, seperti Virata, Yuyudhana dan Drupada yang semuanya merupakan perwira-perwira gagah perkasa

1-5
dhrishtaketus cekitanah
kasirajas ca viryavan
purujit kuntibhojas ca
saibyas ca nara-pungavah


“There are also great, heroic, powerful fighters like Dhrishtaketu, Cekitana, Kasiraja, Purujit, Kuntibhoja and Saibya.”
Juga terdapat Dhrstaketu, Cekitana dan raja negeri Kasi yang gagah perkasa; serta Purujit, Kuntibhoja dan Saibya, sebagai manusia-manusia pilihan yang perkasa

1-6
yudhamanyus ca vikranta
uttamaujas ca viryavan
saubhadro draupadeyas ca
sarva eva maha-rathah
“There are the mighty Yudhamanyu, the very powerful Uttamauja, the son of Subhadra and the sons of Draupadi. All these warriors are great chariot fighters.”
Juga ada Yudhamanyu yang kuat kekar; Uttamauja yang gagah berani, serta putra-putra Subhadra dan Draupadi, yang semuanya merupakan pahlawan-pahlawan kereta yang tangguh

1-7
asmakam tu visista ye
tan nibodha dvijottama
nayaka mama sainyasya
samjnartham tan bravimi te
“But for your information, O best of the brahmanas, let me tell you about the captains who are especially qualified to lead my military force.”
Ketahui pulalah, wahai yang terbaik di antara para dvijati (kaum pendeta), semua panglima pasukan kita yang merupakan pimpinan kenamaan, yang akan kusebutkan namanya guna bahan informasi paduka guru

1-8
bhavan bhismas ca karnas ca
kripas ca samitim-jayah
ashvatthama vikarnas ca
saumadattis tathaiva ca
“There are personalities like you, Bhishma, Karna, Kripa, Asvatthama, Vikarna and the son of Somadatta called Bhurisrava, who are always victorious in battle.”
Paduka sendiri, guruku; lalu Bhisma, Karna dan Krpacarya, yang selalu jaya dalam pertempuran; demikian pula Asvatthama, Vikarna dan putra-putra dari raja Somadatta

1-9
anye ca bahavah sura
mad-arthe tyakta-jivitah
nana-shastra-praharanah
sarve yuddha-visaradah

 
“There are many other heroes who are prepared to lay down their lives for my sake. All of them are well equipped with different kinds of weapons, and all are experienced in military science.”
Dan masih banyak lagi para pahlawan terlatih yang tangguh dalam peperangan, yang diperlengkapi dengan segala macam persenjataan dan siap mempertaruhkan nyawa mereka demi kepentinganku

1-10
aparyaptam tad asmakam
balam bhismabhiraksitam
paryaptam tv idam etesam
balam bhimabhiraksitam
“Our strength is immeasurable, and we are perfectly protected by Grandfather Bhishma, whereas the strength of the Pandavas, carefully protected by Bhima, is limited.”
Kekuatan pasukan kita yang dipimpin oleh Bhisma, secara sempurna tak terbatas jumlahnya; sementara pasukan mereka yang dipimpin oleh Bhima, terbatas jumlahnya.

1-11
ayanesu ca sarveshu
yatha-bhagam avasthitah
bhismam evabhirakshantu
bhavantah sarva eva hi
“All of you must now give full support to Grandfather Bhishma, as you stand at your respective strategic points of entrance into the phalanx of the army.”
Oleh karena itu, semuanya menempati posisimu masing-masing dalam divisimu dan hanya melindungi Bhisma saja, dengan segala cara

1-12
tasya sanjanayan harsam
kuru-vrddhah pitamahah
simha-nadam vinadyoccaih
sankham dadhmau pratapavan
“Then Bhishma, the great valiant grandsire of the Kuru dynasty, the grandfather of the fighters, blew his conchshell very loudly, making a sound like the roar of a lion, giving Duryodhana joy.”
Untuk membangkitkan semangat (Duryodhana), kakek Bhisma yang agung sebagai sesepuh wangsa Kuru, sekarang meniup terompet kerangnya dengan sangat kerasnya, bagaikan raungan seekor singa

1-13
tatah sankhas ca bheryas ca
panavanaka-gomukhah
sahasaivabhyahanyanta
sa shabdas tumulo ’bhavat
“After that, the conchshells, drums, bugles, trumpets and horns were all suddenly sounded, and the combined sound was tumultuous.”
 
Kemudian dengan serempak secara tiba-tiba dibunyikan terompet-terompet kerang, genderang, tambur dan terompet-terompet tanduk; yang suaranya gegap gempita membahana

1-14
tatah svetair hayair yukte
mahati syandane sthitau
madhavah pandavas caiva
divyau sankhau pradadhmatuh
“On the other side, both Lord Krishna and Arjuna, stationed on a great chariot drawn by white horses, sounded their transcendental conchshells.”
Manakala Krsna dan Arjuna berdiri di atas kereta indah yang ditarik oleh kuda-kuda berwarna putih, mereka juga mulai meniup terompet-terompet kadewatan mereka masing-masing

1-15
pancajanyam hrsikeso
devadattam dhananjayah
paundram dadhmau maha-sankham
bhima-karma vrkodarah
“Lord Krishna blew His conchshell, called Pancajanya; Arjuna blew his, the Devadatta; and Bhima, the voracious eater and performer of herculean tasks, blew his terrific conchshell, called Paundra.”
Hrsikesa (Krsna) meniup terompet Pancajanya-Nya, Arjuna meniup terompet Devadatta-nya; sedangkan Vrkodara (Bhima) yang biasa melaksanakan tugas-tugas berat, meniup terompet kerangnya yang hebat, yang bernama Paundra

1-16, 1-17 & 1-18
anantavijayam raja
kunti-putro yudhisthirah
nakulah sahadevas ca
sughosa-manipuspakau
kasyas ca paramesv-asah
sikhandi ca maha-rathah
dhrishtadyumno viratas ca
satyakis caparajitah
drupado draupadeyas ca
sarvasah prithivi-pate
saubhadras ca maha-bahuh
sankhan dadhmuh prithak prithak


“King Yudhishthira, the son of Kunti, blew his conchshell, the Ananta-vijaya, and Nakula and Sahadeva blew the Sughosa and Manipuspaka. That great archer the King of Kasi, the great fighter Sikhandi, Dhrishtadyumna, Virata, the unconquerable Satyaki, Drupada, the sons of Draupadi, and the others, O King, such as the mighty-armed son of Subhadra, all blew their respective conchshells.”
Putra Kunti, raja Yudhistira, meniup terompet kerangnya yang bernama Anantavijaya; Nakula dan Sahadeva, masing-masing meniup terompet kerangnya yang bernama Sughosa dan Manipuspaka
Dan pemanah perkasa raja dari negeri Kasi, ksatria kereta perang Sikhandi, Dhrstadyumna, Virata dan Satyaki yang sulit dikalahkan itu.
Wahai penguasa bhumi (Dhrtarastra); Drupada dan putra-putra Draupadi serta putra Subhadra (Abhimanyu) yang berlengan perkasa, semuanya juga meniup terompet kerangnya masing-masing

1-19
sa ghoso dhartarastranam
hridayani vyadarayat
nabhas ca prithivim caiva
tumulo ’bhyanunadayan
“The blowing of these different conchshells became uproarious. Vibrating both in the sky and on the earth, it shattered the hearts of the sons of Dhritarashtra.”
Memenuhi angkasa dan bumi dengan gema yang gegap gempita, menggetarkan hati para putra Dhrtarastra

1.20
atha vyavasthitan drishtva
dhartarastran kapi-dhvajah
pravrtte shastra-sampate
dhanur udyamya pandavah
hrishikesham tada vakyam
idam aha mahi-pate


“At that time Arjuna, the son of Pandu, seated in the chariot bearing the flag marked with Hanuman, took up his bow and prepared to shoot his arrows. O King, after looking at the sons of Dhritarashtra drawn in military array, Arjuna then spoke to Lord Krishna these words.”
 
Kemudian Arjuna yang berdiri di kereta perangnya yang berlambangkan kera (Hanoman) memandang barisan putra-putra Dhrtarastra yang siap dengan senjata-senjatanya, lalu mulai mengangkat busur panahnya

1-21 & 1-22
arjuna uvaca
senayor ubhayor madhye
ratham sthapaya me ’cyuta
yavad etan nirikse ’ham
yoddhu-kaman avasthitan
kair maya saha yoddhavyam
asmin rana-samudyame


“Arjuna said: O infallible one, please draw my chariot between the two armies so that I may see those present here, who desire to fight, and with whom I must contend in this great trial of arms.”

Dan wahai Sang Penguasa bhumi (Dhrtarastra), ia kemudian berkata kepada Hrsikesa (Krsna). Arjuna berkata: Arahkan dan tempatkan keretaku ini di tengah-tengah antara kedua pasukan (yang saling berhadapan) ini, wahai Acyuta (Krsna)
Supaya aku dapat mengetahui mereka yang siap dan bernafsu sekali untuk berperang; yang harus aku hadapi dalam pertempuran yang akan segera terjadi ini

1-23
yotsyamanan avekse ’ham
ya ete ’tra samagatah
dhartarastrasya durbuddher
yuddhe priya-cikirsavah

 
“Let me see those who have come here to fight, wishing to please the evil-minded son of Dhritarashtra.”
Dan aku ingin sekali melihat sendiri mereka yang berkumpul di sini, yang siap bertempur dan bernafsu sekali untuk mendapatkan apa-apa yang sangat disukai oleh putra Dhrtarastra yang berbudi jahat itu dalam peperangan ini.

1-24
sanjaya uvaca
evam ukto hrsikeso
gudakesena bharata
senayor ubhayor madhye
sthapayitva rathottamam


“Sanjaya said: O descendant of Bharata, having thus been addressed by Arjuna, Lord Krishna drew up the fine chariot in the midst of the armies of both parties.”
Sanjaya berkata:
Wahai Bharata (Dhrtarastra), setelah Gudakesa (Arjuna) berkata kepada Hrsikesa (Krsna), maka Sri Krsna menempatkan kereta perang yang sangat indah itu di tengah-tengah antara kedua pasukan yang saling berhadapan

1-25
bhisma-drona-pramukhatah
sarvesam ca mahi-ksitam
uvaca partha pasyaitan
samavetan kurun iti
“In the presence of Bhishma, Drona and all the other chieftains of the world, the Lord said, Just behold, Partha, all the Kurus assembled here.”
Di hadapan Bhisma, Drona dan semua pimpinan pasukan dan bersabda “Wahai Partha (Arjuna), lihatlah seluruh warga keluarga wangsa Kuru telah berkumpul bersama-sama di sini?

1-26
tatrapasyat sthitan parthah
pitrn atha pitamahan
acaryan matulan bhratrn
putran pautran sakhims tatha
svasuran suhridas caiva
senayor ubhayor api
“There Arjuna could see, within the midst of the armies of both parties, his fathers, grandfathers, teachers, maternal uncles, brothers, sons, grandsons, friends, and also his fathers-in-law and well-wishers.”
Kemudian di sana Partha menyaksikan berdiri dalam kedua barisan itu, para bapak, kakek, guru, paman, saudara sepupu, anak, cucu demikian pula para sekutu.

1-27
tan samiksya sa kaunteyah
sarvan bandhun avasthitan
kripaya parayavisto
visidann idam abravit
“When the son of Kunti, Arjuna, saw all these different grades of friends and relatives, he became overwhelmed with compassion and spoke thus.”
Dan juga para mertua dan teman sejawat pada kedua pasukan tersebut. Dan ketika putra Kunti (Arjuna) menyaksikan seluruh sanak keluarganya berdiri berbaris di sana. Ia diliputi dengan perasaan kasihan dan duka cita yang mendalam, sambil mengucapkan kata-kata ini:


1-28
arjuna uvaca
drstvemam sva-janam krishna
yuyutsum samupasthitam
sidanti mama gatrani
mukham ca parisusyati


“Arjuna said: My dear Krishna, seeing my friends and relatives present before me in such a fighting spirit, I feel the limbs of my body quivering and my mouth drying up.”
Arjuna berkata:
Bila aku menyaksikan orang-orangku sendiri yang berbaris dan bernafsu sekali untuk bertempur, wahai Krsna, anggota badanku terasa lemas, mulutku terasa kering.

1-29
vepathus ca sarire me
roma-harsas ca jayate
gandivam sramsate hastat
tvak caiva paridahyate
“My whole body is trembling, my hair is standing on end, my bow Gandiva is slipping from my hand, and my skin is burning.”
Sekujur tubuhku gemetaran dan bulu romaku merinding. (Busur) Gandiva terlepas dari tanganku dan kulitku terasa terbakar seluruhnya.

1-30
na ca saknomy avasthatum
bhramativa ca me manah
nimittani ca pasyami
viparitani keshava


“I am now unable to stand here any longer. I am forgetting myself, and my mind is reeling. I see only causes of misfortune, O Krishna, killer of the Keshi demon.”
Aku tak mampu untuk berdiri tegak dan pikiranku kacau. Dan aku melihat tanda-tanda buruk, wahai Kesava (Krsna), di mana aku tidak melihat kebaikan sama sekali dengan membunuh sanak keluarga sendiri dalam pertempuran ini.

1-31
na ca sreyo ’nupasyami
hatva sva-janam ahave
na kankse vijayam krishna
na ca rajyam sukhani ca


“I do not see how any good can come from killing my own kinsmen in this battle, nor can I, my dear Krishna, desire any subsequent victory, kingdom, or happiness.”
Aku tidak menginginkan kemenangan lagi, wahai Krsna, ataupun kerajaan maupun kesenangan; wahai Govinda (Krsna), apa gunanya lagi kerajaan ini bagi kita, demikian pula kenikmatan dan kehidupan ini sendiri.

1-32, 1-33, 1-34, & 1-35
kim no rajyena govinda
kim bhogair jivitena va
yesham arthe kanksitam no
rajyam bhogah sukhani ca
ta ime ’vasthita yuddhe
pranams tyaktva dhanani ca
acaryah pitarah putras
tathaiva ca pitamahah
matulah svasurah pautrah
syalah sambandhinas tatha
etan na hantum icchami
ghnato ’pi madhusudana
api trailokya-rajyasya
hetoh kim nu mahi-krte
nihatya dhartarastran nah
ka pritih syaj janardana


“O Govinda, of what avail to us are a kingdom, happiness or even life itself when all those for whom we may desire them are now arrayed on this battlefield? O Madhusudana, when teachers, fathers, sons, grandfathers, maternal uncles, fathers-in-law, grandsons, brothers-in-law and other relatives are ready to give up their lives and properties and are standing before me, why should I wish to kill them, even though they might otherwise kill me? O maintainer of all living entities, I am not prepared to fight with them even in exchange for the three worlds, let alone this earth. What pleasure will we derive from killing the sons of Dhritarashtra?”
Demi untuk siapakah kita serta mereka yang berdiri di sini berperang dengan mengorbankan nyawa dan harta benda, menginginkan kerajaan, kenikmatan dan kesenangan ini? Para guru, ayah, putra-putra dan juga para kakek, paman, mertua, cucu, ipar dan kaum kerabat (lainnya). Wahai Madhusudana (Krsna), aku tak ingin membunuh mereka, walaupun mereka membunuhku; kendatipun akan memerintah di ketiga dunia ini, apalagi hanya untuk dunia ini saja? Kesenangan apakah yang akan kita peroleh setelah membunuh putra-putra Dhrtarastra ini, wahai Janardana (Krsna)? Yang pasti hanyalah dosa bagi kita bila membunuh si durjana ini.

1-36
papam evasrayed asman
hatvaitan atatayinah
tasman narha vayam hantum
dhartarastran sa-bandhavan
sva-janam hi katham hatva
sukhinah syama madhava


“Sin will overcome us if we slay such aggressors. Therefore it is not proper for us to kill the sons of Dhritarashtra and our friends. What should we gain, O Krishna, husband of the goddess of fortune, and how could we be happy by killing our own kinsmen?”
Karena itu, tidak patut kita membunuh kaum kerabat kita sendiri, putra-putra Dhrtarastra itu. Sesungguhnya, bagaimana mungkin kita dapat bahagia, wahai Madhava (Krsna), apabila kita membunuh keluarga sendiri?

1-37 &-38
yady apy ete na pasyanti
lobhopahata-cetasah
kula-ksaya-kritam dosam
mitra-drohe ca patakam
katham na jneyam asmabhih
papad asman nivartitum
kula-ksaya-kritam dosam
prapasyadbhir janardana


“O Janardana, although these men, their hearts overtaken by greed, see no fault in killing one’s family or quarreling with friends, why should we, who can see the crime in destroying a family, engage in these acts of sin?”
Walaupun bagi mereka yang pikirannya dikuasai oleh ketamakan, tidak melihat kesalahan dalam pemusnahan keluarga dan tidak merasa berbuat jahat dalam membasmi kawan. Mengapa kita tidak memiliki kebijaksanaan untuk berpaling dari dosa semacam ini, wahai Janardana (Krsna); kita yang melihat kesalahan dalam memusnahkan sanak keluarga ini?

1-39
kula-ksaye pranasyanti
kula-dharmah sanatanah
dharme naste kulam krtsnam
adharmo ’bhibhavaty uta


“With the destruction of dynasty, the eternal family tradition is vanquished, and thus the rest of the family becomes involved in irreligion.”
Dalam hancurnya keluarga, hukum-hukum tradisinya juga musnah; dan apabila hukum-hukum itu lenyap, maka keseluruhan keluarga juga akan berakibat menjadi tanpa dasar hukum

1-40
adharmabhibhavat krishna
pradusyanti kula-striyah
strisu dustasu varsneya
jayate varna-sankarah


“When irreligion is prominent in the family, O Krishna, the women of the family become polluted, and from the degradation of womanhood, O descendant of Vrishni, comes unwanted progeny.”
Dan apabila tirani merajalela, wahai Varsneya (Krsna), para kaum wanita dari keluarga akan menjadi ternoda dan bila para wanita telah ternoda, tatanan warna asrama menjadi kacau tidak karuan

1-41
sankaro narakayaiva
kula-ghnanam kulasya ca
patanti pitaro hy esam
lupta-pindodaka-kriyah


“An increase of unwanted population certainly causes hellish life both for the family and for those who destroy the family tradition. The ancestors of such corrupt families fall down, because the performances for offering them food and water are entirely stopped.”
Kekacauan moral ini akan membawa keluarga itu sendiri ke dalam neraka, demikian pula para pembunuhnya. Karenanya, roh-roh para leluhur akan jatuh karena ketiadaan persembahan nasi dan air bagi mereka

1-42
dosair etaih kula-ghnanam
varna-sankara-karakaih
utsadyante jati-dharmah
kula-dharmas ca sasvatah


“By the evil deeds of those who destroy the family tradition and thus give rise to unwanted children, all kinds of community projects and family welfare activities are devastated.”
Oleh perbuatan keliru yang dilakukan para penghancur keluarga tersebut dan yang mengacaukan keberadaan varna asrama, hukum-hukum kasta yang sudah lama berlalu dan juga keluarga itupun akan hancur

1-43
utsanna-kula-dharmanam
manushyanam janardana
narake niyatam vaso
bhavatity anususruma


“O Krishna, maintainer of the people, I have heard by disciplic succession that those who destroy family traditions dwell always in hell.”
Dan kita semua telah mendengar, wahai Janardana (Krsna) bahwa orang-orang dari keluarga-keluarga yang hukum-hukum tradisinya termusnahkan, pasti akan dicampakkan di neraka

1-44
aho bata mahat papam
kartum vyavasita vayam
yad rajya-sukha-lobhena
hantum sva-janam udyatah


“Alas, how strange it is that we are preparing to commit greatly sinful acts. Driven by the desire to enjoy royal happiness, we are intent on killing our own kinsmen.”
Aduh, betapa besar dosa yang kita tanggung dalam usaha kita membunuh orang-orang (keluarga) kita sendiri, akibat dari perasaan tamak akan kenikmatan memiliki kerajaan

1-45
yadi mam apratikaram
ashastram shastra-panayah
dhartarastra rane hanyus
tan me kshemataram bhavet


“Better for me if the sons of Dhritarashtra, weapons in hand, were to kill me unarmed and unresisting on the battlefield.”
Jauh lebih baik bagiku, apabila putra-putra Dhrtarastra dengan senjata di tangan membunuhku dalam pertempuran, sementara aku tetap tak melawan dan tanpa senjata

1-46
sanjaya uvaca
evam uktvarjunah sankhye
rathopastha upavisat
visrjya sa-saram capam
soka-samvigna-manasah


“Sanjaya said: Arjuna, having thus spoken on the battlefield, cast aside his bow and arrows and sat down on the chariot, his mind overwhelmed with grief.”
Sanjaya berkata:
Setelah berkata demikian, di medan pertempuran itu, Arjuna duduk terhenyak di keretanya, membuang busur dan anak-anak panahnya, dengan semangat yang diliputi oleh kedukaan
Dalam Upanisad dari Bhagavadgita, ilmu pengetahuan Yang Mutlak, sastra Yoga dan percakapan antara Sri Krsna dan Arjuna, ini merupakan bab pertama yang berjudul ‘Keragu-raguan Arjuna’.

NEXT>>> 
Readmore...

Swami Vivekananda “cyclonic monk from India”

0 komentar
 
Aku Bukan seorang Buddhis, Sebagimana anda mungkin sudah dengar, namun aku memang demikian. Apabila Cina, Jepang atau Srilanka menjadi penganut Ajaran Guru yang agung, India memujanya sebagai penjelmaan Tuhan di dunia. Anda baru saja mendengar bahwa aku akan mengkritik agama Buddha, tetapi dengan itu aku ingin hanya anda mengerti ini. Jauhkanlah aku dari perbuatan mengkritik. Dia yang ku sembah sebagai Tuhan yang menjelma ke dunia. Tetapi pandangan kami tentang agama Buddha adalah ia tidak cukup dimengerti oleh penganut-penganutnya.

Hubungan antara agama Hindu (yang dimaksud adalah agama Veda) dan apa yang disebut agama Buddha dewasa ini adalah hampir seperti hubungan antara Agama Juda dan agama Kristen. Yesus Kristus adalah seorang Yahudi, dan SakyaMuni adalah seorang Hindu. Bangsa Yahudi menolak Yesus Kristus, bahkan menyalibnya dan orang Hindu menerima Sakya Muni sebagai Tuhan dan menyembahnya. Tetapi perbedaan sebenarnya yang kami umat Hindu ingin tunjukan antara agama Buddha modern dan apa yang kami ketahui sebagai ajaran Maharaja Buddha secara prinsip terletak pada bahwa SakyaMuni memberi wejangan hal-hal yang bukan baru lagi.

Sebagaimana Yesus, Dia juga datang untuk menyempurnakan dan bukan untuk menghancurkan. Hanya dalam kasus Nabi isa, orang kunolah yang tidak mengerti Dia. Sedangkan dalah hal Buddha, Pengikutnya sendirilah yang tidak menyadari arti penting wejanganNya. Seperti halnya Bangsa Yahudi tidak mengerti penyempurnaan kitab perjanjian lama, begitu pula orang Buddha tidak mengerti pemenuhan kebenaran agama Hindu.

Sekali lagi aku mengulanginya, Sakya Muni datang bukan untuk menghancurkan tetapi Dialah Si Penyempurna, kesimpulan yang logis, perkembangan logis dari agama orang-orang Hindu. Agama orang Hindu terdiri dari dua bagian, yang bersifat ceremonial dan spritual. Bagian spritualnya khusus dipelajari oleh para pandita. Disitu tidak ada kasta. Seorang dari kasta tertinggi dan seorang dari kasta terendah di India dapat menjadi pandita dan kedua kasta itu menjadi setara, sama tingkatannya. Dalam agama tidak ada kasta, kasta hanya suatu lembaga masyarakat.

Sakya Muni sendiri dulunya seorang Pandita, dan adalah berkat kemuliaannya ia memiliki jiwa besar untuk membeberkan kebenaran yang tersembunyi dalam Veda dan menyiarkannya keseluruh penjuru dunia. Dialah mahluk pertama didunia ini yang menjadikan tugas misionaris dipraktekan-yang, dialah orang pertama yang memikirkan gagasan pewisudaan. Kebesaran yang agung Guru itu terletak pada simpatinya yang luarbiasa pada setiap orang, terutama kepada mereka yang tidak tahu dan yang melarat.

Diantara pengikutnya adalah orang Brahmana, pada waktu Buddha berkotbah, sangsekerta bukan lagi bahasa percakapan di India. Bahasa itu hanya ada dikitab-kitab orang cerdik pandai saja. Beberapa diantara para Brahmana pengikut Buddha itu bermaksud menterjemahkan ajarannya kedalam bahasa sangsekerta, tetapi ia dengan tegas berkata kepada mereka,

“Akulah untuk kaum papa, untuk rakyat, biarkan aku berbicara dalam bahasa raksyat”.
Dan demikianlah hingga hari ini kumpulan ajaran-ajarannya yang tebal itu tetap dalam bahasa sehari-hari di India.Walau bagaimanapun kedudukan ilmu filsafat, betapapun posisi ilmu metafisika, sepanjang ada suatu yang disebut kematian didunia ini, selama ada apa yang disebut kelemahan di kalbu manusia, sepanjang terdengar tangisan dari sanubari manusia pada saat kelemahannya itu maka akan timbul kepercayaan pada Tuhan.

Dari sudut filsafat pengikut guru agung itu membenturkan diri mereka pada batu karang abadi kitab suci Veda tetapi tidak mampu menghancurkannya. Dan dilain pihak mereka mengesampingkan Tuhan yang abadi dari bangsa ini, yang tiap-tiap orang laki dan perempuan mendekapnya dengan penuh kasih sayang. Dan akibatnya adalah agama Buddha mengalami kematian yang wajar di India. Dewasa ini tak seorangpun menyebut dirinya pemeluk agama Buddha di India, negara tempat kelahirannya.

Tetapi pada saat bersamaan, agama Hindu kehilangan sesuatu- keuletan reformasi, rasa simpati yang luarbiasa dan perbuatan baik terhadap setiap orang, sifat-sifat mulia itu yang oleh Agama Buddha diberikan kepada masyarakat umum dan yang menyebabkan masyarakat India menjadi besar, sehingga seorang ahli sejarah Yunani yang menulis tentang India pada waktu itu menyimpulkan bahwa tak seorang Hindu pernah diketahui mengatakan yang tidak benar dan tidak seorang wanita Hindu menjalani kehidupan yang tidak benar.

Agama Hindu tidak dapat hidup tanpa Agama Buddha, demikian pula sebaliknya agama Buddha tidak bisa hidup tanpa Agama Hindu. Kemudian menyadari apa yang diperlihatkan oleh perpisahan ini kepada kita adalah bahwa orang-orang Buddha tidak tahan tanpa otak dan filsafat orang Hindu, sebaliknya orang-orang Hindu tidak bisa hidup tanpa nurani orang-orang Buddha. Perpisahan antara orang-orang Hindu dengan orang-orang Buddha adalah penyebab kehancuran India. Itulah sebabnya India dihuni oleh tiga ratus juta pengemis, dan itulah sebabnya mengapa India menjadi budak para penjajah sejak seribu tahun terakhir ini.

Marilah kita satukan intelektualitas luarbiasa kaum Brahmin dengan sanubari, jiwa yang agung serta kekuatan kemanusiaan yang luarbiasa dari Guru Agung itu.

Dari: Agama Buddha Penyempurna Agama Hindu, Oleh: Swami Vivekananda “cyclonic monk from India”, 26 September 1893, Chicago, Sidang Parlemen Agama Sedunia, September 1893), Terjemahan dan Ulasan: kutip dari Buku Nyoman S. Pendit, Percikan Pemikiran Swami Vivekanda, Cendekiawan Hindu Abad 19, Yayasan Dharma Nusantara, 1993
Readmore...

Vasavattimaradhiraja si Maharaja dari segala Mara

0 komentar
 
Vasavattimaradhiraja yang sekarang menjadi maharaja dari para dewa Mara yang bertinggal di Sorga Paranimmitavasavatti adalah seorang Bodhisatta yang sedang menyempurnakan paramathaparami untuk mencapai Kebuddhaan di masa mendatang. Usaha itu telah dimulainya dalam hitungan asankheyya.

Semasa Sammasambuddha Kassapa muncul di dunia, Maradhiraja terlahir sebagai seorang manusia yang bernama Bodhi. Dia bekerja sebagai Senapati utama dan terpercaya dari Maharaja King-kissa. Karenanya, dia juga dipanggil Bodhisenapati.

Pada suatu hari, Maharaja Kingkissa - yang mempunyai saddha terhadap Buddhasasana - mendengar bahwa Sang Buddha Kassapa sedang masuk ke dalam Nirodhasamapatti yang penuh kebahagiaan selama tujuh hari, di bawah naungan pohon beringin yang amat besar. Mendekati saat keluarnya Sang Buddha dari Nirodhasamapatti, Maharaja berpikir : 'Sang Buddha akan segera mengakhiri samadhi-Nya. Barang siapa mempersembahkan dana pada saat itu, akan mendapat berkah yang besarnya tak terhingga, apapun keinginannya akan tercapai. Saya tak akan menyia-nyiakan saat yang baik ini.' Lalu mengeluarkan perintah dan pengumuman pada rakyatnya.

'Barang siapa mendahului Maharaja mempersembahkan dana pada Sang Buddha sesaat beliau mengakhiri samadhi-Nya, saya akan menghukum pancung orang itu.'

Untuk itu Maharaja memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk menjaga sekeliling pohon beringin dimana Sang Buddha sedang melakukan samadhi.

Bila ada orang yang datang hendak mempersembahkan dana, diperintahkannya untuk ditangkap. Bodhisenapati tahu akan pengumuman itu. Namun, dia - yang mempunyai saddha yang amat kuat dan bijaksana - tetap mempunyai keinginan untuk mempersembahkan dana kepada Sang Buddha sesaat Beliau mengakhiri samadhi-Nya. Dia berpikir bahwa berkah yang didapat amatlah besar. Dia tak akan menyesal walau harus mati karenanya.

Pada keesokan harinya, di saat Sang Buddha akan mengakhiri samadhi, Bodhisenapati bersama istrinya, menyiapkan makanan persembahan dan pergi menemui Sang Buddha.

Demi melihat Bodhisenapati beserta istrinya, para prajurit penjaga bertanya : 'Wahai Tuan Senapati, kenapa Tuan melanggar perintah Maharaja. Bukankah Tuan tahu bahwa Maharaja melarang siapapun mempersembahkan dana kepada Sang Buddha? Maharaja sendirilah yang akan mempersembahkan. Atau mungkin Tuan akan pergi ke tempat lain?'

Mendengar itu Bodhisenapati berpikir : 'Kalau seandainya saya berbohong kepada mereka, atau menasehati Maharaja untuk mengundang Sang Buddha ke istana, tentu mereka akan percaya dan mengikuti nasehat saya. Tapi, saya tak ingin melakukannya. Sebab, dengan berbohong, berkah yang saya dapat tak akan sesuai dengan harapan. Jadi, sebaiknya saya berkata dengan sesungguhnya, walau harus mati karenanya.'

Maka, iapun menjawab : 'Ya, kami akan mempersembahkan dana makanan
pada Sang Buddha.'

Para prajurit itu pun segera menangkap Bodhisenapati dan istrinya. Dan dibawa menghadap Maharaja untuk diadili. Maharaja amat Marah karena dikhianati panglima perangnya dan menjatuhi hukuman pancung terhadap Bodhisenapati dan istrinya.

Kassapa Sammasambuddha tahu semua apa yang terjadi. Dengan mata Kebuddhaan-Nya, Beliau tahu siapa Bodhisenapati. Beliau menaruh metta
padanya.

Beliau segera menciptakan bayangan sendiri untuk tetap tinggal di tempat semula, dan beliau sendiri pergi menemui Bodhisenapati yang sedang menanti dilaksanakannya hukuman pancung terhadapnya. Karena kesaktian-Nya, tak seorang pun bisa melihat kedatangan Beliau selain Bodhisenapati dan istri. Lalu berkata : 'Wahai Bodhisenapati, tetaplah tenang. Tetap pertahankan saddhamu. Jangan menyesali kehidupan ini.
Segera persembahkan dana makanan yang telah kau persiapkan dengan keyakinan yang penuh terhadap Tathagata.'

Demi mendengar itu, keyakinan Bodhisenapati semakin mantap. Dengan saddha dan piti yang telah memenuhi batinnya, dipersembahkannya dana mereka pada Sang Buddha serta mengucapkan panidhana :

'Sang Buddha sebagai guru dan pelindung bagi semua makhluk. Saya telah rela menerima kematian demi mempersembahkan dana makanan ini pada Sang Buddha. Semoga dana persembahan ini menjadi penyebab bagi keinginan saya untuk mencapai pencerahan sebagai Sammasambuddha di masa yang akan datang.'

Sambil mengelus kepala Bodhisenapati, Sang Buddha Kassapa berkata :

'Apa yang kau harapkan akan tercapai. Wahai Bodhisenapati, yakinlah, dimasa yang akan datang kau akan mencapai pencerahan sebagai seorang Sammasambuddha.'

***********

Setelah dalam waktu yang amat lama mengikuti daur kehidupan dan kematian dalam vattasamsara ini, Bodhisenapati terlahir sebagai dewa
Mara, menguasai Sorga Paranimitavasavatti. Dan sempat bertemu dengan Sang Buddha Gotama, yang sebenarnya merupakan kesempatan yang amat baik untuk berbuat kebajikan dan belajar Dhamma pada Buddha Gotama. Namun, kesempatan yang amat baik itu sama sekali tidak dimanfaatkannya. Bahkan, sebaliknya, ia selalu menghambat, menghalang dan mengganggu Sang Buddha; sejak awal usaha untuk mencapai Kebuddhaan, hingga menjelang akhir dari kehidupan Sang Buddha. Sebagai dewa puthujana yang amat sakti namun dikuasai oleh kilesa, dengan sombongnya ia menguji dan menghalangi kegiatan Sang Buddha Gotama yang penuh metta. Namun, segala perbuatan jeleknya itu tak (sampai) bisa digolongkan sebagai garuka kamma yang menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam neraka Avici, seperti Bhikkhu Devadatta yang telah melukai Sang Buddha dan memecah belah Sangha.

Kiranya, perbuatannya itu bisa diibaratkan sebagai seorang anak nakal atau durhaka yang selalu tak menyetujui dan melawan orang tuanya. Dan ternyata, Sang Buddha pun tak pernah meramalkan sesuatu yang jelek pada dewa Mara seperti kepada bhikkhu Devadatta.

Rupanya, kenakalan dewa Mara muncul kembali manakala ia tahu ada seseorang yang berusaha melestarikan dan mengembangkan Dhamma secara
murni.

Itu terbukti saat Asoka Maharaja akan mengadakan peresmian dan perayaan atas terselesaikannya pemugaran candi-candi Buddha di India, kurang lebih 200 tahun setelah Sang Buddha parinibbana. Ia berusaha mengganggu dan menggagalkan perhelatan besar itu. Namun, kenakalannya itu bisa diredam oleh Upagupta Thera, yang membuat dewa Mara jera dan menyesal. Kembali mengucapkan adhitthana untuk menjadi Sammasambuddha.

*********

Menjelang diadakannya perhelatan peresmian dan perayaan atas berhasilnya pemugaran candi-candi Buddha dan pelestarian Buddhasasana yang diprakarsai oleh Asoka Maharaja, para bhikkhu Arahat dan menguasai Abhinna, berkumpul diketuai oleh Moggalliputta Tissa Thera. Mereka membicarakan tentang maksud dewa Mara yang akan datang mengganggu dan menghalangi terlaksananya perhelatan tersebut. Walaupun para bhikkhu itu telah mencapai Kearahatan dan menguasai Abhinna, namun mereka merasa tak seorang pun mampu mengalahkan kesaktian dewa Mara. Mereka mengetahui dengan mata dewa mereka, hanya seorang bhikkhu yang mampu mengatasi dewa Mara. Dia adalah Kisanaga Upaguta Thera juga disebut Upagupta Thera ) yang saat itu berdiam di dasar samudera Hindia.

Sang Buddha pernah meramalkan bahwa di masa yang akan datang akan muncul seorang bhikkhu bernama Upagupta yang akan meredam kejahatan dewa Mara dengan kesaktiannya yang membuat Mara sadar akan kesalahannya.

Upagupta Thera adalah seorang bhikkhu yang amat sederhana dan lebih suka tinggal sendiri di tempat-tempat yang hening. Tak suka berkumpul beramai-ramai. Dia suka mengembara di hutan-hutan, juga di samudera.
Bila tinggal di dasar laut, ia akan menciptakan kuti dari kaca, dan tinggal sendiri dengan tenang dalam jhana samapatti berlama-lama. Tanpa makan dan minum. Hingga badannya amat kurus. Karenanya, ia dinamakan bhikkhu Kisanaga Upagupta.

Pasamuan Sangha memutuskan mengirim dua orang bhikkhu mengundang bhikkhu Upagupta untuk mengatasi gangguan dewa Mara.

Maka dalam sekejap, dua bhikkhu sakti itu telah tiba dihadapan bhikkhu Upagupta. Setelah saling tegur dengan Dhamma patisanthara, bhikkhu
utusan itu berkata:

'Avuso Upagupta, kami diutus oleh Pasamuan bhikkhu mengundang Anda untuk ikut membantu terlaksananya perhelatan kita. Kami dengar Mara akan datang menggagalkan maksud kami. Sangha menugaskan Anda untuk mengatasi Mara. Kami harap Anda tak menolak tugas ini.'

Bhikkhu Upagupta pun menjawab :

'Baiklah Avuso, saya menyanggupi tugas ini. Sekarang silakan Avuso pergi lebih dulu. Saya segera akan menyusul.'

Maka, menghilanglah kedua bhikkhu itu dari hadapan Upagupta Thera dan muncul kembali di tengah-tengah Pesamuan para bhikkhu. Tapi, apa yang mereka lihat? Ternyata bhikkhu Upagupta telah tiba lebih dulu. Duduk dengan tenangnya di hadapan Moggalliputta Tissa Thera.

Keesokan harinya, bhikkhu Upagupta pergi pindapata, menerima dana makanan dari para upasaka-upasika. Kala itu Asoka Maharaja melihat bhikkhu Upagupta yang bertubuh amat kurus, merasa ragu-ragu : 'Dewa Mara terkenal amat sakti. Mungkinkah orang sekurus bhikkhu Upagupta itu mampu mengalahkan kesaktian dewa Mara?' Untuk meyakinkan dirinya, ia ingin menguji kemampuan bhikkhu kurus itu. Maka, dengan segera ia memanggil pengawalnya dan memerintahkan membuat mabuk seekor gajah istana yang besar dan dilepas menghadang perjalanan bhikkhu Upagupta.

Sang gajah dengan liar dan ganasnya segera menyerang bhikkhu Upagupta.

Melihat itu, Upagupta Thera segera masuk ke dalam metta jhana dan mengirimkan getaran metta ( cinta kasih ) pada gajah yang sedang mabuk itu, membuat sang gajah tersadar dari keadaan mabuknya. Kembali menjadi gajah istana yang perkasa tapi jinak dan manis. Dengan lembutnya, ia menekuk kaki depannya dan bernamakkara di hadapan Upagupta Thera. Upagupta Thera mengelus kepala si gajah lalu dengan tenang meneruskan perjalanan.

Perhelatan yang konon dilaksanakan selama tujuh tahun, tujuh bulan dan tujuh hari itu dibuka langsung oleh Maharaja Asoka dengan hati yang tenang karena ia yakin pada kemampuan bhikkhu Upagupta.

Perayaan itu dibuat amat meriah dan mewah. Lampu-lampu hias dan penerangan amatlah indah dan cemerlang. Terutama lilin-lilin, bunga-bunga serta dupa pemujaan di altar Sang Buddha ditata begitu indahnya. Sabda-sabda Sang Buddha dilantunkan kembali oleh para bhikkhu dengan suara yang teratur dan merdu. Suasana benar-benar sakral dan menyejukkan hati. Rakyatpun amat bersuka hati dengan diadakan keramaian itu. Raja yang dermawan dan bijaksana itu berhasil merebut hati rakyatnya dengan penerapan Dhamma yang benar.

----------
(Pengabdian Asoka Maharaja terhadap Buddhasasana bukan hanya pemugaran
candi-candi Buddha di India. Namun, juga mendukung diadakannya Sangayana yang ketiga. Mendukung pengiriman para Dhammaduta ke luar negeri. Yang terkenal diantaranya yaitu, putra-putrinya sendiri, Mahinda Thera dan Sanghamitta Theri yang dikirim ke Sri Langka. Mahinda Thera mengadakan Sangayana disana. Sementara Sanghamitta Theri mendirikan Sangha Bhikkhuni. Dan, Dhammaduta yang diketuai oleh Sona Thera dan Uttara Thera yang menyebarkan Dhamma ke Burma, Thailand dan sekitarnya, sempat mampir ke pulau Jawa sejenak. Namun, karena perjalanan ke tenggara itu amat berat, tak seorang bhikkhuni pun menyertai sebagai Dhammaduta sehingga tidak terdapat Sangha Bhikkhuni di tempat yang dikunjungi Sona Thera dan Uttara Thera).
--------------

Namun, perhelatan yang memang telah direncanakan amat meriah dan menarik itu, ternyata masih ditambah dengan suatu pertunjukan seru dan mengerikan yang tak diduga sebelumnya. Membuat suasana semakin meriah. Itu disebabkan oleh ulah dewa Mara yang merasa tak senang atas berhasilnya pemugaran candi-candi Buddha dan kini sedang dirayakan. Hatinya merasa gatal melihat kejayaan Buddhasasana.

Dengan segera ia turun dari Sorga Paranimitavasavatti dan menciptakan badai, angin puyuh yang dahsyat menyapu segala perlengkapan perhelatan yang telah diatur sedemikian indah. Melihat itu, Upagupta Thera segera masuk jhana dan ber-adhitthana menghentikan badai dahsyat itu dan mengembalikan segala sesuatu yang telah porak poranda ke tempatnya semula. Dewa Mara terkejut dan merasa terhina demi melihat lawannya hanyalah seorang bhikkhu yang bertubuh amat kurus dan jangkung. Dia merubah diri menjadi seekor kerbau hutan yang amat besar dan ganas. Mengamuk dan merusak barang-barang di sekitarnya. Lalu berlari menubruk hendak melumat tubuh bhikkhu Upagupta.

Sang Thera mengubah diri menjadi seekor harimau yang jauh lebih besar dari kerbau hutan itu. Langsung menerkam dan menangkap si kerbau, membuat si kerbau menguak dan meraung kesakitan. Harimau besar tidak juga melepaskan kerbau yang telah tak berdaya itu, membuat Mara semakin marah dan mengubah diri menjadi seekor naga. Meronta, membebaskan diri dan menyemburkan api beracun menyerang harimau besar. Dengan cepat harimau itu mengubah diri menjadi seekor garuda yang amat besar. Menyambut serangan nagaraja dengan paruhnya yang menganga lebar.

Maka, berlagalah kedua makhluk dahsyat itu dengan serunya. Segala jurus dan usaha dari nagaraja untuk membelit dan menundukkan raja garuda selalu gagal. Dengan lincah dan ligatnya garuda menghindar dan membalas serangan sang naga. Api berbisa yang berkobar-kobar pun seolah-olah bagaikan angin sepoi-sepoi dirasakan garuda.

Akhirnya, sang garuda berhasil menangkap leher naga dengan paruhnya. Diterkamnya tubuh sang naga dengan cakarnya yang besar dan tajam serta
dibawa terbang ke udara. Dalam keadaan yang tak berdaya, badan sang naga terombang-ambing di udara lalu dihempaskan kembali ke bumi. Mara semakin gusar dengan kekalahan yang membawa siksa ini.

Ia segera mengubah diri menjadi raksasa yang amat besar dengan taring yang mengerikan. Tangan kanannya menggenggam gada pemukul sebesar pohon kelapa. Meraung-raung menyerang garuda. Namun, garuda pun segera berubah menjadi raksasa pula. Badannya lebih besar dan kedua tangannya
memegang gada pemukul pula. Menyambut serangan raksasa Mara. Saling
serang, saling mengelak. Bumi pun berdentam-dentam akibat hempasan kaki kedua raksasa. Pukulan-pukulan raksasa Mara sering tidak mengenai sasaran bahkan kalau mengena pun seolah tak dirasa oleh raksasa ciptaan Sang Thera. Namun, pukulan raksasa ciptaan Sang Thera terasa amat menyakitkan di tubuh maupun hati raksasa Mara. Tubuhnya terasa remuk redam dan hatinya pun merasa amat sakit dan pilu menerima setiap pukulan yang mengena.

Dewa Mara teringat saat bersama pasukannya menyerang Sang Buddha.
Semua senjata yang dilontarkan menyerang tubuh Buddha Gotama berubah
menjadi rangkaian besar bunga yang indah memayungi Sang Buddha. Pasukannya mundur tersapu badai. Sang Buddha membalas serangan-serangan dahsyat Mara dengan metta. Beliau sama sekali tidak
membalas serangan dengan siksaan seperti yang diterimanya sekarang. Bhikkhu Upagupta - murid Sang Buddha itu - telah membuatnya benar-benar tak berdaya dan tersiksa. Tubuhnya kembali menjadi dewa Mara, terpuruk lemas di hadapan Sang Thera yang berdiri dengan tenangnya.

Sebenarnya, ia ingin mengerang dan merintih karena rasa sakit disekujur tubuhnya. Namun, perasaan angkuh yang masih menguasai dirinya membuatnya bungkam seribu basa. Rupanya, penderitaan yang dialaminya
itu belum mampu menghancurkan kesombongan dan keangkuhan yang selama ini menjadi kebanggaannya. Dengan pasrah ia menunggu apa yang akan
terjadi selanjutnya pada dirinya, karena memang tak mampu berbuat selain dari itu.

Dengan kesaktiannya, Upagupta Thera menciptakan bangkai anjing yang telah berbau sangat busuk dan berulat. Lalu dikalung-kan pada leher dewa Mara serta ber-adhitthana : 'Tak seorang pun, dewa bahkan brahma yang mampu melepas bangkai anjing ini dari lehermu.'

Dewa Mara pun amat terkejut mendengarnya. Kesombongan dan keangkuhan
kembali mengendalikan batinnya. Dengan marahnya ia terbang mencari pertolongan pada dewa Catumaharajika. Namun, dewa-dewa Catumaharajika
hanya bisa menjawab :

'Tuanku, Tuan saja yang lebih sakti dari kami tak mampu melepasnya. Apalagi kami.'

Begitupun ketika minta pertolongan pada dewa-dewa yang lebih tinggi dari dewa-dewa Catumaharajika, seperti Yamadhiraja dan lain-lain. Mereka menjawab :

'Tuanku, Tuan saja yang lebih sakti dari kami tak mampu melepasnya. Apalagi kami.'

Mendengar jawaban itu, ia tak segera putus asa. Ia terbang menemui dewa Brahma bahkan Maha Brahma untuk minta pertolongan melepas bangkai anjing yang menjijikkan itu dari lehernya.

'Wahai Maha Brahma yang sakti dan baik hati, tolong lepaskan bangkai anjing ini dari leher saya. Bangkai anjing ini semakin lama semakin busuk saja.'

'Sayang sekali, dewa Mara. Bukannya kami tak mau menolong Anda. Tapi, sebenarnyalah, tak seorang pun dewa atau Brahma di tiga alam ini yang
mampu melepas bangkai yang menghiasi leher Anda itu. Hanya ada satu
orang yang mampu melakukannya.'

'Katakanlah Tuan, siapa yang mampu melakukannya?' tanya dewa Mara penuh harap. Tapi, jawaban Maha Brahma membuatnya berkecil hati kembali.

'Dia adalah Upagupta Thera, Buddhasavaka yang telah mencapai Kearahatan dan mempunyai Chalabhinna.'

'Murid Gotama itu telah menyiksaku. Tolong nasehatkan padaku, apakah aku harus merengek-rengek padanya? Maha Brahma, saya merasa keberatan berhadapan muka dengannya. Hendak ditaruh dimanakah muka saya ini?'

'Wahai dewa Mara. Kami nasehatkan, kembalilah padanya. Sang Thera adalah seorang yang penuh metta seperti Buddha Gotama gurunya. Atau Anda menunggu hingga Sang Thera Parinibbana? Lalu, siapa pula yang mampu melepas bangkai itu dari leher Anda? Apakah Anda menghendaki perhiasan itu selama hidup Anda?'

Maka, dewa Mara pun berpikir : 'Baiklah! Kalau memang hanya bhikkhu itu yang mampu melepaskannya, aku akan pergi padanya. Bila telah terbebas dari bangkai menjijikkan ini, aku akan pergi dan tak ingin melihat mukanya lagi.'

Setelah berpamitan, maka ia kembali ke dunia menemui bhikkhu Upagupta.

Bhikkhu Upagupta duduk samadhi di kaki gunung Himalaya, seolah sedang menunggu kedatangan dewa Mara. Dewa Mara duduk di hadapan Sang Thera,
menunggu dengan tertibnya.

'Dewa yang baik, kau telah kembali rupanya. Kemana saja selama ini?' tegur Sang Thera. Mendengar pertanyaan ini, makin guguplah ia, seperti seorang anak nakal yang ditegur ayahnya.

'Bhante, lepaskanlah bangkai ini dari leher saya.' Hanya itu yang diucapkannya. Sang Thera pun tahu bahwa dewa sakti itu masih tetap
dikuasai kesombongan dan keangkuhan.

Bhikkhu Upagupta berdiri. Melolos ikat pinggangnya serta melemparkannya pada dewa Mara. Ikat pinggang itu memanjang di udara, jatuh tepat di tubuh dewa Màra, membelit, mengikat tubuh dewa Mara.
Tubuh yang telah terikat erat dan tak bisa berkutik itu dijinjing oleh Sang Thera, dibawa terbang menuju puncak gunung Himalaya.

'Lebih baik kau beristirahat di sini selama perhelatan yang diadakan Asoka Maharaja berlangsung. Dengan begini, kau tak bisa mengganggunya,' kata bhikkhu Upagupta sambil mengikat tubuh dewa Mara pada puncak Himalaya. Dan Sang Thera pun beradhitthana : 'Tak seorang pun, dewa bahkan Brahma yang akan mampu melepaskanmu.' Dan ditinggalnya Mara terikat sendirian di atas sana selama tujuh tahun, tujuh bulan dan tujuh hari. Alangkah menderitanya dewa malang itu. Ia hanya bisa mengerang, mengeluh dan meronta tanpa bisa melepaskan diri.

*******

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun. Akhirnya, tiba pula saatnya perayaan meriah itu paripurna. Bhikkhu Upagupta pergi ke tempat dewa Mara terikat sedang merenungi dan meratapi nasibnya tanpa bisa dilihat oleh dewa Mara. Sang Thera sengaja tak menampakkan diri agar bisa tahu apakah dewa Mara telah jera atau belum.

Mara yang tahu bahwa hari itu adalah hari berakhirnya perhelatan besar, yang berarti akan terbebaskannya dirinya dari derita setelah tujuh tahun lebih harus berkalungkan bangkai anjing busuk dan badan terikat erat tak bisa beranjak kemana pun.

Baru kali ini dia punya kesempatan merenungkan semua tindakan dan tingkah laku yang salah di masa lalu. Dalam keadaan tak berdaya, batinnya bisa berpikir dengan jernih. Bukan dia yang terhebat di dunia ini!

Dia teringat, karena pikiran usilnya, mengganggu Buddha Gotama yang tak pernah berbuat salah padanya, dengan segala macam cara. Sammasambuddha Gotama yang telah mencapai kesucian tertinggi, terbebas dari nafsu, dia umpan dengan anak-anak gadisnya yang cantik menggairahkan.

Sammasambuddha Gotama yang menguasai segala kesaktian, dia serang
dengan kekuatan penuh, dengan pasukan dan senjata lengkap. Sang Buddha
mengalahkannya tanpa menyakitinya, tanpa menyiksanya. Keusilannya belum cukup sampai di situ. Kemudian, ia meminta Buddha Gotama untuk segera memasuki Parinibbana. Begitupun ketika Buddhasasana, karya Sang Buddha berjaya, iapun merasa tak senang. Sang Buddha tak pernah mempunyai urusan dengannya. Buddhasasana pun tak pernah menyusahkannya. Tapi, kenapa pula ia mencari perkara terhadap orang yang tak bersalah. Kenapa pula ia usil terhadap orang yang tak pernah mengusilinya.

Dan kini, karena ulahnya itu, ia terkena batunya. Ia harus tersiksa karenanya. Murid Buddha Gotama yang muncul dua ratus tahun setelah Sang Buddha Parinibbana itu telah memberinya pelajaran yang amat berharga, walau terasa amat pahit. Membuat mata hatinya terbuka lebar. Membuatnya sadar, betapa jahatnya dirinya, betapa usilnya dirinya, betapa bodohnya dirinya.

Mengingat itu semua, dia merasa amat malu pada dunia. Dia merasa amat
malu pada Buddha Gotama. Dia merasa amat malu pada bhikkhu Upagupta.
Dan lebih dari itu semua, ia merasa amat malu pada diri sendiri. Dia menyesali diri sendiri yang telah buta terhadap kebaikan. Mengabaikan kesempatan yang amat langka.

Akhirnya, ia merasa amat marah terhadap dirinya sendiri. Giginya mengatup, menggeretak. Dengan geram ia meronta. Dihentakkannya kakinya beberapa kali ke tanah. Bumi pun berguncang. Salju pun pecah bertebaran, berserakan menggelinding ke bawah mengikuti aliran sungai Gangga.

Setelah melampiaskan kemarahan yang mengganjal di dada, Dewa Mara merasa lilih, tenang. Pikirannya menjadi semakin jernih.

'Alangkah beruntungnya aku bertemu dengan bhikkhu Upagupta yang mampu
menyadarkan diriku. Apa yang terjadi bila tak seorang pun mampu mengajarku. Tentu aku akan tetap tersesat pada kejahatan. Tapi, akan lebih baik lagi bila aku mampu mencapai pencerahan sebagai Sammasambuddha yang penuh welas asih, sebagai pelindung dan guru dari semua makhluk' pikirnya.

Maka, di kesunyian puncak Himalaya yang amat dingin dan penuh salju,
dengan lantangnya dewa Mara, penguasa sorga Paranimmitavasavatti itu,
ber-adhitthana : 'Wahai alam semesta dan seisinya, saksikanlah, aku, Maradhiraja penguasa sorga Paranimmittavasavatti, sejak saat ini,
menyatakan diri berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha, bertekad
akan berusaha menyempurnakan parami untuk mencapai penerangan sempurna
sebagai Sammasambuddha, pelindung dan guru bagi semua makhluk.'
Sesudah menguncarkan adhitthana itu, batinnya dipenuhi oleh ketenangan
dan kebahagiaan. Ketenangan dan kebahagiaan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Tiba-tiba, muncullah Upagupta Thera di hadapannya. Dengan malu-malu dewa Mara menegur Sang Thera : 'Bhante, berarti sejak tadi Bhante telah berada di sekitar tempat ini.'

'Benar, dewa yang baik. Saya tahu apa yang Anda perbuat dan mendengar
apa yang Anda katakan. Maka dari itu, ijinkan saya menyampaikan hormat
saya pada Anda, seorang Bodhisatta.'

'Tapi, Bhante dengan begitu kejamnya telah menyiksa saya. Saya tak ingin menjadi seorang Arahat seperti Bhante, karena saya tak ingin ada orang tersiksa seperti saya. Saya ingin menjadi Sammasambuddha yang penuh welas asih.'

Dengan tersenyum geli, Upagupta Thera berkata :

'Dewa yang baik, janganlah Anda mendendam pada saya. Karena kamma kita
di masa lampau, kita berdua harus sering bertemu dan saling menyakiti. Tapi, dalam kehidupan ini, sayalah yang menang dan berhasil mengingatkan Anda kembali ke jalan yang benar. Itu tugas akhir saya terhadap Anda. Bukankah kita tak akan bertemu lagi pada kehidupan yang akan datang? Karenanya, harap Anda memaafkan saya bila Anda merasa tersiksa karenanya. Jadi, bukan karena saya tak mempunyai welas asih. Tapi, semata-mata karena kewajiban yang harus saya lakukan.'

'Bhante benar. Tak ada lagi hutang piutang diantara kita. Saya merasa amat berterima kasih pada Bhante yang telah menolong saya untuk kembali ke jalan yang benar. Dan Bhante ..., telah terlalu lama saya menderita begini. Tolong bebaskanlah saya sekarang. Saya telah rindu pada kebahagiaan sorgawi di istana saya' pintanya.

Bhikkhu Upagupta memejamkam mata sejenak, sambil mengatupkan kedua telapak tangan di dada. Maka, terurailah ikat pinggang yang membelit
tubuh dewa Mara, melayang di udara, menjadi pendek seperti semula dan
jatuh tepat di tangan Sang Thera. Bangkai anjing di leher Mara pun lenyap seketika.

Dewa Mara menarik napas dengan lega. Dia merasa amat kagum pada kesaktian Sang Thera, murid Sang Buddha. Kalau muridnya saja begitu sakti, bagaimana pula dengan Sang Buddha. 'Sebelum Anda kembali ke tempat Anda, bolehkah saya meminta sesuatu pada Anda?' tanya Upagupta Thera setelah membebaskan dewa Mara.

'Tentu, Bhante. Apakah yang harus saya perbuat untuk Bhante?'

'Wahai dewa Mara. Dalam satu hal, saya merasa kurang beruntung. Saya dilahirkan jauh sesudah Sang Tathagata parinibbana. Karenanya, saya tak pernah bertemu dan melihat langsung bagaimanakah rupa dari Guru saya tersebut. Dalam hal ini Anda lebih beruntung dari pada saya. Anda pernah bertemu dan melihat langsung Sang Buddha. Saya harap Anda mau mengubah diri Anda menjadi Sang Buddha agar saya dapat melihat bagaimanakah Guru saya itu. Itulah permintaan saya.'

'Baiklah, Bhante. Tapi, dengan satu syarat yang harus Bhante penuhi. Bila saya telah mengubah diri menjadi Sang Buddha, janganlah Bhante namakkara pada saya. Saya tak sanggup lagi menerima buah kamma buruk karenanya,' kata Mara penuh kekhawatiran.

'Baiklah,' jawab Sang Thera.

Maka, Mara mengubah diri menjadi Buddha Gotama, lengkap dengan Mahapurisalakkhana (tiga puluh dua ciri-ciri Kebuddhaan). Berjalan dengan anggunnya diiringi oleh murid-murid utamanya.
Setelah cukup lama memperhatikan dengan seksama, dengan penuh hormat,
Upagupta Thera melakukan namakkara di hadapan Sang Buddha.

Dengan segera lenyaplah pemandangan Sang Buddha beserta murid-muridnya, berganti dengan dewa Mara yang sedang berdiri dengan muka cemberut memandang Sang Thera.

'Mengapa Bhante mengingkari janji? Mengapa Bhante namakkara pada saya?
Lalu, buah kamma apa lagi yang akan saya terima karenanya? Dulu saya telah banyak berbuat jahat pada Sang Buddha. Dan saya harus tersiksa dengan badan terikat di puncak Himalaya ini,' kata Mara dengan penuh kecemasan.

'Janganlah anda cemas. Saya tak mengingkari janji. Bhikkhu Upagupta tidak melakukan namakkara pada dewa Mara. Saya melakukan namakkara pada Sang Buddha, guru saya. Hal itu sama sekali tak berpengaruh pada anda. Anda tidak akan menerima akibat buruk karenanya. Terima kasih atas kebaikan anda. Kini, silakan kembali ke tempat Anda di sorga Paranimmitavasavatti. Sayapun akan kembali ke senasana saya di laut selatan. Selamat tinggal, dewa Mara.' Maka lenyaplah Sang Thera dari pandangan dewa Mara.

Dewa Mara pun segera kembali ke sorga Paranimmitavasavatti, tingkatan
sorga yang tertinggi di antara sorga para dewa.

Kini, Maradhiraja yang biasa dikenal sebagai dewa Mara, masih bertinggal di sorga Paranimmitavasavatti sebagai seorang Bodhisatta yang sedang menghimpun Dasaparami. Kelak, di kappa yang akan datang, dewa Mara akan berhasil mencapai penerangan sempurna sebagai seorang Sammasambuddha. Sebagai satu-satunya Sammasambuddha di kappa tersebut.
Akan disebut Sammasambuddha Dhammasami, yang mempunyai amat banyak
murid yang berhasil mencapai kesucian.Kappa dimana kini kita hidup, mempunyai paling banyak Sammasambuddha, yaitu lima orang Sammasambuddha.
Readmore...

Karma

0 komentar
 
KARMA

Karma (Sanskerta: karma) berarti perbuatan. Karma merujuk pada perbuatan berkehendak yang kita lakukan dengan tubuh, ucapan, dan pikiran kita melalui berbuat, berkata, dan berpikir. Karma adalah kaidah bahwa setiap perbuatan yang dilakukan, jika kondisinya sesuai, akan menghasilkan akibat tertentu.

Bagaimana Karma Bekerja?

Semua perbuatan meninggalkan jejak atau benih pada kesadaran kita, yang akan masak menjadi pengalaman-pengalaman kita ketika kondisi yang sesuai muncul. Sebagai contoh, jika kita menolong seseorang dengan hati yang tulus, perbuatan ini akan meninggalkan jejak-jejak positif dalam arus pikiran kita. Ketika kondisinya memadai, jejak ini akan masak dalam bentuk kita menerima pertolongan tatkala kita membutuhkannya.

Benih-benih Karma terus mengikuti kita dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Bagaimanapun juga, jika kita tidak menciptakan sebab-sebab atau Karma untuk terjadinya sesuatu, kita tidak akan mengalami hasilnya. Jika kita tidak menanam benih tertentu, tanaman tidak akan tumbuh. Buddha mengajarkan:

Sesuai benih yang ditabur,
begitulah buah yang dituai.
Pelaku kebaikan akan meraih hasil yang baik,
Pelaku keburukan akan memetik hasil yang buruk.
Jika engkau menanam benih yang baik,
engkau akan menikmati buah yang baik.

Apakah Pengaruh Karma?

Karma mempengaruhi kelahiran kita yang akan datang dan mempengaruhi apa yang kita alami selama hidup ini: bagaimana orang lain memperlakukan kita, kekayaan kita, status sosial kita, dan sebagainya. Karma juga mempengaruhi kepribadian dan watak kita, bakat kita, perilaku kita, dan kebiasaan kita. Jenis lingkungan tempat kita dilahirkan juga dipengaruhi oleh Karma.

Kita yang sekarang ini sesuai dengan apa yang telah kita lakukan. Kita yang akan datang sesuai dengan apa yang tengah kita lakukan. (ehipassiko)

Ada Jenis Karma Apa Saja?

didalam Bhagavad-Gita disebutkan yaitu Karma, Akarma dan Vikarma.

Karma merupakan perbuatan/aktivitas yang pada umumnya kita lakukan sehari-hari, yang batasnya hanyalah di lingkungan baik dan buruk. Tidak lebih dari pada batas itu. Jika Kita berbuat baik, akan menghasilkan pahala baik, jika kita berbuat buruk, perbuatan tersebut akan mengantarkan orang pada hasil atau pahala buruk pula.
Lebih jauh…, perbuatan buruk akan mengantarkan kita ke alam-alam bawah, atau neraka-neraka dengan pembagiannya yang sangat rapi, siapa berbuat apa akan pergi kemana dan mendapatkan siksaan macam apa selama berapa waktu, entah ke alam bawah bernama Tala, Tala-Tala dan lain lain yang banyaknya berjumlah tujuh jenis, atau kalau orang berbuat baik akan mendapatkan hasil-hasil baik, berupa pahala-pahala yang mengantarkan mereka menuju alam-alam lebih tinggi yang dinamakan surga (yang berjumlah tujuh tingkat).
Terhadap Karma baik yang mengantarkan orang-orang dapat pergi dan menikmati pahalanya di surga-surga tersebut Shri Krishna memberikan kesimpulan "ksine punye", bahwa kapan pahala perbuatannya habis dinikmati di Surga, maka ia akan kembali lagi menjelma ke dunia ini (martya-lokam visanti). Ia harus kembali lagi mengulangi dan mengalami berbagai kesengsaraan yang telah ia alami berulangkali didalam penjelmaan-penjelmaan sebelumnya.

Akarma, adalah perbuatan yang tidak berbuat, atau tidak berbuat didalam berbuat. Karma dalam tingkat ini dinamakan Visuddha Karma, yaitu perbuatan/aktivitas yang tidak lagi menghasilkan buah baik atau buruk, melainkan ia mengantarkan orang kepada alam di luar Surga-Surga, yaitu alam pembebasan, alam Vaikuntha, alam yang telah sepenuhnya bebas dari segala jenis kecemasan dan keragu-raguan. Seperti mengorbankan dirinya (tubuh pikiran ucapan) untuk pembebasan.

Vikarma, adalah perbuatan yang dianjurkan oleh kitab suci untuk tidak dilakukan. Ada orang yang tanpa usaha keras dapat menjauhkan dirinya dari perbuatan-perbuatan tidak baik, tetapi ada pula orang yang memerlukan bantuan kitab-kitab suci untuk memberikan wanti-wanti dan arahan kepada dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak baik. Acharya Shridhara menunjuk perbuatan Vikarma pada pengertian perbuatan Adharma, yaitu perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama, moral spiritual.
Resi Daksa memberikan 9 (sembilan) jenis perbuatan yang dikelompokkan kedalam Vikarma, antara lain :
1.Anritam karma, yaitu perbuatan yang penuh berada dalam kebohongan, perbuatan yang tidak berada didalam kebenaran. Tegasnya, Anritam karma adalah perbuatan penuh kebohongan.
2.Paradara karma, yaitu perbuatan berselingkuh dengan istri orang/wanita lain.
3.Abhaksya-bhaksanam karma, artinya memakan makanan yang dilarang oleh kitab-kitab suci, atau makanan-makanan yang menjatuhkan kesehatan, sifat keagamaan dan spiritualitas.
4.Agamyagamanam karma, menggauli wanita bermoral rendah, atau wanita yang sedang tidak boleh digauli sesuai dengan adat-tradisi atau bahkan istri sendiri selama masa tertentu.
5.Apeyapanam karma, yaitu meminum minuman terlarang.
6.Steyam karma, yaitu kegiatan mencuri.
7.himsa karma/Hingsanam karma, dimaksudkan adalah perbuatan kekerasan, menyakiti yang lain termasuk binatang tanpa alasan yang dibenarkan kitab-kitab suci.
8.Asrautrakarmacaranam karma, berarti perbuatan yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Veda.
9.Maitradharmabahiskritam karma, adalah tidak melakukan sembahyang atau kewajiban spiritual sehari-hari. Terhadap jenis Nomor 9 ini, beberapa komentator berpendapat bahwa ia bukanlah merupakan kegiatan yang dilarang, melainkan kegiatan yang melanggar petunjuk-petunjuk kitab suci.

Samsara ada karena proses karma, terhentinya Samsara terhentinya karma. bagaimana menghentikan Karma adalah tersadarkan sepenuhnya untuk berbuat tanpa terikat hasil.
N. Dwipayana
Readmore...
/*